Home / Sejarah / Bedanya Pak Harto dan Jokowi, Enak Mana ya…

Bedanya Pak Harto dan Jokowi, Enak Mana ya…

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK.COM – Ada perbedaan mencolok presiden Indonesia di jaman Pak Harto dan Jokowi (sekarang). Hal itu diungkapkan Pakar hukum dan tata negara, Yusril Ihza Mahendra.

Yusril menilai, Pak Harto orangnya sangat teliti dan tidak mau langsung menyalahkan anak buahnya. Pernyataan Yusril ini menyindir Presiden Jokowi terkait terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 yang mengatur tambahan uang muka pembelian mobil bagi pejabat negara.

Sebelumnya, Jokowi membantah dan terkesan tak mau disalahkan dengan keluarnya perpres tersebut. Bahkan, Jokowi melempar persoalan yang menjadi polemik ini kepada Kementerian Keuangan yang meloloskan kebijakan ini.

“Hal-hal seperti itu harusnya di kementerian. Kementerian men-screening apakah itu akan berakibat baik atau tidak baik untuk negara ini,” sanggah Jokowi, Minggu (5/4).

Pernyataan Jokowi inilah yang memantik reaksi Yusril. Melalui akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Yusril mengomentari perbedaan antara jaman Pak Harto dan Jokowi yang jauh berbeda.

“Pak Harto (mantan presiden Soeharto) dulu, semua yg beliau mau tandatangani beliau baca dulu dengan seksama. Tiap naskah yg mau ditandatangani itu kan ada memorandum mensesneg yg menerangkan secara ringkas latar belakang naskah tsb,” tulis Yusril belum lama ini di akun Twitternya.

Yusril mengatakan, dari kebijakan Pak Harto yang hendak diteken itu, Pak Harto sering bertanya jika ada yang tidak jelas. Dan, orang pertama yang ditanya adalah Mensesneg Moerdiono atau Saadillah Mursyid.

“Bahkan kadang2 Pak Harto langsung tanya saya kalau itu menyangkut pidato atau surat yang akan ditandatangani,” ujar Yusril yang pernah menjadi Staf Khusus Penyusun Naskah Pidato Presiden Suharto.

Semua naskah yang dikirim ke rumah Pak Harto pada sore hari, kata Yusril, besoknya sudah dikembalikan ke Sekneg via ajudan.

Baca Juga :  Inilah insiden memalukan di Final Puteri Indonesia 2017

“Yg mau ditandatangan sdh ditandatangani. Yg belum ditandatangan ada catatan atau disposisi Pak Harto yg perlu segera ditindaklanjuti mensesneg. Dari disposisi itu kami tahu bahwa Pak Harto memang membaca semua naskah yg disampaikan ke beliau seblm ditandatangani,” tulis Yusril.

Tidak hanya itu, Pak Harto juga kadang sangat atensi terhadap laporan-laporan intelijen yang tidak hari masuk. Dan, semua itu pasti dibaca beliau. Kalau tidak cocok pasti akan dicoret-coret.

“Laporan intelejen yg tiap hari masuk, semua dibaca pak Harto. Ada coretan2 pd laporan itu dan ada pertanyaan serta komentar beliau. Pidato terakhir Pak Harto tgl 21 Mei 1998 pun pak Harto panggil saya ke kamarnya dan bertanya tentang sesuatu sblm beliau bacakan,” tandas Yusril.

Yusril melanjutkan, sebagai presiden, Pak Harto dikenal sebagai orang yang sangat teliti, hati-hati dan tidak pernah segan untuk bertanya. “Saya waktu itu “anak kecil” mnrt istilah Pak Moerdiono,” sebut Yusril.

Kini, Yusril menganggap Jokowi juga seharusnya cermat, hati-hati dan tidak segan-segan bertanya agar tidak salah teken naskah. (vjb)

Sumber: siagaindonesia.com

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button