Home / Sport / Belis Salah Satu Faktor Picu KDRT di NTT

Belis Salah Satu Faktor Picu KDRT di NTT

Bagikan Halaman ini

Share Button

Libby-SinlaeloeFoto : Libby Ratuarat

 

 

 

MORAL-POLITIK.com- Belis dibaratkan bagaikan pedang bermata dua, yang sangat besar dampaknya terhadap keutuhan keluarga. Pasalnya, faktor belis sering menjadi penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga karena pihak laki-laki pemberi belis biasanya menganggap telah membeli  gadis yang diajak menikah.

Di NTT, Pernikahan sering menjadi hal yang rumit. Bukan hanya soal ritual dan tata cara adat,  namun belis atau mahar (bride price) bagi pihak calon isteri yang disediakan oleh pihak calon suami sudah seperti membeli calon istri dari keluarga. Sehingga ketika terjadi kekerasan sang suami merasa tidak bersalah karena sudah membeli istrinya dengan harga yang cukup mahal, dan layak diperlakukan semaunya saja,” kata Direktris Rumah Perempuan Libby Ratuarat, saat membawah materi pada acara diskusi terbatas saat ini berkaitan dengan program kelurahan model, dan berkaitan juga dengan dampak belis bagi keluarga dan berpotensi untuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kelurhan Nefonaek Kecamatan Kota Lama, Kamis (04/09/2014)

Kegiatan diskusi terbatas ini, diselenggarakan oleh Lembaga Rumah Perempuan Kupang, dengan peserta dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, Rt/Rw dan para kelompok ibu-ibu.

Ia mengatakan, belis sebenaranya merupakan budaya asli dari beberapa suku di NTT, namun dampak dari belis dianggap oleh keluarga pembeli sebagai membeli calon pengantin.

“Memang tidak semua menganggapnya seperti itu, tetapi budaya ini sering menjadi penyebab utama KDRT,” kata Libby.

Sementara itu Daniel  perwakilan Suku Rote mengatakan belis merupakan suatu penghargaan kepada orang tua dari keluarga perempuan. Belis di suku Rote sangat berfariasi atau berbeda karena di suku Rote sendiri terdapatdi  18 kerajaan. Untuk itu pada saman sebelumnya harga belis masih dalam bentuk pemberian Hewan (kerbau, Kambing, domba, dan sapi).

Baca Juga :  Pemprop Gelontorkan 4 M, Bebaskan Lahan Bendungan Kolhua

“Belis merupakan penghargaan jadi dapat di wujutkan dari faktor sosial oleh keluarga pemberi belis. Namun saat ini sudah ada  larangan tertentu jika terjadi pembayaran belis yang sangat tinggi  telah berubah dari bentuk dari Hewan ke harga rupiah,” pungkas dia.

Ia menambahkan, pada zaman dahulu ketika telah membayar belis oleh keluarga laki-laki maka akan di adakan acara  kampung  dan si perempuan sudah bisa di bawa oleh keluarga laki-laki kerumahnya, Tetapi saat ini sudah tidak lagi berlaku aturan seperti pada masa lalu, di tekankan lewat pemerintah bahwa keluarga perempuan tidak saja hanya menerima tapi harus juga memberi untuk menekan dampak belis diberi oleh kelaurga laki-laki.

“Balasan belis dari kelaurga perempuan sesuai tekanan pemerintah tersebut, agar bisa ada timbal balik, sehingga keluarga perempuan tidak hanya menerima saja tetapi harus membalasnya.Maka itu dampak KDRT yang terjadi atas dampak belis, harga belis tidak dapat menjadi faktor KDRT tetapi kadang KDRT terjadi karna Faktor Ekonomi.,” kata dia.

(nyongky)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button