Home / Sport / Bali terima ekses Penutupan Dolly

Bali terima ekses Penutupan Dolly

Bagikan Halaman ini

Share Button

psk-dollyFoto : PSK Dolly
 

 

MORAL-POLITIK.com- Saat ini tercatat 1.448 pekerja seks perempuan di mana 168 di antaranya positif HIV. Kawasan ini telah ditutup Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini.

Walaupun penutupan itu diiringi dengan pembinaan namun siapa yang menjamin mereka akan berhenti dengan profesinya.

Melansir balebengong.net, penutupan lokalisasi harus mempertimbangkan dampak yang dapat ditimbulkannya. Secara umum kita berpikir dengan menutup lokalisasi tersebut dan memulangkan para PSP maka permasalahan akan selesai. Tidak ada lagi prostitusi di daerah tersebut sehingga penyebaran penyakit kelamin dapat berkurang.

Apakah benar seperti itu?

Melakukan penutupan secara tergesa-gesa tanpa perhitungan malah dapat menimbulkan dampak berkepanjangan. Para pekerja seks perempuan (PSP) dapat saja bekerja secara terselubung sehingga sulit dideteksi lagi. Mereka akan sulit untuk diberikan pengobatan sehingga dengan mudah menularkan berbagai penyakit.

Kesulitan sangat terasa pada upaya penanggulangan HIV di mana pekerja seks sebagai populasi kunci memiliki tingkat mobilitas tinggi. Belum selesai diterapi dengan anti retroviral (ARV) mereka sudah menghilang dan putus obat. Akibatnya, pengobatan cendrung gagal dan resisten.

Keadaan ini tentu mempersulit dalam upaya mengatasi penyebaran HIV.

Mulai menyebar
Kejadian HIV-AIDS yang dimulai tahun 1987 di Bali kini kasusnya terus saja meningkat secara signifikan. Di Provinsi Bali telah tercatat 3.659 kasus HIV. Sebagian besar ditularkan lewat hubungan heteroseksual.

Sebagai daerah tujuan wisatawan tentu kawasan wisata Bali mulai waspada terhadap penyebaran pekerja seks menyerbu Bali.

Penutupan Dolly tentu akan berdampak pada meningkatnya eksodus pekerja seks ke Bali yang jaraknya cukup dekat. Apalagi Bali sebagai kawasan wisata yang menarik untuk mencari uang. Upaya mengatasi penyebaran pekerja seks sebagai populasi kunci dalam penanggulangan AIDS perlu dilakukan.

Baca Juga :  Pemkot Cepat Tanggap Masalah Jajanan Sekolah

Mereka akan selalu ada namun yang diperlukan adalah upaya pembinaan bukan pembinasaan. Selama ini yang menjadi faktor tumbuhnya kawasan prostitusi seringkali dikaitkan dengan faktor ekonomi. Upaya meningkatkan ekonomi masyarakat dengan berdasarkan cara yang benar inilah yang perlu dikembangkan programnya.

Sekarang ini yang sedang berkembang adalah bisnis seks terselubung seperti cewek orderan, panti pijat esek-esek, café yang menyediakan layanan seks. Kegiatan prostitusi tidak langsung ini sulit untuk dibina sehingga program kesehatan sulit untuk menjangkaunya. Karena mereka bukan pekerja seks yang mudah dideteksi.

Inilah masalah perilaku sakit masyarakat yang perlu dibenahi. Mengubah perilaku masyarakat tentunya tidak mudah. Namun upaya pembinaan perlu terus dilakukan mulai lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pekerja seks harus mendapatkan akses yang baik ke layanan kesehatan.

Mereka juga perlu diberi pemahaman dampak kesehatan akibat dari perilakunya. Tentu saja kepada para pelanggan pekerja seks agar mulai berhati-hati dan menggunakan kondom.

Penutupan lokalisasi bisa saja dilakukan asalkan diiring dengan pembinaan yang baik pada para pekerja seks. Sebagai pemerhati kesehatan masyarakat kita mesti berusaha melakukan upaya preventif dalam mencegah penyebaran HIV-AIDS.

Upaya promosi kesehatan serta pencegahan spesifik dengan sosialisasi kondom perlu dilakukan. Deteksi dini dan Pengobatan yang tepat pada penderita juga diperlukan.

(erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button