gulaMahasiswi Jurusan Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Gita Adinda Nasution (20), berhasil menjuarai Program Wirausaha Mandiri 2015 oleh PT Bank Mandiri bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM, di Jakarta, Jumat (13/3/2015). Gita berhasil mengembangkan produk obat racikan (herbal) bernama Kopi Gula Gita (Kolagit) yang bisa menyembuhkan penyakit diabetes, meski mengandung tebu. Dimana gula dianggap masyarakat sebagai biang dari penyakit diabetes.

 

MORAL-POLITIK.COM- Kreativitas seseorang terkadang muncul di saat yang genting atau menyulitkan. Situasi ini serupa dengan apa yang dialami oleh Gita Adina Nasution (20), ketika ayahnya terkena penyakit diabetes.

Mahasiswi semester 6, jurusan farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) ini berhasil menyembuhkan ayahnya dengan obat racikan yang mengandung gula. Padahal gula sering disebut-sebut menjadi biang dari penyakit diabetes.

“Penyakit polio diobati dengan vaksin polio juga. Di dalam penyakit berarti ada obatnya juga. Saya cari apa yang paling dihindari penderita diabetes, yaitu gula dalam tumbuhan tebu,” jelas mahasiswi semester 6 ini dalam acara Wirausaha Muda Mandiri Expo oleh PT. Bank Mandiri, di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Melansir kompas.com, menurut Gita, penyakit diabetes bukanlah disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan. Melainkan, kata dia, organ tubuh yang cacat akibat pola hidup yang tidak sehat, sehingga menyebabkan tubuh tidak bisa mencerna gula, lalu datanglah diabetes.

“Gula darah naik itu bukan karena gula, tapi organ tubuh yang tidak bisa mencerna gula tersebut. Apalagi manusia itu butuh glukosa. Jadi itu karena organ tubuh sudah cacat akibat makan makanan cepat saji, soda, dan minum alkohol. Sedangkan potensi dari genetika cuma 20 persen, jadi yang paling berpengaruh adalah pola hidup tidak sehat,” jelas Gita.

Di luar dugaan, setelah berhasil menyembuhkan ayahnya dari diabetes, obat racikan Gita bernama Kopi Gula Gita (Kolagit) tersebut langsung tenar di kalangan terdekat hingga luar negeri. Gita mengatakan pemesanan sudah mencapai Arab Saudi.

“Mulai dari Korea Selatan, Perancis, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Arab Saudi, California, Canada, dan AS. Teman-teman ayah di Koramil yang biasa berobat ke Penang dan Singapura, setelah minum obat ini tidak ke sana lagi, sembuh dengan Kolagit,” kata Gita.

Obat racikan tersebut mengandung bahan tumbuhan tebu dan herbal-herbal lainnya. Meski ada kata kopi dalam nama Kolagit, Gita mengatakan itu didasari kemiripan warna obat tersebut dengan kopi.

Untuk harga, Gita menjual Kolagit sebanyak 800 gram dengan harga Rp 150.000. Namun, Gita mengatakan keuntungan bukanlah tujuan utama dari penjualan Kolagit. Menurut dia, sebagai orang medis, masih ada beban moral untuk menyembuhkan orang meski tidak mampu untuk membeli Kolagit.

“Sebetulnya, niat untuk komersil tidak ada, karena punya tanggung jawab sosial sebagai latar belakang medis. Sistem jual beli saya lakukan karena butuh modal. Jadi yang tidak mampu saya berikan harga seikhlasnya atau bahkan gratis,” kata Gita.

Permintaan yang meningkat lantas membuat Gita mendapatkan untung yang tidak sedikit. Gita bahkan terkejut ketika di akhir tahun 2014, ia mendapatkan omzet lebih dari Rp 1 miliar.

“Saya kaget, karena tidak memikirkan untung karena saya cuma pikir bagaimana untuk orang bisa sehat. Tapi ternyata alhamdullilah akhir tahun lalu, saya dan teman-teman menghitung omzet, mencapai lebih dari Rp 1 miliar,” kata Gita sembari berbisik.

Tawaran dari investor

Prospek Kolagit yang cerah ternyata membuat sejumlah perusahaan farmasi berniat untuk menggaet Gita. Ia mengatakan, perusahaan-perusahaan tersebut datang dari lokal maupun luar negeri.

“Dari 2013 setelah booming, banyak perusahaan farmasi lokal sampai nasional, datang ke rumah di Medan, sampai pengusaha properti. Terakhir dari perusahan farmasi dari Turki dan Singapura. Tawarannya miliaran rupiah,” kata Gita.

Namun, Gita menyatakan belum tertarik dengan opsi kerjasama tersebut. Alasannya, kata dia, meski diberikan laboratorium dan menjadi pengawas produksi obat tersebut, Gita khawatir obat tersebut menjadi mahal dan tidak bisa menyentuh masyarakat bawah.

“Saya belum tertarik, karena memikirkan bagaimana caranya menyeimbangkan antara kalangan atas dengan bawah, Kebanyakan kalau sudah terkenal tidak mungkin bisa, apa bisa di supermarket tawar-menawar?” kata Gita.

Ke depan, Gita akan meluncurkan satu produk lagi dimana kali ini berasal dari limbah organik. Limbah tersebut akan diubah menjadi obat, salah satunya sebagai antiseptik. “Produk yang akan saya buat tahun ini berasal dari limbah organik, pertama adalah antiseptik dari, obat penurun panas/demam yang lebih efektif dari paracetamol dan obat anti alergi dalam bentuk salep,” jelas Gita.

Sebagai informasi, Gita adalah juara pertama dalam program Wirausaha Muda Mandiri, kategori Industri, Perdagangan, dan Jasa oleh PT. Bank Mandiri bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM.

Mendapatkan juara pertama, Gita berhasil memperoleh hadiah sebesar Rp 50 juta. Ia mengatakan akan menggunakan uang tersebut sebagian untuk membangun laboratorium dan sisanya untuk berbagi dengan anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB). (erny)