Home / Populer / Hengki Jakob: Trotoar sebagai Tempat Duduk Makan Sangat Mengganggu

Hengki Jakob: Trotoar sebagai Tempat Duduk Makan Sangat Mengganggu

Bagikan Halaman ini

Share Button
cfdAntusiasnya warga Kota Kupang mengisi acara di Car Free Day, Jalan Raya El Tari, Sabtu (11/4/2015). (Foto: vjb)

 

MORAL POLITIK – Lurah Oebobo, Kota Kupang, Hengki Jakob mengatakan, penggunaan trotoar untuk tempat duduk makan kelapa muda menganggu pejalan kaki. Mereka tidak merespons baik karena kesulitan, namun prinsipnya dalam penataan, tetap dilakukan.

Kepada moral-politik.com di Kota Kupang, Rabu(6/5/2015) dirinya menuturkan bahwa saat tim turun untuk penertiban, masih dilakukan pendekatan persuasif. “Kita tanyakan kapan pindah, karena komitmen awal pemerintah siapkan lokasi dan pedagang pindah ke sana,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa PKL yang setelah didata bukan penduduk Kota Kupang. Namun, kepada mereka tetap diperbolehkan mencari nafkah, tapi masalah kebersihan kadang tidak diperhatikan, sehingga perlu dikontrol.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Kupang, Paulus Manafe mengatakan, persoalan mendasar para PKL adalah tempat untuk berjualan, soal kebutuhan, dan soal aturan. Keinginan PKL dan pemerintah harus mengacu pada aturan. Pemerintah tidak menyusahkan masyarakat, dan perlu cari waktu. Harapkan kepada pemerintah agar tempatkan semua pedagang secara merata agar tidak menimbulkan kecemburuan.

Melkianus Balle mengatakan, sepakat kebijakan pemerintah, namun ada catatan penting untuk pemerintah. PKL selalu bertambah dari waktu ke waktu, dan harus ditata. Jakarta di masa kepemimpinan Jokowi stuba ke Korea untuk tata PKL.

Sebelumnya, media ini mewartakan bahwa sekitar belasan warga pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan helm dan kelapa muda di sepanjang jalur Jalan El Tari, Kota Kupang pada Rabu(6/5/2015) mendatangi gedung DPRD Kota Kupang. Para PKL meminta perhatian pemerintah agar mereka juga bisa terus berjualan di jalur jalan protokol tersebut.

Kehadiran mereka di DPRD Kota Kupang diterima oleh Komisi II dan berdialog di ruang kerja Komisi II. Dialog dipimpin Ketua Komisi II Melkianus Balle didampingi Wakil Ketua Komisi Paulus Manafe dan Sekretaris Komisi Jabir Marola. Dialog dihadiri sejumlah anggota Komisi II Dewan di antaranya Mohammad Khadafi Gutban, Jemari Yoseph Dogon, Amin Laoda, dan Daniel Hurek. Sementara dari pemerintah hadir Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mesakh Bailain, Lurah Oebobo Hengki Jakob.

Baca Juga :  Gubernur Frans Lebu Raya Mendonorkan Darahnya...

Baltasar Mukin, warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, penjual kelapa muda selaku juru bicara para PKL mengatakan, selama ini mereka berjualan di Jalan El Tari. Namun, beberapa hari lalu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turun meminta mereka segera mengosongkan lokasi tersebut. Semua PKL dipindahkan ke Pusat Kuliner Oebobo kecuali penjual jagung bakar.

Diakuinya, pada bulan lalu mereka diundang menghadiri sosialisasi di kantor Lurah Oebobo terkait relokasi PKL. Namun, saat sosialisasi dan pertemuan kedua, banyak pedagang yang karena kesibukannya masing-masing tak bisa hadir dalam pertemuan tersebut.

Terkait pemindahan ke lokasi baru di Jalan Polisi Militer, kata Baltasar, para PKL bukannya tidak mau. Para PKL khususnya penjual kelapa muda agak kesulitan, karena dalam sosialisasi disampaikan bahwa penjualan hanya mulai pukul 12.00 Wita. Padahal, sejak pukul 08.00 Wita, sudah banyak orang mencari kelapa muda.

Selain itu, ketentuan bahwa mereka tak boleh menumpuk kelapa muda di lokasi penjualan, jelas akan menyulitkan mereka. Kelapa yang didatangkan rata-rata 200 buah, tak mungkin habis terjual dalam satu hari. Jika diharuskan membawa pulang kelapa, tentunya sangat memberatkan. “Apalagi kami tidak punya gerobak, bagaimana kami mau angkut kelapa bawa pulang tiap hari,” katanya.

Apalagi, tambahnya, saat ini semua tenda sudah terisi, sehingga tak bisa mereka pindah ke sana. “Penjual helm juga harus dipindahkan, tidak tahu mau dipindahkan ke mana. Kios yang di tanah penduduk dan hanya tirisan yang sampai di tanah pemerintah juga disuruh bongkar,” kata Baltasar.

Menanggapi penjelasan itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Mesakh Bailain menjelaskan, para pedagang kelapa muda yang berjualan di Jalan El Tari harus tetap dipindahkan ke Pusat Kuliner Oebobo. Sedangkan penjual helm, karena bukan kategori kuliner, maka akan dipindahkan ke pasar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan PD Pasar agar mereka dapat berjualan di los pasar.

Baca Juga :  Wilfrida Dihukum Mati, NTT Teteskan Air Mata

Penjual kelapa dengan kereta agar hindari penumpukan kelapa di jalur itu yang merupakan kompleks perkantoran.

Untuk penjual jagung, kata Bailain, sesuai kebijakan Wali Kota, mereka boleh tetap di situ tapi tidak boleh bertambah lagi. Sedangkan kacang ijo tetap harus pindah ke belakang. “Kebijakan pemerintah tetap berjalan dan Pol PP siap tertibkan,” pungkas dia. (Nyongky)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button