Home / Populer / “Nasib Buruk” Penerbangan Malaysia di 2014

“Nasib Buruk” Penerbangan Malaysia di 2014

Bagikan Halaman ini

Share Button
nasibCEO AirAsia Tony Fernandez (tengah), Direktur Utama AirAsia Indonesia Sunu Widiatmoko (kanan), dan kepala Basarnas Surabaya Hernanto (kiri), dalam konferensi pers di Bandara Juanda, Surabaya, Minggu (28/12/2014) malam, setelah pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 hilang kontak pada Minggu pagi.
MORAL-POLITIK.COM- Situs The New York Times edisi Minggu (28/12/2014) waktu setempat, menayangkan satu tulisan terkait hilang kontaknya pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 pada hari itu.

Dalam tulisan berjudul “2014 Proves a Grim Year in Malaysian Aviation”, diungkapkan soal tiga kecelakaan pesawat penerbangan, yang ketiganya berasal dari maskapai berbasis di Malaysia. (Baca juga: Tiga Insiden Penerbangan dalam Setahun, Tiga Pesawat Terkait Malaysia)

Ketiga kecelakaan tersebut–Malaysia Airlines MH370, Malaysia Airlines MH17, dan AirAsia QZ8501–menjadi tiga kecelakaan penerbangan paling mematikan menurut Flight Safety Foundation yang berbasis di Alexandria, Virginia, Amerika Serikat.

“Saya tidak melihat ada kesamaan (di antara tiga kecelakaan itu),” kata John Cox, salah satu pakar keamanan penerbangan dan pernah menjadi kapten pilot di maskapai Amerika yang sekarang menjadi CEO industri konsultan soal sistem keamanan operasi berbasis di Washington.

Melansir kompas.com, menurut Cox, ketiga insiden penerbangan itu sama sekali berbeda, yang terjadi pada maskapai dengan rekam jejak keamanan yang sama-sama baik. “Benar-benar hanya nasib buruk dan keberuntungan yang buruk saja yang telah menghantam mereka (Malaysia Airlines dan AirAsia),” ujar dia.

Cox mengatakan dia pernah menerbangkan A320–pesawat yang dipakai QZ8501–selama enam tahun. Menurut dia, pesawat ini punya rekor panjang soal keamanan.

Menteri Pertahanan Malaysia yang juga Plt Menteri Perhubungan negara itu, Hishamuddin Hussein pun kehilangan kata-kata begitu mendapat kabar soal insiden AirAsia QZ8501. “Saya tidak bisa mempercayainya,” ujar dia yang juga menangani hilangnya MH370 dan MH17 ini, lewat akun Twitter, Minggu.

Baca Juga :  Kunjungan DPRD NTT, Pemkot Kupang: Perhatikan Jalan Provinsi dan Negara

Terlebih lagi, kesusahan Malaysia juga tak hanya datang dari langit. Hilangnya pesawat AirAsia ini terjadi ketika negara tersebut juga sedang berhadapan dengan musim penghujan terburuk sejak bertahun-tahun. Banjir karena hujan itu telah menyebabkan lebih dari 160.000 orang mengungsi dan 10 orang sudah dilaporkan meninggal.

Musibah penerbangan terkait Malaysia dan banjir ini pun sontak membuat beberapa orang Malaysia menulis di media sosial bahwa mereka sedang diuji Tuhan. “Ini waktu untuk kita bersatu, sejenak berhenti, untuk merenung dan berdoa,” tulis pemilik akun Twitter bernama Adibah Noor. “Tuhan sedang mengirimkan kepada kita begitu banyak tanda peringatan.”

(erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button