Home / Populer / Ini Pesan Natal di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang

Ini Pesan Natal di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang

Bagikan Halaman ini

Share Button
P1040047RD Vincent Tamenab kala memberikan Hostia Kudus kepada Umat di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (25/12/14). (Foto: vjb)

 

 

MORAL-POLITIK.COM- Natal memang merupakan satu momen yang paling khas, khusus dan istimewa bagi seluruh Umat Kristiani tanpa kecuali, karena momen Natal selalu membawa perubahan yang amat besar dalam hidup.

“Biasanya menjelang Natal, segala sesuatu dalam waktu singkat turut berubah. Penampilan berubah, situasi berubah, relasi berubah. Toko-toko jadi ramai, jalan jadi macet, Gereja jadi penuh, pengakuan dosa semakin banyak. Natal selalu membawa warna tersendiri bagi kita semua,” kata RD Vincent Tamenab dalam khotbah (homili) pada Misa Natal, Kamis (25/12/2014) di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang.

RD. Vincent menuturkan, setelah kita melewatkan pergantian dalam masa Adven, Natal mengajak kita, sekali lagi dalam hidup keimanan kita, untuk memahami arti kedatangan Tuhan. Cinta Tuhan seemikian besar, Ia mengutus Putranya untuk hidup bersama kita, mengalami segala pergolakan hidup kita, menjadi dekat dalam kedirian kita, mengalami apa yang kita alami, Ia merasakan apa yang kita rasakan. Ia mendengar apa yang kita bicarakan. Ia melihat apa yang kita lakukan. Ia mengerti dan menyertai dalam tiap perjalanan hidup kita. “Dan Sabda Tuhan yang diperdengarkan kepada kita pada hari ini, adalah satu penegasan akan penyertaan Tuhan kepada kita manusia. Sabda telah menjadi daging dan tinggal diantara kita.

Kesadaran ini, kata RD. Vincent lebih lanjut, membuat kita bersyukur atas segala wujud yang kita alami dalam seluruh perjalanan hidup kita. Tentu semuanya tidak terlepas dari suka dan duka, kegembiraan, dan keseihan, kebahagiaan dan kegelisahan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu untaian mutiara hidup. Tuhan tidak pernah meninggalkan apalagi melepaskan kita begitu saja. Sebab Ia Emanuel, Allah yang selalu menyertai kita. Ia ada dalam setiap pengalaman hidup kita.

Baca Juga :  KPI menegur sejumlah TV terkait penyiaran kurang mendidik

“Patut kita akui, bahwa dalam perjalanan waktu dari dua ribuan tahun yang silam hingga saat ini, penghayatan kita akan makna Natal yang sesungguhnya semakin pudar dan terkikis. Natal hanya identik dengan keramaian, hingar-bingar dan hiruk pikuk, sementara kesepian, kesendirian, keterbatasan, kekurangan dinilai sebagai hal-hal yang justru mengurangi semarak Natal. Jika ini yang ada dalam benak kita, maka sesungguhnya kita telah menjauhkan Yesus dari hidup kita. Sebab makna Natal yang sesungguhnya adalah peristiwa dimana Allah dengan kasihnya yang amat besar relah datang dalam situasi dan kondisi hidup kita yang riil. Kerelaan Allah untuk menjadi manusia (Sabda menjadi daging) adalah untuk turut mengalami situasi hidup kita),” kata RD. Vincent bersemangat.

Kisah kelahiran yang ditampilkan oleh Penginjil Lukas dalam misa, kata dia menambahkan, Malam Natal adalah sebuah gambaran konkrit terhadap situasi hidup kita. Bahwa justru karena keterbatasan, kekurangan dan kelemahan kita, Ia rela datang untuk kita. Namun kedatangan Tuhan sebagai manusia dalam hidup kita, tidak berarti Ia mengambil kendala atas seluruh hidup kita.

“Persoalan hidup kita akan tetap kita hadapi, tetapi bahwa cinta dan kebaikan Tuhan akan selalu menuntun dan menyertai kita. Maka Firman telah menjadi manusia dan tinggal diantara kita dapat dihayati sebagai berikut: Pertama, Firman Tuhan selalu menjadi pelita hidup yang memberi inspirasi untuk menghadapi dan melewati hidup dengan harapan dan gembira. Firman Tuhan harus mampu memberi pengertian untuk melihat dan merasakan bahwa aneka persoalan hidup yang kita hadapi dalam hidup bukanlah musuh yang melumpuhkan kita, melainkan sahabat yang membantu pertumbuhan iman kita,” kata dia lagi.

Kedua, tambahnya, bagaimana Sabda itu selalu mengubah dan memampukan kita sehingga kehadiran kita menjadi Sabda Hidup Sendiri (Kehadiran kita harus sungguh-sungguh menampakkan Wajah Kristus, kehendak Kristus dalam seluruh kesaksian hidup kita.

Baca Juga :  Indonesia Dijajah Kemiskinan, Kebodohan dan Narkoba?

“Ketiga, bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal diantara kita hanya bisa terwujud jika kita punya kesediaan untuk membuka diri dan membiarkan Firman itu tinggal dalam hati kita, atau dengan kata lain, Kristus hanya akan tinggal dalam hati kita jika kita punya kesediaan untuk membuka diri dan membiarkan terlahir dalam ruang hati kita,” pungkas RD. Vincent.

 

Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button