Home / Populer / Kapolres dan Wakapolres Kupang Kota Mewarnai Arena CFD (3)

Kapolres dan Wakapolres Kupang Kota Mewarnai Arena CFD (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button
P1050045        Kapolres Kupang Kota AKBP Musni Arifin, SIK dan Wakapolres Kompol Yulian Pardana, SIK meninggalkan arena CFD.

MORAL-POLITIK.COM- Lalu, apa kaitannya teori di atas dengan CFD Kota Kupang? Tentu saja ada keterkaitan erat sehingga diciptalah artikel ini walau kini sedang teriknya dan hiruk pikuk dengan dentuman musik dansa, lantaran ada pesta wisuda mengelilingi pelataran rumahku.

Sebab, hanya orang-orang kalah seturut Charles Beraf itu, yang tak mampu mencipta sebuah karya, entah apapun namanya, karena terkena virus keterkungkungan life style (gaya hidup) atau peradaban baru yang sangat akut. Apalagi jika terkena virus praktek demokrasi kedaulatan rakyat di Bumi Nusantara ini. Sebab—dikotomi mayoritas dan minoritas cukup bugil menyata, terutama soal perilaku perpolitikan dari partai politik yang kuat terhadap partai politik yang kurang kuat.

Lebih dari itu, dikotomi juga terjadi antar instansi yang kuat dengan yang kurang kuat, apalagi dibuat agar tak kuat sama sekali.

Beraf juga mengkonstantir terkait fenomena mirip yang bisa ditemukan pada politik yang dilandaskan pada dukungan massa mayoritas. Sebab atas nama “pendapat mayoritas” seorang pejabat publik yang dipilih secara demokratis bisa bertindak inkonstitusional.

Baiklah kita tinggalkan untuk sementara teori dan “kegenitannya” di atas. Sebab hidup itu panjang, jauh lebih panjang dari seni yang dicipta manusia, yang adalah hasil ciptaan Allah itu.

Semuanya itu beranjak dari terbatasnya ruang dan waktu acara di arena CFD Kota Kupang. Sebagaimana fakta empiris, tepat jam 09.00 petugas Kepolisian Kupang Kota mengumumkan waktu segera berakhir, semua dimintanya untuk memersiapkan diri, jangan lupa barang-barang yang dibawa.

Kapolres, Wakapolres dan jajarannya pun mulai mengayuhkan langkah meninggalkan arena CFD. Bersamaan dengan itu, berakhirlah sudah artikel untuk sesi hari ini. Sebab besok akan ada ceritanya tersendiri. Sebagaimana hidup ini penuh dengan dualisme: Ada pagi ada malam, ada kanan ada kiri, ada atas ada bawah, ada pemimpin ada bawahan, ada cantik ada kurang cantik, dan ada awal ada akhirnya.

Baca Juga :  Penggerebekan Kostrad, Kapolri: Yang Ditangkap 19 TNI, 5 Polri, dan Anggota DPR

Mari kita tetap bersemangat dalam merenda hidup dan kehidupan masing-masing, tetaplah berpikir positif, dan satu hal yang tak kalah penting, jangan menyimpan amarah hingga mata hari terbenam, nanti susah sendiri…. (habis)

 

Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan (Novelis)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button