Home / Sastra / Ketika Bersua Bulan Kembar di Alor

Ketika Bersua Bulan Kembar di Alor

Cerpenis Vincentcius Jeskial Boekan di Pantai Batu Nona, Kota Kupang.

Bagikan Halaman ini

Share Button

 

MORAL-POLITIK.COM : Senja mulai temaram, burung-burung walet terbang riang mengelompok ke peraduannya di selah-selah bebatuan tinggi besar di Pulau Pura.

Laut di Pantai Makasar, Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor tenang. Sesekali bergelombang lantaran beberapa nelayan mengarungi laut hendak memancing dan menjala ikan. Lamat-lamat mentari hengkang ke peraduannya di Pulau Pura.

Dua jam sudah Bean duduk menyendiri di atas dermaga kecil di samping restaurant Pesisir. Dia sangat menikmati indahnya alam. Namun, karena wisatawan yang datang masih jauh dari impian praktisi kepariwisataan, dicobanya memeroleh impian baru yang kuasa menggelitik hasrat jutaan wisatawan mancanegara dan domestik menapaki kaki di pulau-pulai kecil dan besar yang berdiri kokoh, sexi dan cantik karena ditumbuhi pohon-pohon besar nan hijau.

Alasannya, keindahan alam harus dijamah manusia berduit, tak boleh diperawankan terus-menerus. Dia harus jadi sumber berkat bagi Alor.

Wajar. Sebab di depan matanya ada pulau Nuha Kepa. Di belakang pulau Nuha Kepa ada Pulau Pura, yang menjulang tinggi terasa mendekati langit yang dihiasi awan putih menggumpal-gumpal indah. Di belakang Pulau Kepa dan di samping Pulau Pura, ada Pulau Pantar yang memanjang jauh. Di samping Pulau Nuha dan di antara laut biru, ada Pulau Ternate. Di samping Pulau Pantar, ada Pulau Buaya (tak ada buaya, bentuknya saja bak buaya). Di arah timur jauh dipandang mata ada Pulau Treweng. Dan di samping kiri dipisahkan laut ada Pulau Alor; letaknya di kecamatan Alor Barat Daya.

“Pak…, maaf mengganggu! Apakah tak berhasrat mencoba gurihnya ikan baronang atau kerapu bakar segar-segar?” sapa seorang gadis hitam manis sembari tersenyum lugas.

Bean terjaga, berusaha menyambut senyum itu tapi si gadis terus mengejarnya:

Baca Juga :  Puisi: "Mawar Ketakutan"

“Bagaimana, pak?”

“Ah, jangan menyapaku Pak, usiaku tak terpaut jauh denganmu! Sapa saja Bean, atau Bang!” katanya, lalu menyodorkan tangan.

Agak tersipu malu gadis itu menyodorkan tangannya sembari berujar datar:

“Widya.”

“Wao…, sebuah nama yang indah! Sama indahnya dengan pantai, laut dan pulau-pulau di sana,” ujar Bean.

Widya tersipu-sipu malu sembari memerbaiki rambut hitam lebat yang berponi itu.

“Kalau Bang ingin mencicipinya, silahkan mampir ke restaurant Pesisir,” Widya kembali mengajaknya. “Maaf,” dia melanjutkannya santun, “aku mau melaut ke Pulau Kepa,” terangnya, kemudian mengayuhkan langkah ke dermaga, lalu masuk ke dalam sebuah sampan kecil.

< 1 2 3 4 5>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button