Home / Populer / Inilah Ekspresi Jokowi menurut Pakar Forensik Emosi

Inilah Ekspresi Jokowi menurut Pakar Forensik Emosi

Bagikan Halaman ini

Share Button
emosPresiden Joko Widodo menggelar jumpa pers di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/1), meminta agar jangan ada gesekan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri. Presiden sempat salah menyebut Plt Kepala Polri yang dikoreksi menjadi Wakil Kepala Polri. Ekspresi wajah Presiden ketika itu masih memendam amarah.

 

MORAL-POLITIK.COM- Empat minggu terakhir, suasana politik terus gaduh. Kisah berawal ketika Presiden Joko Widodo mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Namun, tanpa diduga, tiga hari pasca pencalonan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Budi sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi.

Kegaduhan memuncak. Kompas mengajak pembaca melihat sisi lain dari kegaduhan tersebut lewat ekspresi wajah Presiden Jokowi terkait tokoh lainnya. Ekspresi dilihat lewat analisis micro expression (ekspresi detail) dan cepat pada wajah seseorang.

Peneliti Paul Ekman, profesor ilmu psikologi yang khusus melihat ekspresi manusia, menyebutkan, ada tujuh emosi universal. Tujuh tanda emosi universal itu adalah kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Emosi ini spontan muncul tanpa bisa dikontrol dan disadari.

Melansir kompas.com, dalam rentang 23-29 Januari lalu, Handoko Gani, kandidat master science di bidang forensik emosi di Paul Ekman International Group dan University of Central Lancashire, Manchester, Inggris, coba meneliti ekspresi Jokowi lewat analisis ekspresi detail dan cepat.

Ekspresi marah

Jumat (16/1), saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan Budi, yang ditetapkan DPR sebagai Kepala Polri pada Kamis (15/1), alis matanya turun, sorot mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, dan kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu.

Itulah untuk pertama kali Presiden merespons secara resmi penetapan Budi sebagai tersangka oleh KPK. Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Adrianus Meliala, yang datang ke Istana dan ditanya wartawan mengatakan, ada pihak yang kehilangan muka karena keputusan KPK.

Baca Juga :  Aksi Protes Saksi Prabowo di TPS, Pengacara: bukan soal menang kalah!

Menurut Handoko, pernyataan Adrianus mengonfirmasi ada pihak yang marah.

Menoleh ke Abraham

Jumat (23/1), Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang jumpa pers, alis Jokowi dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik.

Ada yang menarik. Presiden sempat beberapa kali menoleh ke arah Ketua KPK Abraham Samad di sisi kanan belakangnya. Hal serupa justru tak dilakukan ke Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti.

”Presiden ingin menyampaikan pesan pertemuan itu membicarakan KPK,” kata sarjana ekonomi dan Master of Business Administration itu.

Abraham datang ke Istana Bogor setelah penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto di Kota Depok. Waktu itu, netizen ramai mengecam penangkapan BW sebagai upaya kriminalisasi KPK. Kecaman itu dibarengi dengan maraknya tanda pagar (tagar) #whereareyoujokowi di media sosial. Publik mempertanyakan sikap Jokowi.

Saat memberikan keterangan, Presiden berkata, ”Sebagai kepala negara, saya minta KPK dan Polri memastikan proses hukum obyektif dan sesuai peraturan undang-undang.” Presiden melanjutkan, ”Sebagai kepala negara, saya meminta agar institusi Polri dan KPK tak terjadi gesekan saat menjalankan tugasnya.”

Penggunaan kepala negara dua kali dalam kalimat itu menegaskan kepada publik bahwa Jokowi tak hanya presiden. ”Presiden ingin persuasif menyelesaikan persoalan,” tutur pemimpin perusahaan di bidang jasa konsultasi karakter dan emosi itu mengartikan kata-kata Jokowi.

Intervensi dan Kriminalisasi

Sabtu (24/1), saat wawancara dengan Kompas di Kantor Presiden, mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga mantan Wali Kota Solo itu menekankan bahwa KPK dan Polri harus diselamatkan, harus lebih dewasa sebagai institusi, dan menghormati semua proses hukum tanpa harus ada intervensi Presiden.

Baca Juga :  Polisi tetapkan Rizieq Shihab sebagai tersangka dugaan penistaan Pancasila

Menariknya, Jokowi berkata, ”Jangan ada yang sok di atas hukum.” Saat bicara kedua bahunya diangkat.

Ekspresi wajah Presiden juga tampak dominan saat menyebut kata ”KPK”. Menurut Handoko, Presiden memperlihatkan ekspresi sangat tak suka ketika menyebut ”intervensi.” Sebab, Presiden tak ingin melakukan itu. Itu ditunjukkan dengan ujung bibir kiri tertarik ke belakang.

Minggu (25/1), saat bersama tim independen di Istana Merdeka, Presiden tiga kali menyebutkan jangan ada kriminalisasi. Saat mengucapkan ”kriminalisasi”, bibir atas tertarik ke atas mendekati hidung dan pangkal hidung tertarik ke atas. Terlihat kerutan horizontal di pangkal hidung. Saat sama, pangkal hidungnya naik membentuk kerutan.

Hipotesis Handoko, Jokowi sangat tidak ingin lembaga penegakan hukum dikriminalisasi. Inilah yang membuatnya marah.

Segera selesai

Kamis (29/1), di Istana Bogor, Jokowi bertemu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto. Pertemuan itu menyita perhatian publik. Kedua tokoh sempat melempar senyum lepas. Soal prakarsa pertemuan, menurut Prabowo, dirinya dan Presiden memang sama- sama ingin bertemu setelah pertemuan pertama di rumah Prabowo, 17 Oktober 2014.

Di akhir pertemuan, sambil melempar senyum kepada pers, Presiden menyampaikan kata ”ditunggu”. Namun, saat kata itu diucapkan, jempol dan telunjuknya dikatupkan ke arah pers.

Kata ”ditunggu” tampaknya punya makna ’sabar’ yang seharusnya diikuti dengan gerakan jari tangan membuka. ”Ada pesan yang ingin disampaikan Presiden bahwa kasus ini segera akan selesai,” ujar Handoko.

Presiden tampaknya memang ingin segera menyelesaikan masalah itu. Dan kini rakyat menunggu kapan keputusan itu diumumkan.

(erny)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button