Home / Populer / “Selfie” di arena “Car Free Day” Kota Kupang sebagai “Peradaban Baru”?

“Selfie” di arena “Car Free Day” Kota Kupang sebagai “Peradaban Baru”?

Bagikan Halaman ini

Share Button

P1040740

 

MORAL-POLITIK.COM– Sepertinya saya takkan pernah kehilangan aksara untuk menarasikan fenomena yang terjadi di arena Car Free Day (CFD) Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Pada hari ini, Sabtu (7/2/2015) cuaca cukup dibilang bersahabat, sebab kemarin dan selama dua hari turun hujan lebat hingga jalan-jalan raya digenangi air bergumpal-gumpal.

Warga Kota Karang atau Kota Kasih ini cukup tersenyum manis. Sebab dengan curah hujan yang cukup bagus maka persoalan kesulitan air bersih selama setahun, tepatnya di tahun 2015 ini bakal teratasi dengan baik, sepanjang pihak pengelola air minum (PDAM) berlaku adil dan merata.

Lihat saja di sepanjang jalan, atau pada setiap sudut-sudut kota, dimana-mana dedaunan pohon-pohon tumbuh menghijau, yang baru tumbuh pun lajunya cukup kencang sehingga cepat besarnya. Tak kalah juga dengan rerumputan di sepanjang bibir jalan. Ada rumput liar, ada yang memang sengaja ditanam untuk bikin atmosfir rumah menghijau sebagai simbol ketenangan atau kesejukan penghuninya.

P1040737

Atmosfer menghijau dan cuaca yang bersahabat ini telah menginspirasi warga Kota Kupang untuk melepas penatnya di arena CFD dengan pilihan gayanya masing-masing.

Memang harus diakui, arena CFD mulai tampak sepi, tak semarak manakala tiga minggu pertama ketika dibuka oleh Kapolda NTT dan Wali Kota Kupang Jonas Salean. Pasalnya, jika Wali Kota ada di arena CFD maka ratusan stafnya ikut membludak, sampai-sampai arena CFD mau meledak saja. Namun jika Wali Kota tak ada, mencari sebatang hidup staf Pemkot Kupang pun tak bakalan ditemui–mungkin lebih mudah mencari serpihan mutiara-mutiara retak.

Fenomena itu sudah menjadi kelaziman di instansi pemerintah di republik ini. Loyalitas semu sering dipertontonkan demi “Bapak Senang”, atau istilah familiarnya “Asal Bapak Senang” (ABS).

Baca Juga :  Pemakzulan Wapres Boediono merupakan jalan keluar yang tepat

Pada hari ini, beberapa orang yang sempat ditemui tak sungkam-sungkamnya memuntahkan kekesalannya. “Mestinya PNS Pemkot Kupang selalu hadir di CFD ini untuk memprakarsai sejumlah acara atau memotivasi masyarakat,” kata seorang pria berusia sekitar 40 tahun.

P1040738

Seorang wanita paruh baya memuntahkan kesalnya yang agak berbeda. “Nanti su mau dekat deng Pilkada baru PNS dong tapoa di sini untuk pengaruhi kotong supaya pilih dong pung jago. Jang mara sa, kotong son bodok lai!”

Kendati begitu, ada juga yang tak mau ambil perduli dengan apa yang terjadi. Pentingnya bagi mereka, dengan adanya CFD, paling tidak bisa dijadikan alasan untuk keluar dari rumah, sekalian bisa menunjukkan eksistensi atau bakat dan ketrampilannya.

“Sefie” bareng dengan teman-teman untuk update status di Facebook atau Twiter adalah fenomena paling menarik, yang bisa juga dibilang sebagai “peradaban baru” bagi kawula muda di seantero jagad raya ini.

 

Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan (Novelis)

 

 

 

 

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button