Home / Populer / Polda NTT semarakan CFD Kota Kupang (3)

Polda NTT semarakan CFD Kota Kupang (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button
seksiAparat Polda NTT beserta istri semarakan arena CFD Kota Kupang. (Foto: vjb)

 

 

MORAL-POLITIK.com– Lain padang lain belalangnya. Lain Polisi lain Poldanya. Polisi di wilayah Polda NTT boleh dibilang berbeda dengan di daerah lainnya. Terpantau mereka cukup menyatu dengan masyarakat, jika ada satu atau dua hal berarti itu bernama kasuistik dan perbuatan person semata-mata.

Seperti yang terjadi di arena Car Free Day (CFD) Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), polisi-polisi ini menunjukkan kepionerannya dengan menggagas, menyemarakan dan mengawal jalan dan lancarnya aktivitas-aktivitas pada arena di bilangan Jalan Raya El Tari ini, mulai dari bibir Kantor Gubernur NTT hingga ke bibir Kantor Polda NTT.

Bahkan satu hal yang patut dicontohi, mereka datang bersama keluarganya (istri/suami/pacar/putra-putrinya). Bisa dibayangkan jikalau setiap hari Sabtu tanpa kehadiran aparat Polda NTT, khususnya dari Polres Kupang Kota ini. Bagaimana jadinya arena CFD yang justru telah memersolek wajah mereka yang berkompetensi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi jalannya aktivitas roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan itu?

Saya pribadi yang tak pernah mengenal satu batang hidungpun aparat Kepolisian, lamat-lamat menjadi familiar. Tegur sapa, mengobrol dan berguyon sudah menjadi bumbu penyedap aktivitas di CFD. Menarik memang–sebab–hidup yang sudah susah mengapa mau dipersusah lagi?

Simpul saya, sama halnya dengan anak-anak dalam rumah tangga, ada yang manis, ada juga yang sedikit nakal. Tapi kesemuanya tetap bernama anak. Tugas orangtua untuk membinanya. Menggunakan rotan juga bukanlah masalah–sebab–bukankah mutiara berada di ujung rotan?

Jikalau saya punya sedikit kompetensi untuk boleh mengajukan usulan, dipastikan akan mengajukan telaahan staf untuk aparat Polda NTT, khususnya di Polres Kupang Kota, diberikan penghargaan sesuai dengan kelaziman yang berlaku di dalam tubuh Polri.

Baca Juga :  Jokowi aman, Prabowo dan ARB terus menjajaki koalisi

Andaikan itu tak memungkinkan sama sekali, anggap saja tulisan ini sebagai telaahan staf kepada mereka yang berkompetensi untuk memertimbangkannya. Jikalau tidak pun, saya tetap bergembira–sebab–setidak-tidaknya saya punya mimpi–walau ini dikatakan sebagai mimpi di siang bolong. Sebab–mimpi siang dan mimpi malam sekalipun, kesemuanya tetap bernama mimpi.

 

Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan (Novelis)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button