Home / Populer / Potret Derita Pemulung pada Upacara Hardiknas di NTT

Potret Derita Pemulung pada Upacara Hardiknas di NTT

Bagikan Halaman ini

Share Button
lungPemulung sedang memilih gelas aqua di depan pintu rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur usai upacara Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2015). (Foto: Semar)

 

MORAL POLITIK – Tak sadar dan tak kuasa air mata bercucuran di hari yang masih indah ini. Memandang kisah tentang banyaknya anak dieksploitasi dan pemulung yang harus mencari makan setiap hari di jalanan di beberapa titik jalan yang ada di Kota Kupang.

Alexander Djari, Pengamat Ekonomi dari Unversitas PGRI NTT, ketika ditemui moral-politik.com di ruangan kerjanya, Sabtu (2/5/2015) tadi siang, menuturkan bahwa sang ibu adalah kaum miskin di negeri Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata) yang dikuasai oleh para koruptor ini.

Dia setiap hari harus keluar rumah mencarikan gelas aqua untuk kebutuhan sehari-hari di pinggir jalanan, karena tak ada biaya untuk menghidupi keluarganya sehari- hari. Kemiskinan yang membawanya jauh dari Kota Karang, Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk sekadar menjadi pemulung bersama suaminya, Dominikus Tefa.

Alexander menambahkan, lebih menyedihkan lagi sikap politisi NTT Frans Lebu Raya, yang pada saat berkampanye untuk kepentingan lima tahun, di sisi lain juga banyaknya anak-anak diekploitasi untuk kepentingan tertentu. Ini jadinya sebuah kisah sedih yang harus dialami bertempatan dengan Hardiknas hari ini, Sabtu (2/5/2015). Dimana para pemimpinnya masih dapat hidup bersuka cita dan berpesta di atas penderitaan dan kesedihan rakyatnya yang belum bisa memberantaskan persoalan kemiskinan dan pendidikan yang ada, seperti pemulung, ekploitasi anak, dan anak jalanan.

“Kepedulian Pemprov NTT yang ada sekadar kamuflase saja. Sementara kekayaan negara dikuras demi untuk kepentingan segolongan saja,” tambahnya. (Semar)

Baca Juga :  Gerindra Tak Khawatir dengan PDIP, Jokowi Murid Prabowo!

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button