Home / Populer / NTT dinilai sebagai Daerah Basis Kekerasan Terhadap Perempuan

NTT dinilai sebagai Daerah Basis Kekerasan Terhadap Perempuan

Bagikan Halaman ini

Share Button
sbdMemperingati Hari Perempuan Internasional, Forum Lintas Aktor (FLA) melakukan aksi di depan Keuskupan Weetabula-Sumba Barat Daya, Sabtu (9/3/2013).

 

MORAL-POLITIK.COM- Koalisi Rakyat untuk Hari Perempuan Internasiona (HPI), yang terdiri dari Rumah Perempuan Kupang (RPK), PIAR NTT, dan Lopo Cerdas NasDem NTT, hari ini mengadakan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, anak dan korupsi, dengan melakukan jalan santai. Kampanye itu dilakukan melalui kegiatan jalan santai yang berlangsung di Jalan El Tari Kota Kupang.

Ratusan aktivis yang punya kepedulian terhadap kesetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan, turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Rombongan dipimpin langsung oleh Direktri RPK, Libby Ratuarat-Sinalaeloe, dan Direktris PIAR NTT Sarah Leri Mboeik, sambil membawakan spanduk anti kekerasan dan simbol-simbol menentang kekerasan terhadap perempuan. Ribuan warga Kota Kupang yang sedang menikmati suasana hari bebas kendaraan, yang dilakukan setiap Sabtu, menyaksikan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan tersebut.

Usai kegiatan, Direktris Rumah Perempuan Kupang, Libby Sinlaeloe mengatakan, aksi kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah fenomena global. Daftar aksi kekerasan, pelecehan seksual dan diskriminasi gender amat panjang, dan setiap hari bisa terus ditambah dengan fakta dan data baru.

Walaupun di negara ini hukuman bagi pelanggaran hak-hak perempuan makin berat, tapi nyaris tidak ada bukti bahwa perilaku pria terhadap perempuan juga mengalami perubahan, khususnya di Indonesia yang sesuai adat istiadatnya, masih menganggap lelaki lebih berkuasa, sehingga ketimpangan masih saja terus terjadi.

“Di moment Hari Perempuan Internasional (HPI) ini, kami merasa perlu melakukan kegiatan-kegiatan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan sehingga perempuan boleh mendapat tempat yang lebih laya,” katanya.

Perempuan harus mendapat jaminan hak yang setara, tambahnya, peluang yang sama dengan lelaki dan dilindungi dari aksi kekerasan serta pelecehan. Sebab hal ini untuk keuntungan semua pihak.
Riset membuktikan, warga di negara dimana perempuan diakui setara dengan lelaki, biasanya lebih makmur dan lebih bahagia.

Baca Juga :  Fenomena Rayakan Natal di CFD Kota Kupang (2)

Sementara itu, Direktris PIAR NTT Sarah Leri Mboeik mengatakan, aksi kampanye kesetaraan gender semacam ini sebenarnya butuh dukungan pemerintah dan kalangan politik, perilaku masyarakat biasanya berubah menjadi lebih baik dan positif. Juga kampanye butuh dukungan kaum lelaki.

“Ada kesenjangan normatif di bawah aturan yang ada di negara ini yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan. Kami dari aktivis akan terus berjuang untuk perempuan di Indonesia terlebih lagi di NTT, yang merupakan basis kasus kekerasan terhadap perempuan,” pungkas dia. (nyongky)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button