Home / Populer / PKL di Jalan Raya El Tari Kota Kupang Mengadu ke DPRD, Mengapa?

PKL di Jalan Raya El Tari Kota Kupang Mengadu ke DPRD, Mengapa?

Bagikan Halaman ini

Share Button
jualanPedagang Kaki Lima di Jalan Raya El Tari, Kota Kupang, kala Car Free Day, Sabtu (25/4/2015). (Foto: vjb)

 

MORAL POLITIK – Sekitar belasan warga pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan helm dan kelapa muda di sepanjang jalur Jalan El Tari, Kota Kupang pada Rabu(6/5/2015) mendatangi gedung DPRD Kota Kupang. Para PKL meminta perhatian pemerintah agar mereka juga bisa terus berjualan di jalur jalan protokol tersebut.

Kehadiran mereka di DPRD Kota Kupang diterima oleh Komisi II dan berdialog di ruang kerja Komisi II. Dialog dipimpin Ketua Komisi II Melkianus Balle didampingi Wakil Ketua Komisi Paulus Manafe dan Sekretaris Komisi Jabir Marola. Dialog dihadiri sejumlah anggota Komisi II Dewan di antaranya Mohammad Khadafi Gutban, Jemari Yoseph Dogon, Amin Laoda, dan Daniel Hurek. Sementara dari pemerintah hadir Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mesakh Bailain, Lurah Oebobo Hengki Jakob.

Baltasar Mukin, warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, penjual kelapa muda selaku juru bicara para PKL mengatakan, selama ini mereka berjualan di Jalan El Tari. Namun, beberapa hari lalu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turun meminta mereka segera mengosongkan lokasi tersebut. Semua PKL dipindahkan ke Pusat Kuliner Oebobo kecuali penjual jagung bakar.

Diakuinya, pada bulan lalu mereka diundang menghadiri sosialisasi di kantor Lurah Oebobo terkait relokasi PKL. Namun, saat sosialisasi dan pertemuan kedua, banyak pedagang yang karena kesibukannya masing-masing tak bisa hadir dalam pertemuan tersebut.

Terkait pemindahan ke lokasi baru di Jalan Polisi Militer, kata Baltasar, para PKL bukannya tidak mau. Para PKL khususnya penjual kelapa muda agak kesulitan, karena dalam sosialisasi disampaikan bahwa penjualan hanya mulai pukul 12.00 Wita. Padahal, sejak pukul 08.00 Wita, sudah banyak orang mencari kelapa muda.

Baca Juga :  Di Malaka, Partisipasi Pilkada Beda dengan Pileg

Selain itu, ketentuan bahwa mereka tak boleh menumpuk kelapa muda di lokasi penjualan, jelas akan menyulitkan mereka. Kelapa yang didatangkan rata-rata 200 buah, tak mungkin habis terjual dalam satu hari. Jika diharuskan membawa pulang kelapa, tentunya sangat memberatkan. “Apalagi kami tidak punya gerobak, bagaimana kami mau angkut kelapa bawa pulang tiap hari,” katanya.

Apalagi, tambahnya, saat ini semua tenda sudah terisi, sehingga tak bisa mereka pindah ke sana. “Penjual helm juga harus dipindahkan, tidak tahu mau dipindahkan ke mana. Kios yang di tanah penduduk dan hanya tirisan yang sampai di tanah pemerintah juga disuruh bongkar,” kata Baltasar.

Menanggapi penjelasan itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Mesakh Bailain menjelaskan, para pedagang kelapa muda yang berjualan di Jalan El Tari harus tetap dipindahkan ke Pusat Kuliner Oebobo. Sedangkan penjual helm, karena bukan kategori kuliner, maka akan dipindahkan ke pasar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan PD Pasar agar mereka dapat berjualan di los pasar.

Penjual kelapa dengan kereta agar hindari penumpukan kelapa di jalur itu yang merupakan kompleks perkantoran.

Untuk penjual jagung, kata Bailain, sesuai kebijakan Wali Kota, mereka boleh tetap di situ tapi tidak boleh bertambah lagi. Sedangkan kacang ijo tetap harus pindah ke belakang. “Kebijakan pemerintah tetap berjalan dan Pol PP siap tertibkan,” pungkas dia. (Nyongky)

 

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button