Home / Populer / “Belajar Pariwisata di Arena CFD Polresta Kupang Kota”

“Belajar Pariwisata di Arena CFD Polresta Kupang Kota”

Bagikan Halaman ini

Share Button
sepuluhPenulis mengenakan hem putih. (Foto: moral-politik.com)

 

 

MORAL-POLITIK.COM- Mungkin saja diksi dari judul artikel ini cukup mengusik kenyamanan pikir pihak-pihak yang merasa paling berkompoten untuk berpikir, berencana, berlaksana, dan berefaluasi kepariwisataan di Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada khususnya, dan di NTT pada umumnya.

Akan tetapi diksi tersebut dipilih lantaran melalui suatu proses ilmiah yang bernama observasi selama hampir tiga bulan lamanya, dimulai dari dibukanya arena Car Free Day (CFD) di Jalan Raya El Tari, Kota Kupang oleh Kapolda NTT dan Wali Kota Kupang Jonas Salean pada awal Desember 2014 yang lalu.

Fakta empiris bertelanjang bugil, ketika Sabtu pagi-pagi buta tiba, bersamaan dengan curahan sinar mentari dari Negara Timor Lezte sana, aparat Polresta Kupang Kota sudah siaga di sepanjang jalan, mulai dari bibir jalan di samping Kantor Polda NTT hingga ke bibir jalan di Kantor Gubernur NTT. Mereka menutup jalan dan mengarahkan para pengendara kendaraan bermotor dan mobil tak boleh mengusik ruas jalur yang ditutup hingga dibuka kembali pada pukul 09.00 Wita.

cfd9Polwan Polda NTT sedang berlatih sebelum ditempatkan.

Bukan hanya itu. Aparat Polresta Kupang Kota malah membawa sebuah mobil pick up yang telah dilengkapi dengan peralatan tape dan pengeras suara yang cukup mahal harganya.

Semuanya menjadi sempurna manakala datanglah ratusan anggota Polresta Kupang Kota, baik pria maupun wanita dengan berpakaian olahraga. Mereka berkumpul di samping mobil tersebut sembari mendengar alunan musik dan mengobrol ringan dengan sesama teman lainnya. Tak tahu persis apa yang diobrolkan. Namun batinku berkata, pasti tak jauh-jauh dari geliat perpolitikan nasional, atau soal dunia keamanan dan ketertiban di Kota Kasih, atau Kota Karang, sebagai julukan lain untuk Ibukota Provinsi NTT ini.

Baca Juga :  Rapat Sunpro di Kec. Rana Mese : Modal Rp 500 ribu, hasilkan Rp 50 juta !
delapanPenulis mengenakan hem putih.

Tidaklah sulit untuk membangun komunikasi dengan mereka. Pada kelompok yang mengamati anjing mahal (Milik Polda NTT), aku sambangi lalu mengobrol soal anjing. Pada kelompok yang duduk di sekitar buah kelapa muda, aku mengobrol soal kelapa muda. Pada kelompok yang bersepeda, aku lempar obrolan mulai dari harga sepeda hingga ke bagaimana agar bisa tembus jalan mendaki di samping Rumah Sakit Umum Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang. Sedangkan pada kelompok yang tampak bola-bola matanya buram, aku ajak mengobrol soal bagaimana menyiasati arena CFD agar semakin banyak warga Kota Kupang yang datang mengisi dengan beragam bakat dan ketrampilannya. Sedangkan pada kelompok yang tampaknya masih bujang, aku ajak mengobrol soal cantiknya Polwan di sekitar CFD.

empatPenulis mengenakan topi.

Tak sampai dua minggu lamanya, suasana beku pun mencair. Kami saling bertegur sapa jika berpapasan di arena CFD atau pas bersua dimana saja.

Manakala alunan musik mulai memecah heningnya pagi, beramai-ramai datang berkumpul dengan kelompok Polresta Kupang Kota, lalu membentuk formasi, kemudian dibawa tuntutan seorang yang sangat dipercayai, mulailah bergoyang ria sembari mengeluarkan suara jikalau pas untuk melakukannya sebagai bentuk penambah semangat.

merah2

Pernah sekali terjadi, seorang wanita bule sembari menggendong bocah putra dan suaminya yang tampak orang NTT, datang dan bergabung untuk ikut bergoyang ria. Dari semua goyangan, mereka cukup hafal gerakan tarian Ja’i. Sehingga pikirku, suaminya dari Kabupaten Ngada.

Pada suatu ketika aku bersua Mr Gram Garyemigrae. Tokoh ini adalah Warga Negara Australia yang tinggal di Jalan Raya El Tari. Dia bergerak di Bidang Kepariwisataan. Cara kerjanya mulai dari mempromosikan usahanya melalui internet kepada warga dunia. Daerah tujuan yang ditawarkan adalah Kabupaten Alor dan Rote Ndao.
Mr Gram tidak bergerak sendiri. Dia bersama putranya yang biasa disapa Donovan. Mereka memiliki sebuah kolam renang kecil di Jalan Raya El Tari yang dipergunakan sebagai tempat berlatih Diving atau Snorkeling sebelum diterjunkan ke obyek yang diincar.

Baca Juga :  Demo di LBH Jakarta, tuding ada kegiatan PKI

 

Pernah dia bercerita bahwa NTT kaya akan obyek dan daya tarik wisata (ODTW), semisal di Alor. Oleh karenanya dia mengajak wisatawan berduit untuk diving, snorkeling, susur pulau, dan jalan-jalan menikmati keindahan matahari terbenam sebagai aktivitas yang sangat mengasyikan. Kenikmatan itu ditemui di Pulau Alor karena bukan saja perut lautnya yang memesona, tapi ada banyak pulau-pulau kecil yang bertengger molek di sepanjang Laut Alor.

merah1Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man (rambut putih)

Benar sekali apa yang dituturkan Mr Gram. Sekali peristiwa aku berkesempatan bertugas ke Kabupaten Alor, waktu itu kebetulan masih Pegawai pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTT. Kususuri Pantai Alor lalu menemui sebuah tempat molek untuk melepaskan penat. Ada banyak inspirasi yang lahir di sana. Serta merta aku pun menulis sebuah Cerpen lalu dikirim ke Pos Kupang. Cerpen itu ada terpampang di akun Facebook-ku, dan ada juga di Grup FB komodonews.info, judulnya Mencari Bulan Kembar di Alor. Silahkan dibaca dan mengkritiknya.

Kembali pada persuaanku dengan Mr Gram, kutanyai dia soal CFD dari sudut pandangnya. “Sudah bagus, tapi lebih bagus lagi jika digeser ke Hari Minggu. Mungkin yang perlu diatur lagi adalah soal aktivitas di seputaran Gereja yang dekat dengan Kantor Polda NTT agar tak mengganggu jalannya ibadat di sana. Sebab pada Hari Sabtu bukanlah hari libur umum, masih ada kantor yang buka, toko-toko juga dibuka, menyebabkan kurang banyak orang yang datang ke CFD,” katanya.

merahPemred Erny Frida Ndolu (Topi Merah)
Mr Gram juga menuturkan perihal perlunya ditata ulang acara di CFD agar tersebar-sebar sepanjang ruas jalan, jangan mengumpul di dekat kelompoknya Polresta Kupang Kota, menyebabkan suara musiknya bias, laksana sedang beradu alat musik saja.

Benar juga apa yang dikatakan Mr Gram. Sebab semua kelompok merasa berhak untuk memanfaatkan arena ini. Mereka datang dengan membawa peralatan musiknya lalu mencari tempat yang nyaman untuk bisa eksis. Ada yang berjalan-jalan lalu duduk bareng sembari mengobrol enak sesuai dengan isi otaknya masing-masing.

Baca Juga :  Dinilai Gratifikasi, Walikota Kupang bisa diproses hukum
P1040834  Aksi simpatik Satuan Lalu Lintas Polresta Kupang Kota di Valentine Day, Sabtu (14/2/2015)

Lalu, pertanyaan pamungkasnya, apakah arena CFD Kota Kupang ini bisa tidak dijadikan sebagai salah satu ODTW? Ada pihak-pihak tertentu yang berkompoten untuk menjawabnya. Aku hanyalah warga Kota Kupang biasa yang karena berdarah sebagai penulis, makanya momentum di CFD kupakai sebagai salah satu sumber inspirasi untuk mencipta rangkaian-rangkain kata menjadi kalimat panjang, sepanjang alam pikiranku memandang nun jauh di seberang sana.

 

By vincentcius jeskial boekan (novelis)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button