Home / Populer / Makna “May Day” menurut David Selan

Makna “May Day” menurut David Selan

Bagikan Halaman ini

Share Button
david selanPembantu Rektor II PGRI NTT, Davidt Selan. (Foto: Semar)

 

 

MORAL POLITIK – Menjelang hari buruh internasional (May Day) merupakan momentum untuk memperingati perjuangan kaum buruh dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan memantapkan eksistensinya di tengah cengkraman kaum pemodal yang kerap kali mengeksplotasi kaum buruh guna mengejar keuntungan yang bertempatan pada 1 Mei.

Hal itu disampaikan David Selan, salah satu pengamat ekonomi dari Universitas PGRI NTT, Kamis (30/4/2015). “Saat ini memang kaum buruh Indonesia khususnya di (NTT) masih diperhadapkan pada berbagai masalah yang akan menggerus kesejahteraan dan eksistensi buruh, karena nasib buruh akan terus dimarjinalkan oleh berbagai kebijakan oleh pemerintah kita. Buruh selalu ditempatkan sebagai obyek pembangunan dan korban pertumbuhan ekonomi.

Rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi menyebabkan semakin hari semakin menurun tingkat pembukaan lapangan kerja, sementara calon pekerja usia produktif sudah menunggu untuk ditampung dalam dunia pekerja.
Kegagalan pemerintah kita menghadirkan lapangan kerja yang layak menyebabkan tenaga kerja kita banyak yang memutuskan bekerja di luar negeri sebagai TKI, dan lebih tragisnya lagi pemerintah NTT tidak bisa melindungi para TKI yang menghadapi berbagai masalah di luar negeri,” katanya.

Menurutnya, nasib pekerja Indonesia khusunya NTT dibiarkan dalam pusaran liberalisasi. Pemerintah belum juga mmpersiapkan SDM pekerja Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Pemerintah telah membuka pasar tenaga kerja bagi pekerja asing dan membiarkan pekerja Indonesia berpotensi menjadi “penonton” di negerinya sendiri.

Tampaknya pemerintah Jokowi Dodo tidak mau belajar dari pemberlakuan ACFTA (Asean China Free Trade Area) yang menimbulkan de-indutrialisasi. Gempuran produk impor yang lebih murah dari China menyebabkan kalahnya produk dalam negeri Flobamorata ini, sehingga banyak pengusaha beralih menjadi pedagang dan PHK massif terjadi di daerah kota karang.

Baca Juga :  Jaksa KPK ungkap penerima uang korupsi e-KTP...

Dikatakannya, pemerintah pun setali tiga uang. Nasib buruh dipertaruhkan dengan yang namanya nvestasi. Dengan dalih investasi membuka lapangan kerja bagi rakyat Nusa Tenggara Timur, kesejahteraan buruh dikesampingkan.
Sedangkan para ahli ekonomi dan lainnya, dengan masuknya investasi asing di suatu negara bukan karena gajih buruhnya yang baik (besar), tapi lebih kepada kepastian hukum yaitu undang-undang ketenaga kerjaan, tidak ada catatan dan mafia tukang palak (dana yang diminta pejabat publik), keamanan dan rasa aman, serta jaminan-jaminan lainnya. Persoalan yang ada di Indonesia khususnya NTT justru yang membuat investasi menjadi berbiaya tinggi, bukan karena tuntutan upah buruh yang tinggi.

Oleh sebab itu, wajar saja bila salah satu tuntutan para buruh dalam demonstrasi kali ini adalah penghapusan kerja kontrak yang tidak lain adalah kuli atau budak di daerah Flobamorata ini.

“Selamat buat para buruh dalam memperjuangkan hak-haknya semoga Presiden Jokowi Dodo bersama pemerintah NTT terbuka mata hatinya sehingga menjadi pejuang bagi kepentingan buruh untuk membangun daerah NTT lebih maju, pungkas dia. (Semar)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button