indoPSK Gang Dolly (indopos.co.id)

 

 

MORAL-POLITIK.COM- Kehidupan di bekas lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yaitu Gang Dolly telah berubah drastis usai ditutup pemerintah kota Surabaya. Tidak hanya pekerja seks komersial (PSK), masyarakat di lingkungan sekitar juga mulai kehilangan pendapatan.

CEO Melukis Harapan, Dalu Nuzlul Kiram memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan bisnis. selain meraup untung, bisnis ini juga membantu mantan PSK dan warga yang telah kehilangan pendapatan. sebagai kesempatan usaha, Dalu berkeinginan menggarap Dolly sebagai pusat bisnis baru.

Dalam pengembangannya, Dalu telah membina lima orang mantan PSK Dolly dan warga sekitar. “Total saat ini PSK ada lima orang, warga bisa sampai empat RT. Dan anak-anak saat ini ada 40an orang,” katanya kepada merdeka.com di Jakarta.

Melansir merdeka.com, pembinaan yang dilakukan perusahaan Dalu sebenarnya lebih difokuskan kepada industri usaha kecil menengah (UKM), mulai dari industri fesyen, makanan, hingga wisata sejarah. Hasilnya pun mengejutkan. Untuk fesyen saja, kata Dalu, kini Dolly mempunyai batik tersendiri bernama Batik Jarak. Harga untuk batik ini biasa dijual berkisar Rp 300 ribuan. “Tapi ini biasanya sesuai pesenan saja,” ungkapnya.

Sedangkan industri boga, banyak berbagai tipe makanan maupun cemilan yang sudah dipasarkan, seperti telur asin, telur bakar, kue kering, nugget dan lainnya.

Dari keseluruhan industri itu, Dalu mengakui bahwa penjualan makanan memang lebih laku. “Telur asin dan telur bakar paling laku, karena kan warga sekitar juga banyak yang beli.”

Sebenarnya Dalu dan timnya masih terkendala dana untuk lebih memajukan pengembangannya wirausaha sosialnya ini. Dalam hitungan kasarnya, dana yang diperlukan bisa mencapai Rp 1 miliar.

Meski ada hambatan, Dalu tidak menyerah begitu saja. Selama ini keuntungan penjualan industri UKM warga dan eks PSK Dolly justru dikembalikan lagi agar usaha tersebut makin berkembang cepat. Dalu tak memungkiri bantuan dari Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya ada. Namun, pihaknya tidak mau menerima sejumlah uang dari para pejabat daerah tersebut.

“Takutnya nanti ada aneh-aneh, apalagi itu kan uang negara, uang rakyat,” ungkapnya. Meski ogah terima, pihaknya langsung mengarahkan pemerintah kota agar bantuan itu tetap diterima warga bekas lokalisasi Dolly secara langsung.

Dia membeberkan, contoh bantuan pemerintah kota Surabaya, yakni membeli 12 wisma bekas lokalisasi Dolly. Sebelumnya saat penutupan, pemerintah kota Surabaya juga membeli satu wisma terbesar di Dolly, yakni Wisma Barbara. Sehingga total ada 13 wisma yang dimiliki pemerintah kota saat ini.

Pembelian belasan wisma itu tentu bakal membantu langkahnya menghidupkan Dolly. “Kami inginnya bekas wisma yang dibeli pemerintah itu dijadikan sentra oleh-oleh atau tempat industri,” terangnya.