DSC_0770 Suasana kericuhan di Pasar Oebobo, Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin (30/3/2015). (Foto: Sem)

MORAL-POLITIK.com – Kepala unit Pasar Oebobo, Fredrik Lau bersumpah tidak pernah menerima uang dari pedagang dengan balas jasa akan diberikan tempat jualan. Dia bahkan berniat melaporkan oknum pedagang tersebut kepada Wali Kota Kupang, Jonas Salean karena sudah mencermarkan nama baiknya.

“Saya sumpah demi nama Tuhan, saya tidak pernah terima uang dari pedagang di Pasar Oebobo. Saya biar pensiunan begini tetapi masih terima beras jatah dari pemerintah. saya tegaskan, saya tidak pernah terima uang atau membagikan tempat jualan kepada orang dekat saya itu tidak benar,” tegas Fredrik yang terus dikejar-kejar oleh para pedagang Pasar Oebobo yang marah karena tidak mendapatkan tempat jualan.

Ketika disinggung adanya pedagang yang mendapatkan tempat dobel di Pasar Oebobo, Fredrik berdalih tempat yang lama itu milik anaknya kalau tempat yang baru ini milik ibunya.

“Tidak benar kalau ada pedagang yang memiliki dua tempat. Misalnya Ibu Wawang yang mereka ributkan karena memiliki dua tempat jualan, itu lapak yang satu milik anaknya sedangkan yang baru ini milik ibunya. Memang tidak mungkin semua pedagang bisa berjualan di bangsal ini karena jumlah lapak jualannya terbatas. Bangsal baru ini hanya memiliki kapasitas 48 pedagang sedangkan pedagang yang mau mendaftar untuk berjualan di dalam bangsal lebih dari 48 pedagang, pastinya ada yang tidak dapat ungkap pria yang menggunakan topi ini,” tambahnya.

Ati Malelak, salah satu pedagang yang tidak mendapatkan tempat mengaku sangat kesal dan meminta Wali Kota Kupang, Jonas Salean turun tangan untuk mengatur pembagian tempat jualan di Pasar Oebobo. Pasalnya pembagiaan yang sekarang dilakukan oleh pihak PD Pasar tidak adil.

“Saya minta Wali Kota Kupang, Jonas Salean segerah turun tangan untuk menagani masalah pembagian tempat jualan di Pasar Oebobo, jangan hanya ngomong di saat kampanye baru lupa kami sebagai rakyat Kota Kupang yang memilihnya, karena pihak PD Pasar tidak adil dalam membagikan lapak jualan. bagiamana orang yang baru jualan mendapatkan tempat jualan di bangsal baru sedangkan kami yang sudah bertahun-tahun tidak dapat,” katanya lebih lanjut..

“Lucunya lagi ada pedagang yang sudah ada tempat jualan malah dikasih tempat lagi di bangsal yang baru dengan alasan lapak yang lama itu milik suami nah, anak nah, nenek atau setan kuntilanak punya,” pungkas Ati dengan nada kesal.

Pantuan moral-politik.com, nampak situasi pembagian lapak jualan di bangsal baru Pasar Oebobo berlangsung ricuh. Pedagang yang kesal karena tidak mendapatkan tempat terus mengejar pegawai PD Pasar untuk meminta tempat jualan. Beberapa pedagang yang kesal bahkan berteriak dengan suara keras akan melaporkan hal tersebut kepada Wali Kota Kupang Jonas Salean. Malah muncul pernyataan sangat miris bahwa PD Pasar bagi tempat hanya untuk orang dekat saja, yang tidak kenal mereka tidak dapat tempat. (Sem)