Home / Populer / Bos Instran menilai Ahok Terlalu Banyak Berwacana

Bos Instran menilai Ahok Terlalu Banyak Berwacana

Bagikan Halaman ini

Share Button
wacanaPelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat memamerkan kartu tanda pengenal (ID) baru di Pemprov DKI. ID itu tersambung dengan rekening Bank DKI, dan dapat digunakan untuk transjakarta dan KRL. Rencananya, ID itu akan digunakan untuk seluruh PNS yang berada di lingkungan Pemprov DKI. Foto ini diambil Selasa (8/7/2014).

MORAL-POLITIK.COM- Dalam upaya mengurangi kemacetan di Jakarta, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dinilai terlalu banyak berwacana ketimbang realisasi. Hal tersebut disebabkan sampai sejauh ini belum ada satu pun wacananya di bidang transportasi yang bisa direalisasikan.

Hal yang paling disoroti adalah layanan bus transjakarta, terutama yang terkait dengan rencana pengadaan bus buatan Eropa dan sterilisasi jalur transjakarta (busway). “Gubernur Ahok masih banyak terbatas pada wacana saja dalam pembenahan transportasi di Jakarta. Belum ada hal konkret yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas kepada Kompas.com, Kamis (26/2/2015).

Melansir kompas.com, pada rencana pengadaan bus baru, Darmaningtyas menganggap kinerja PT Transjakarta (TJ) lamban. Sebab, dari sejak terbentuk pada 27 Maret 2014 sampai hari ini, perusahaan tersebut belum juga dapat merealisasikan wacana-wacana Ahok yang berniat mendatangkan bus-bus baru buatan Eropa.

“Transisi dari UPT ke PT TJ ternyata tidak semulus yang diucapkan. Dulu katanya dibentuk BUMD agar geraknya bisa cepat, tetapi ternyata sama saja,” ujar pria yang akrab disapa Tyas itu.

“Bus transjakarta Koridor 2-7 yang seharusnya sudah harus diganti karena sudah lebih dari tujuh tahun sehingga busnya sekarang sudah uzur dan tidak nyaman, juga belum ada tanda-tanda diremajakan,” tambahnya.

Untuk sterilisasi jalur transjakarta, Tyas menyoroti wacana Ahok yang hendak menerapkan busway berbayar untuk kendaraan pribadi. Ia menilai rencana tersebut sangat kontras dengan harapan dari masyarakat pengguna transjakarta yang telah lama mengidam-idamkan perjalanan bus yang lancar tanpa hambatan.

Baca Juga :  Praduga Apabila Kasus "BG" Dilimpahkan ke Polri dan Kejaksaan

“Sampai saat ini, busway belum ada satu pun yang steril. Wacana Ahok itu contoh buruk dan patut diberi nilai minus 5 karena itu sama saja membuyarkan konsep busway,” ucap Tyas.

Ia beranggapan, belum adanya pembenahan yang signifikan terhadap layanan bus transjakarta itulah yang menyebabkan terjadinya penurunan penumpang transjakarta. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh PT Transjakarta pada ulang tahun layanan transjakarta ke-11 pada 15 Januari yang lalu, tahun 2011 menjadi tahun puncak jumlah penumpang tertinggi dengan 114,7 juta penumpang.

Setelah itu, jumlah penumpang bus transjakarta tak pernah lagi mencapai angka tersebut. Pada 2012, jumlah penumpang transjakarta hanya mencapai 111,2 juta. Pada 2013, jumlah penumpang sempat mengalami penambahan menjadi 112,5 juta. Namun, pada 2014, jumlahnya turun menjadi 111,6 juta.

“Selama tiga tahun lebih, termasuk 100 hari bersama Wagub Djarot, kalau disuruh memberikan nilai, saya beri nilai minus 5, bukan 5 karena layanan transjakarta mengalami kemunduran dibandingkan dengan pada masa Sutiyoso (Gubernur DKI yang merintis layanan transjakarta) dulu,” pungkas Tyas.

(erny)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button