jk Bagi JK, kemajuan Singapura sangat mempengaruhi kemajuan Indonesia, mengingat keduanya merupakan negara tetangga dan sama-sama menjadi anggota ASEAN.

 

MORAL-POLITIK.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengenang percakapannya dengan Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew yang baru meninggal pada Senin (23/3) dini hari.

Pada suatu pertemuan antar pemimpin negara, Lee pernah memberi masukan pada JK soal negara Indonesia, namun saat itu JK menjawab bahwa ia lebih tahu soal Indonesia dibanding Lee.

“Saya lebih tahu soal Indonesia daripada Anda (Lee Kuan Yew), tapi demikian saya ingin mendengar filosofi dari Anda,” kenang JK yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden era Soesilo Bambang Yudhoyono.

Perbincangan antara keduanya pun dilanjutkan selama dua jam. Usai pertemuan itu keduanya lantas menemui pers yang telah menunggu dua pimpinan negara tersebut. Namun, Lee Kuan Yew mengeluarkan pernyataan yang menurut JK malah membuatnya bingung.

“Dia mengatakan, saya (JK) lebih memahami persoalan dalam negeri dan sayangnya saya hanya Wakil Presiden,” kenang JK di kediamannya, Senin (23/3).

Kendati berbeda pandangan soal Indonesia, JK menilai Lee Kuan Yew sebagai salah satu pemimpin negara yang bijak dan mampu memberikan inspirasi terhadap pembangunan di antara negara-negara ASEAN.

Bagi JK, kemajuan Singapura sangat mempengaruhi kemajuan Indonesia, meningat keduanya merupakan negara tetangga dan sama-sama menjadi anggota ASEAN.

Lee Kuan Yew merupakan perdana menteri Singapura pertama yang menjabat dari tahun 1959 hingga mengundurkan diri pada 1990.

Selama masa kepemimpinan Lee, Singapura berkembang dari negara Dunia Ketiga menjadi salah satu negara maju di dunia, meskipun hanya mempunyai sedikit penduduk dan sumber daya alam.

Dari berbagai pemberitaan, Lee kerap berkata bahwa satu-satunya sumber daya alam Singapura adalah rakyatnya dan tekad mereka dalam bekerja.

Selama menjabat, Lee menerima berbagai tanda penghargaan, termasuk “Order of the Companions of Honour” pada 1970, “Knight Grand Cross of the Order of St Michael and St George” pada 1972, “Freedom of the City” di London pada 1982, “Order of the Crown of Johore First Class” pada 1984 dan “Order of the Rising Sun” pada 1967.

Lee juga sempat menulis dua buku memoar. Buku Lee berjudul “The Singapore Story” berisikan pandangannya mengenai sejarah Singapura hingga negara itu keluar dari Federasi Malaysia pada 1965. Buku lainnya, “From Third World to First: The Singapore Story” Lee menuangkan pandangannya mengenai perubahan Singapura menjadi negara maju. (erny)