Home / Populer / Mempertanyakan ‘Jokowi Effect’ kala Dolar tembus Rp 13.000

Mempertanyakan ‘Jokowi Effect’ kala Dolar tembus Rp 13.000

Bagikan Halaman ini

Share Button
jokowi-sayuranPresiden Joko Widodo melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Pagi Rawamangun dan Pasar Pramuka, di Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015).

 

MORAL-POLITIK.COM- Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat makin tinggi terhadap rupiah, kemarin kembali tembus Rp 13.000. Apa kabar ‘Jokowi Effect’ yang dulu pernah menekan dolar hingga di bawah Rp 11.000?

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mengatakan euforia ‘Jokowi Effect’ tersebut terjadi kala Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu. Pada waktu itu ada ekspektasi positif dari investor dan pelaku pasar.

“Kalau bicara Jokowi Effect itu kan waktu Pemilu. Pada waktu itu kan orang ada ekspektasi. Nah, sekarang kan Jokowi sudah jadi pemerintah, tinggal tunggu implementasi janji,” katanya kepada detikFinance, Selasa (10/3/2015).

Melansir detik.com, menurutnya, investor dan pelaku pasar keuangan saat ini cenderung melakukan aksi tunggu sambil ‘menagih’ janji-janji Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang disampaikan saat kampanye tahun lalu.

“Kalau soal BBM sudah cukup baik, soal fiskal juga baik. Sekarang tinggal bagaimana soal iklim investasi dan realisasi belanja,” kata David.

Realisasi ini memang sedikit terlambat, terutama karena adanya masalah politik yang terjadi di dalam negeri, salah satu contohnya adalah kisruh antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Namun, kata David, faktor utama yang membuat dolar AS melambung tinggi datang dari Negeri Paman Sam itu sendiri. Ekonomi AS yang membaik lebih cepat dari prediksi membuat mata uangnya menguat.

“Kalau soal politik (Indonesia) kemarin kan sudah cooling down. Ini lebih karena ekonomi AS membaik lebih bagus dari perkiraan. Tingkat penganggurannya kan sudah 5,5%, sudah masuk dalam range The Fed (The Federal Reserve),” katanya.

Baca Juga :  Yang Terkuak di Jembatan Benenain, Kabupaten Malaka

Nah, jika situasi sudah masuk dalam jalur The Fed seperti sekarang ini, maka dikhawatirkan suku bunga AS bisa naik lebih cepat dari jadwal sebelumnya, yaitu pertengahan 2015. (erny)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button