Home / Traditional Dress / Takut Dinikahi “Orang Kafir”, Boko Haram Bantai Puluhan “Istri”

Takut Dinikahi “Orang Kafir”, Boko Haram Bantai Puluhan “Istri”

Bagikan Halaman ini

Share Button
bantaiAP Para siswi Nigeria yang diculik oleh militan Boko Haram muncul dalam video yang dirilis kelompok militan tersebut (12/5).

 

MORAL-POLITIK.com – Puluhan perempuan Nigeria yang sebelumnya dipaksa untuk menikahi anggota militan Boko Haram dilaporkan telah dibantai “para suami” mereka sebelum sebuah pertempuran dengan tentara di kota Bama yang terletak di timur laut negara itu.

Daily Mail, Kamis (19/3/2015), melaporkan, sejumlah saksi mata mengatakan bahwa kaum militan takut mereka akan dibunuh tentara yang sedang bergerak maju atau terpisah dari para istrinya saat mereka melarikan diri dari kota itu. Sejumlah saksi mengatakan, kaum militan membunuh perempuan-perempuan itu demi mencegah mereka menikahi tentara atau orang lain yang dinilai kafir.

Melansir kompas.com, seorang perempuan bernama Sharifatu Bakura (39 tahun) mengatakan, “Para teroris tersebut mengatakan, mereka tidak akan membiarkan istri-istrinya menikah dengan orang-orang kafir.”

Militer Nigeria, bersama pasukan negara tetangga, yaitu Kamerun, Chad, dan Niger, mengklaim kemenangan besar atas para pemberontak itu dalam beberapa pekan terakhir. Namun, warga sipil yang tak berdaya masih menghadapi ancaman serius.

Ibu tiga anak itu mengatakan, teroris Boko Haram telah mendapat kabar tentang serangan militer terhadap Bama, yang sebelumnya merupakan basis kelompok itu di negara bagian Borno. Ia mengatakan, para pemberontak memutuskan untuk melarikan diri ke kota terdekat, Gwoza, sebelum kedatangan tentara, tetapi pertama-tama memutuskan untuk membunuh istri mereka sehingga tidak ada orang lain yang akan menikahi mereka.

Suami Bukara dibunuh para pemberontak empat bulan lalu, tetapi ia terhindar dari kawin paksa karena dirinya terlihat hamil.

Boko Haram memaksa puluhan perempuan di Bama untuk menikahi anggota kelompok itu setelah merebut kota tersebut pada September lalu, tetapi militer Nigeria mengumumkan perebutan kembali kota itu pada Senin lalu.

Baca Juga :  Dubes Vatikan Kritik Umat Pentingkan Harta, Biarkan Keluarga Hancur

Sejumlah saksi yang pekan ini mendapat perlindungan militer di ibu kota Borno di Maiduguri, berjarak 45 mil dari Bama, mengatakan, pembunuhan para perempuan itu dimulai 10 hari sebelum Bama akhirnya dibebaskan. Militan Boko Haram mengatakan, “Jika mereka membunuh istri-istri mereka, para istri itu akan tetap tanpa dosa sampai mereka nanti bertemu lagi di surga, di mana mereka akan bersatu kembali,” kata Salma Mahmud, seorang saksi lain.

Seorang warga sipil yang berjuang bersama militer dalam pertempuran untuk merebut kembali Bama, Abba Kassim, mengatakan, ia melihat “puluhan mayat perempuan” di kota itu. Masih belum mungkin untuk memverifikasi jumlah pasti mereka yang tewas.

Fanna Aisami (52 tahun), yang juga berada di Maiduguri setelah melarikan diri dari Bama pada pekan ini, mengatakan eksekusi tersebut menyusul peringatan komandan puncak Boko Haram di kota itu. “Dia memberi tahu mereka tentang situasi dan konsekuensi pengambilalihan kota oleh pasukan tentara yang sedang bergerak maju. Dia memperingatkan mereka bahwa ketika tentara membunuh mereka, mereka akan memulangkan istri-istri mereka ke masyarakat di mana mereka akan dipaksa untuk menikah dan hidup dengan orang-orang kafir,” kata ibu dari tujuh orang anak itu.

Komandan itu mengatakan akan lebih baik bagi mereka untuk membunuh istri mereka dan mengirim mereka ke surga. Aisami mengatakan, sejumlah perempuan ditembak mati di depan rumahnya.

Yagana Mairambe (58 tahun) mengatakan, beberapa pria Boko Haram menolak perintah itu dan melarikan diri bersama istri mereka ke negara bagian Yobe.

Juru Bicara Keamanan Nasional Nigeria, Mike Omeri, sedang berupaya untuk memverifikasi laporan tersebut, sementara pihak militer belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Baca Juga :  Wanita Meksiko Ditangkap kala Masturbasi Saat Menonton Film di Bioskop

Saat militan Boko Haram menghadapi tekanan berat militer di Nigeria timur laut, sejumlah serangan, termasuk bom bunuh diri, tetap terjadi, bahkan saat pemerintah di Abuja mencoba untuk meyakinkan para pemilih bahwa pemilu pada 28 Maret ini akan aman.

Pemberontakan Boko Haram telah menewaskan lebih dari 13.000 orang sejak 2009 dan Presiden Goodluck Jonathan telah menghadapi kecaman keras terkait kegagalannya menghentikan kekerasan itu.

Kekejaman terbaru di Bama itu mengingatkan orang akan pembantaian serupa di sejumlah sekolah menegah atas dan perguruan tinggi di Nigeria timur laut di mana Boko Haram telah mengeksekusi puluhan siswa karena dianggap sedang mempelajari kurikulum kafir. (erny)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button