Home / Populer / TPI Kota Kupang kembali normal setelah didera isu Formalin (1)

TPI Kota Kupang kembali normal setelah didera isu Formalin (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button
ikan7Para pembeli ikan sedang membersihkan ikan di tepi pantai untuk dijual kepada masyarakat. (Foto: vjb)

 

MORAL-POLITIK.COM- Hari ini, Minggu (8/2/2015), masih pagi-pagi buta aku telah meluncur ke Tempat Penjualan Ikan (TPI) di Kelurahan Fatubesi, Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Udara cukup cerah, laut tak bergelombang seperti keadaan dua pekan silam, akibatnya keluar larangan pelayaran.

Senyum tampak nyata diumbar oleh para penjual ikan. Bisa dimaklumi, sebab manakala pemerintah membolehkan kembalinya pelayaran, muncul isu yang tak sedap. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan diawetkan dengan menggunakan formalin.

Masyarakat Kota Kupang pada khususnya, dan NTT pada umumnya laksana didera gempa bumi tektonik dan gelombang pasang tsunami berkekuatan 7 Skala Rigter. Sebab, ikan adalah pilihan paling cerdas untuk melengkapi gizi keluarga sehari-hari. Selain harganya boleh dibilang bisa terjangkau, kadar kolestrolnya sangat rendah sehingga nyaman untuk dikonsumsi.

Berbagai sumpah serapah dimuntahkan encer oleh masyarakat. Wajar saja, sebab uang membeli ikan adalah dari hasil keringat, tapi teganya ikan diawetkan dengan menggunakan formalin, laksana mayat yang diawetkan agar bisa bertahan dari aroma tak sedap sekitar empat hari lamanya.

Ketika aku memasuki kawasan TPI, para penjual ikan berkata lirih, “Mari Om, ini ikan tanpa formalin”. Aku hanya bisa mengumbar senyum sembari mata bergentayangan untuk mencari ikan kesukaanku.

Bagi pemakan ikan, tak perlu berbantah ria dengan pernyataan dari penjual ikan tersebut. Melihat fisik ikan saja sudahlah bisa menjadi simpulan dari realitas sesungguhnya.

Kepada seorang wanita paruh baya yang memerhatikan ikan-ikan dengan sorot mata penuh selidik, aku menanyakan sejauh manakah kesangsiannya. “Sonde Om, ini ikan sonde ditaro formalin lai. Dong su kapok, karena hampir tiga minggu ini orang dong mogok beli ikan na,” katanya sembari memelototkan dua bola mata kembarnya itu.

Baca Juga :  Capres Gita Wirjawan tebar pesona ke anak muda dan cewek

“Ikan murah, ikan murah tanpa formalin,” teriak seorang bapak berusia sekitar 45 tahun. Pengunjung yang datang mencoba untuk memegang fisik ikan sebagai bahan pembandingnya.

“Ko ikan pung mahal lai?” katanya setelah mendapat kepastian harga dari si penjual.

“Kotong pi cari ikan pakai Bahan Bakar Minyak (BBM). Memang harga BBM sudah dua kali turun, tapi sayangnya belum diikuti dengan turunnya harga barang lainnya, terutama peralatan mesin perahu,” katanya untuk merayu.

Aku tak punya pilihan lain setelah mendapat kesepakatan harga. Puasa tiga minggu tak makan ikan bikin badan kurang berenergi, semangat untuk menulispun tak bisa diandalkan, apalagi inspirasi seolah-olah murka dengan kecongkakanku yang memukul rata perbuatan satu dua orang yang menggunakan formalin di ikan jualannya. Karena bagaimanapun, masih ada satu atau dua orang yang berhati nurani mulia.

 

Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan (Novelis)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button