Home / Populer / Komodo: Dari Dulu Hingga Raih “New 7 Wonders of Nature”

Komodo: Dari Dulu Hingga Raih “New 7 Wonders of Nature”

Bagikan Halaman ini

Share Button
komoKomodo juga bisa tenang jika “dikencani” wanita cantik.

 

 

MORAL POLITIK – Komodo pasti sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia. Hewan asli Indonesia yang berasal dari Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Negara Indonesia ini, ternyata merupakan reptil berbisa paling ganas di dunia dengan virus-virus yang dapat melumpuhkan mangsa dengan sangat cepatnya. Hasl ini terbukti dari beberapa kasus penyerangan yang dilakukan oleh Komodo pada akhir-akhir ini.

Sebuah studi baru telah menunjukkan bahwa Komodo (Varamus Komodoensis) yang hidup di Taman Nasional Komodo merupakan reptil berbisa paling mematikan di dunia pada ketika kini.

Rahasia kemampuan membunuh mangsa dari hewan reptil Komodo ternyata terletak pada kombinasi kekuatan gigitannya dan racun berbisa yang dikeluarkan ribuan kelenjar-kelenjar yang terletak di gusinya, yang dikeluarkan bersamaan dengan gigitan.

Temuan ini mematahkan teori sebelumnya yang mengatakan bahwa kemampuan membunuh mangsa dari Komodo terletak pada air liurnya yang mengandung puluhan bakteria mematikan, yang dikeluarkan bersamaan dengan gigitan. Teori ini didasarkan pengamatan bahwa mangsa Komodo biasanya mati setelah beberapa jam mendapat gigitan yang berdarah, dan kemudian akan mati membusuk.

Melansir animallabel.wordpress.com, tak adanya taring yang kuat pada gigi Komodo, juga menunjukkan Komodo tak sepenuhnya binatang pemangsa Carnivora, sehingga sejak lama menjadi penelitian apa rahasia Komodo mematahkan mangsanya. Namun kini dengan teori di atas, sedikitnya tersedia sebuah jawaban rahasia kekuatan mematikan dari Komodo.

Seorang peneliti yaitu Dr Bryan Fry dari Universitas Melbourne, Australia yang menemukan teori ini, melakukan penelitian dengan menggunakan foto medis atau rontgen pada jaringan kepala Komodo.

Ia menemukan adanya ribuan kelenjar kompleks yang berujung diantara deretan gigi-giginya, yang mempunyai kemampuan mengeluarkan bisa beracun yang mematikan.

“Reptil ini biasanya menggigit mangsanya, dan kemudian meninggalkan mangsa yang berdarah hingga mati akibat luka yang mematikan. Kami sekarang tahu bahwa itu disebabkan oleh kombinasi kekuatan gigi dan kelenjar berbisa yang mematikan mangsa,” kata Dr Fry.
“Kombinasi gigitan dan bisa racun ini membuat Komodo sedikit melakukan kontak dengan mangsanya, ia cukup melukai dan menyeburkan racun, kemudian meninggalkannya. Membuat Komodo bisa menangkap mangsa yang lebih besar, tanpa harus lama bertempur yang juga akan berbahaya bagi dirinya,” kata Dr Fry.

Dr Fry kemudian juga melakukan analisa dengan menggunakan simulasi komputer, untuk mengukur tingkat ketajaman mematikan dari gigitan Komodo dibandingkan dengan gigitan binatang Carnivora lain seperti Buaya. Ternyata gigitan Komodo jauh lebih lemah dibandingkan dengan kemampuan gigitan Buaya.

Dari sini timbul hipotesa tak mungkin Komodo mematikan mangsanya hanya mengandalkan pada gigitan, seperti umumnya Carnivora lain. Dari uji resonansi magnetik diperoleh gambaran adanya kelenjar komplek diantara gigi-gigi Komodo yang mengasilkan cairan bisa beracun, yang ditinggalkan bersama gigitan Komodo. “Kami percaya hewan reptil jenis Komodo mampu melumpuhkan mangsanya dengan bisa beracun yang meningkatkan kerusakan akibat gigitan gigi,” kata Dr Fry lebih lanjut.

Para peneliti kini sedang meneruskan risetnya untuk mengetahui kandungan dan komposisi molekul bisa beracun yang dikeluarkan kelenjar Komodo. Efek dari bisa beracun juga diuji oleh para peneliti, yang menampakkan kesamaan pengaruh dengan bisa beracun yang dikeluarkan oleh kelompok ular, yang biasanya membuat shock mangsa.

Hal ini bisa menerangkan kenapa mangsa Komodo biasanya menjadi diam saja setelah mendapatkan gigitan, karena menahan sakit akibat pengaruh bisa. Setelah digigit, mangsa biasanya juga mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya.

Para peneliti kemudian juga memeriksa kerangka fosil hewan reptil Komodo yang termasuk binatang purbakala ini, dan menemukan ciri-ciri kerangka binatang yang menggunakan bisa beracun untuk melumpuhkan mangsanya.

Penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa kadal raksasa sepanjang 7 meter ini adalah binatang berbisa terbesar yang pernah hidup di muka bumi.
Berhati-hatilah jika Anda berada dekat dengan Reptil yang satu ini, karena bisa jadi Anda menjadi sasaran keganasannya karena jika tergigit, dipastikan korbannya tidak akan bertahan lama karena virusnya yang mematikan.

Ada baiknya anda menghindar saja jika bertemu hewan reptil yang bernama komodo, demi keselamatan anda. Komodo atau Biawak Komodo (Varanus komodoensis), merupakan spesies reptil terbesar di dunia yang terdapat di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara, Indonesia. Komodo yang ditemukan pertama kali oleh peneliti barat pada tahun 1910.

Baca Juga :  Sekretaris Kabinet ungkap persiapan pergantian Perwira...

Komodo (Varanus komodoensis) merupakan satu diantara 3 satwa nasional Indonesia. Komodo sebagai satwa bangsa mendampingi burung elang jawa (satwa langka) dan ikan siluk merah (satwa pesona). Komodo juga ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Timur.

Komodo dragon, biawak terbesar dan terunik. Komodo dalam bahasa latin disebut sebagai Varanus komodoensis. Oleh masyarakat setempat biasa dinamakan Ora. Beberapa nama lain komodo seperti Biawak Komodo, Komodo Dragon, Komodo Island Monitor, dan Komodo Monitor.

Habitat komodo yang hanya terdapat di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo juga mendapat apresiasi di dunia internasional dengan lolosnya menjadi salah satu dari 28 finalis New 7 Wonders of Nature.
Ciri-ciri dan Perilaku Komodo

Komodo (Varanus komodoensis) menjadi reptil terbesar di dunia yang mempunyai panjang tubuh mencapai 3 meter dan berat 70 kg. Spesimen liar terbesar yang ditemukan mempunyai panjang 3,13 meter dengan berat 166 kilogram (termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya). Meskipun untuk spesies komodo yang hidup di penangkaran mampu memiliki berat yang lebih besar.

Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam masing-masing sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap berganti. Pada giginya terdapat jaringan gingiva yang sering tercabik saat makan. Karenanya sering kali ditemua sedikit darah pada air liur komodo. Air liur ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal bagi sejenis bakteri mematikan yang hidup di mulut komodo.

Lidah komodo panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan berukuran lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata. Sementara kulit komodo betina berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.
Komodo tak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun kurang baik melihat di kegelapan malam. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap. Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4-9,5 kilometer.

Komodo mampu berdiri di atas kedua kakinya. Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cicak, dan mamalia kecil.

Biawak komodo (Varanus komodoensis) aktif pada siang hari, walaupun terkadang aktif juga pada malam hari. Komodo adalah binatang yang penyendiri, berkumpul bersama hanya pada saat makan dan berkembang biak. Reptil terbesar di dunia ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak dekat, dapat berenang menyelam hingga sedalam 4,5 meter. Komodo juga pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang tubuh.

Habitat dan Persebaran

Komodo atau Ora (Varanus komodoensis) secara alami terdapat di Pulau Komodo, Flores dan Rinca, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Pulau-pulau tersebut termasuk dalam wilayah Taman Nasional pulau Komodo yang merupakan salah satu finalis New 7 Wonders of Nature.

Komodo hidup di padang rumput kering terbuka, sabana dan hutan tropis pada ketinggian rendah, biawak terbesar ini menyukai tempat panas dan kering. Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1-3 meter. Karena besar tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya. Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya.
Konservasi dan Populasi

Baca Juga :  Kemarin Jokowi lapor KPK dihadiahi kacamata oleh Lorenzo

Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan sehingga oleh IUCN Redlist dikatagorikan dalam status konservasi Rentan (Vurnerable). CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species) telah menetapkan bahwa perdagangan komodo, kulitnya, dan produk-produk lain dari hewan ini adalah ilegal.

Diperkirakan sekitar 4.000 sampai dngan 5.000 ekor komodo masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100 ekor), Gili Dasami (100 ekor), Komodo (1.700 ekor), dan Flores (sekitar 2.000 ekor). Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak.

Komodo di tepi pantai
Bertolak dari kekhawatiran ini, sejak tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar. Belakangan ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo.

Aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat, kebakaran, berkurangnya mangsa, meningkatnya pariwisata, dan perburuan gelap; semuanya menyumbang pada status rentan yang disandang komodo.

Tentang komodo ini memang tidak ada kata lain selain satwa yang amat unik yang telah dianugerahkan kepada bumi Indonesia. Maka sudah tidak ada tawar menawar lagi kita musti melindunginya. Dan kini, ketika terbuka kesempatan akan pengakuan dunia pada keunikan Taman Nasional Komodo sebagai habitat alami komodo dragon satu yang musti kita lakukan, dukung komodo sebagai salah satu keajaiban dunia.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Reptilia; Ordo: Squamata; Upaordo: Autarchoglossa; Famili: Varanidae; Genus: Varanus; Spesies: Varamus komodoensis.

Taman Nasional Komodo Menjadi Finalis 7 Keajaiban Dunia

Kita semua patut bangga lantaran Taman Nasional Komodo berhasil menjadi finalis “New 7 Wonders of Nature”. “New 7 Wonders Foundation” mengumumkannya bersama 27 finalis lainnya, TNK berhasil menyisihkan sekitar 440 nomine dari 220 negara.
“Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Republik Indonesia menyampaikan terimakasih kepada seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang telah mendukung Taman Nasional Komodo dalam kampanye New 7 Wonders of Nature Tahap I dan II, hingga tanggal 7 Juli 2009,” demikian pernyataan pers Debudpar Senin (27/7).

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang bertindak sebagai “Komodo National Park Official Supporting Committee” mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk berpartisipasi aktif memilih (vote) kembali TNK dalam kampanye “New 7 Wonders of Nature”. Besar harapan, Taman Nasional Komodo terpilih sebagai salah satu dari “Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam” yang akan ditentukan pada tahun 2011 yang lalu.

Pada tahap final kampanye “New 7 Wonders of Nature”, ke-28 finalis akan bersaing kembali tanpa memperhitungkan peringkat dan jumlah suara pada tahap sebelumnya. Dengan demikian, seluruh masyarakat Indonesia dan dunia yang telah memilih pada tahap I dan II (sebelum 7 Juli 2009), diharapkan untuk kembali menentukan pilihannya.

Ada dua cara menentukan pilihan pada tahap akhir ini. Pertama, masyarakat dapat mengunjungi http://www.new7wonders.com dan memberikan suaranya langsung di situs itu. Kedua, pemilihan dapat dilakukan melalui saluran telepon internasional. Caranya, hubungi nomor +41 77 312 4041, setelah pesan selesai dan terdengar bunyi beep tekan kode 7717 untuk memilih Taman Nasional Komodo.
Terletak 300 km sebelah timur dari pusat budaya Bali, Pulau Komodo adalah bagian yang terpencil tampaknya prasejarah dari negara kepulauan yang luas di Indonesia. Bagian dari situs web Mimpi Pulau didedikasikan untuk menjelajahi Taman Nasional Komodo dan Taman wilayah Island, baik di atas dan di bawah gelombang. Pemandu kami dan sumber daya untuk petualangan ini akan ada beberapa ahli di dunia pada Indonesia dan diving. Mereka termasuk penulis KalMuller, ilmuwan/peneliti Dr Gerald Allen, menyelam pemimpin luar biasa LarrySmith, dan Rahasia Laut Visions fotografer Burt Jones dan Maurine Shimlock.

Baca Juga :  Tangani Bencana, Kades Rancagong keluhkan Bupati Tangerang

Rumah bagi populasi liar lebih dari 5.000 Komodo, sebuah dek berjalan tur Taman Nasional Pulau Komodo adalah sebuah pengalaman seperti tidak lain. Aroma bumi yang terbakar matahari dan suara berdekut aneh, burung-burung eksotis magapode terbang akan tinggal bersama Anda selama bertahun-tahun. Setelah berjalan di dasar sungai kering, Anda dapat melihat gua-seperti Nagasarang, menjaga mata keluar untuk perampokan pribadi yang mendekati dari hutan. Semangat gunung ketika Anda mendekati naga “makan stasiun,” di mana Anda menyertainya Park Ranger mungkin harus menangkis naga penasaran (lapar?) Dengan staf gemuk kayunya.
Kesempatan untuk melihat dan memotretmakhluk-makhluk yang luar biasa dan menakutkan, harfiah tatap muka, adalah pengalaman wisatawan tidak akan segera lupa.

Di bawah lautan sekitarnya, para ahli percaya Komodo mengandung konsentrasi global yang puncak laut keanekaragaman hayati. Akibatnya, Komodo adalah surga bagi petualang scuba diving. Berikut ini adalah sebuah tayangan, beberapanya ditulis oleh ahli penyelam dan pro-fotografer Maurine Shimlock, “Kami masukkan air transparan dingin, meninggalkan lanskap kue purba Komodo panas. Drifting dengan mudah menuruni lereng gunung berapi flamboyan dihiasi dengan karang lunak, kami lolos massa bergelombang dari ikan transparan. Bertengger di massaberwarna pastel karang lunak adalah scorpionfish berenda langka, disamarkan sebagai crinoid filter-makan terletak di antara gorgonia. Bergerak hati-hati, dan saya sendiri bersedia napas dengan tenang, aku mengangkat kamera untuk mata saya dan mulai untuk memotret makhluk indah.“

Taman Nasional Komodo terletak di tengah kepulauan Indonesia, antara pulau Sumbawa dan Flores. Didirikan pada tahun 1980, awalnya tujuan utama Taman Nasional adalah untuk melestarikan yang unik naga Komodo (Varanuskomodoensis) dan habitatnya. Namun, selama bertahun-tahun, tujuan untuk Park telah diperluas untuk melindungi keanekaragaman hayati seluruh, baik darat dan laut.
Pada tahun 1986, Taman Nasional dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia dan Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO, kedua indikasi penting biologis Park.

Taman Nasional Komodo mencakup tiga pulau utama: Komodo, Rinca dan Padar, serta banyak pulau yang lebih kecil membuat total luas permukaan (laut dan darat)dari 1817km (ekstensi yang diusulkan akan membawa total luas permukaanhingga 2.321 km2). Selain sebagai rumah bagi Komodo, Taman Nasionalmenyediakan perlindungan bagi banyak spesies lain terestrial terkenal sepertiunggas scrub oranye berkaki, sebuah tikus endemik, dan rusa. Selain itu, Taman Nasional termasuk salah satu lingkungan laut terkaya termasuk terumbu karang, mangrove, padang lamun, gunung laut, dan teluk semi tertutup. Habitat ini pelabuhan lebih dari 1.000 spesies ikan, sekitar 260 spesies karang pembentuk karang, dan 70 spesies spons. Dugong, hiu, manta ray, setidaknya 14 jenis ikan paus, lumba-lumba, dan penyu laut juga membuat Taman Nasional Komodo rumah mereka.

Ancaman terhadap keanekaragaman hayati terestrial meliputi peningkatan tekanan pada tutupan hutan dan sumber air sebagai populasi penduduk meningkat 800% selama 60 tahun terakhir. Selain itu, populasi rusa, sumbermangsa yang lebih disukai untuk langka komodo, masih rebus. Praktekpenangkapan ikan yang merusak seperti dengan peledak, sianida, dan memancing kompresor sangat mengancam sumber daya laut Taman Nasionaldengan merusak baik habitat (terumbu karang) dan sumberdayanya sendiri (ikan dan invertebrata saham). Situasi saat ini di Taman ditandai dengan berkurangtapi terus praktek penangkapan ikan terutama oleh nelayan imigran, dan tekanan tinggi pada saham demersal seperti lobster, kerang, kerapu dan napoleon.Polusi, mulai dari kotoran mentah untuk bahan kimia, meningkat dan dapat menimbulkan ancaman besar di masa depan.

Saat ini, Balai Taman Nasional PKA Komodo dan PT. Putri Naga Komodo bekerja sama untuk melindungi sumber daya yang seluas kawasan. Tujuan kami adalah untuk melindungi keanekaragaman hayati Taman Nasional (baik laut dan darat) dan stok pembibitan ikan komersial untuk penambahan sekitar daerah nelayan. Tantangan utama adalah untuk mengurangi baik ancaman terhadapsumber daya dan konflik antara kegiatan yang tidak kompatibel. Kedua belah pihak memiliki komitmen jangka panjang untuk melindungi keanekaragaman hayati laut Taman Nasional Komodo.

 

Penulis : Vincentcius Jeskial Boekan, Sumber: animallabel.wordpress.com

 

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button