DSC_0769Kericuhan di Pasar Oebobo, Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Sem)

MORAL-POLITIK.com – Saat pembagian lapak jualan di bangsal baru Pasar Oebobo oleh pegawai PD Pasar Oebobo, di Jalan Shoping Senter, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin 30/3/2015 Pukul 11.00 wib hinga pukul 14.00 wita, berlangsung ricuh.

Pasalnya ada beberapa pedagang yang sudah berjualan lama di Pasar Oebobo yang tidak mendapatkan tempat jualan di bangsal tersebut. Namun justru ada pedagang yang sudah memilik lapak malah diberikan lagi lapak jualan di bangsal tersebut.

“Saya jualan di Pasar Oebobo ini dari tahun 2003 dan sudah 3 kali terkena gusur akibat adanya pembangunan di Pasar Oebobo. Tetapi ketika membagi tempat jualan di bangsal yang baru, saya tidak pernah dapat. Malah kasih orang yang sudah dapat lapak jualan di Pasar Oebobo. Kami orang lama tidak dapat,” ungkap Daut Malua (65), pedagang sayuran dengan nada marah.

Hal yang sama juga dialami Yosep Musu (54). Kepada moral-politik.com, dia yang sudah berjualan bersama sang istri sejak tahun 1993 juga tidak mendapatkan tempat.

“Kami ini jualan dari Pasar Kampung Solor pindah ke Pasar Oebobo, tapi ini malah tidak mendapatkan tempat jualan di Pasar Oebobo. Seharusnya pihak PD Pasar memprioritaskan kami sebagai pedagang lama, bukannya malah membuang kami begini karena mendapatkan sogolan dengan uang. Ada apa ini sehingga kami tidak dapat tempat? Malah tempat jualan diberikan kepada orang baru dan orang yang sudah punya lapak sedangkan kami yang berjualan dari awal di pasar oebobo tidak mendapatkan tempat. Jangan pilih kasih begitu. Orang dekat dikasih tempat, sedangkan kami tidak dikasih tempat,” ungkap Daud dengan nada tinggi.

Pantuan beberapa awak media pada Senin (30/3/2015) siang, nampak para pedagang di Pasar Oebobo menduduki bangsal baru yang belum diserah terimakan kepada PD Pasar karena kesal tidak mendapatkan tempat. Petugas PD Pasar dibuat kewalahan karena para pedagang yang tidak mendapatkan tempat terus berteriak meminta tempat dan meminta pembatalan penetuan tempat dengan cara lotre tersebut. Bahkan ada beberapa pedagang yang menuduh petugas PD Pasar sudah menerima uang dari pedagang baru sehingga bisa mendapatkan tempat di bangsal tersebut. (Sem)