Home / Populer / Reforma Penerapan HAM dalam Hukum (3)

Reforma Penerapan HAM dalam Hukum (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button
niko ttuNiko Uskono.

 

 

MORAL POLITIK – Reforma Pemahamam dan Pembentukan Hukum. Bila ada pertanyaan, apakah dengan praktek eksekusi mati seorang terpidana, seperti pengedar narkoba, akan membuat orang lain takut dan tidak akan terlibat lagi dalam transaksi  pengedaran narkoba? Atau apakah tidak akan terulang perbuatan jahat tersebut, terutama bagi mereka yang menyaksikan peristiwa eksekusi  itu. Atau apakah  akan  merubah mental orang lain? Penulis pastikan bahwa, semua orang akan menjawab,“Tidak”. Membunuh fisik si terpidana, tidak bisa menghilangkan transaksi yang sudah berukar berakar, dalam suatu jaringan. Jaringan yang masuk kelompok mafia ini, hanya bisa diatasi dengan  perbaikan moral dan mental serta iman yang kokoh berdasarkan ajaran agamanya. Dalam konteks ini maka kejahatan adalah hasutan kuasa roh jahat.Atau dalam bahasanya Khalil Gibran, kejahatan manusia adalah akibat kebaikan yang tersiksa.

Kita mengaku beriman kepada Tuhan, tetapi tidak pernah memperhatikan pertumbuhan iman, agar jiwa tidak dirasuki roh jahat. Apabila sudah terjadi suatu kejahatan, baru tergerak untuk kita carikan jalan keluar. Perhatian kita langsung ditujukan  kepada penanganan fisik. Manusia yang secara utuh terdiri dari jiwa dan raga/fisik, perlu ditangani secara seimbang. Bahasa Alkitab mengajarkan bahwa,”kita tidak hanya berjuang melawan fisik darah dan daging manusia, tetapi mestinya kita melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat yang bergentayangan di  udara”. (Bdk.Surat Paulus kepada  Umat di Efesus,6:12).

Perlu adanya suatu peletakan dasar pemahaman yang kuat bahwa “Musuh kita bersama adalah kejahatan” Our enemy together is crime. Perbuatan manusia yang mengakibatkan kejahatan itulah yang harus dihukum.Sedangkan manusia atau orangnya harus diselamatkan. Bahasa Alkitab menyatakan bahwa manusianya harus dicintai.Tetapi bagaimana manusia bisa saling mencintai, kalau yang terlebih dahulu dilihat adalah bentuk fisiknya, warna kulitnya.

Video yang kita miliki adalah yang nampak secara fisik manusia dengan segala perbuatan dan terutama kesalahannya yang menyinggung perasaan dan  pikiran kita, dimana langsung membentuk keputusan dalam diri kita, bahwa orang tersebut  haruslah dibenci, malah mulai rencana bagaimana orangnya itu dihilangkan saja. Padahal Kebencian itu harus ditujukan kepada roh jahat yang pandai berkamuflase dalam segala rupa yang nampak dan dengan  segala  tipu dayanya yang menggoda dan mengiurkan hati  manusia agar kenikmatan yang ditawarkan itu membuat manusia memilihnya, asal syaratnya manusia harus menyembahnya dan dengan demikian  tercapailah tujuan roh jahat menghancurkan manusia dan menjauhkan manusia dari Tuhan Penciptanya.(Cfr. Pencobaan  di Padang Gurun, Luk.4:1-13).

Baca Juga :  Rumah Kos ini dikenal juga sebagai Tempat Istri Simpanan

Video yang harus kita miliki adalah bagaimana melihat keadaan psikologis orang yang  sudah jatuh terpikat dengan rayuan roh jahat, dan terjerumus dalam perbuatan jahat, yang harus kita selamatkan. Dengan video yang kita miliki ini, maka kesadaran (Conciencitas) yang ada dalam diri orang itu akan  dibangkitkan, sehingga jiwanya yang terbelenggu dapat dikeluarkan dari  sikap pilihan jalannya yang salah. Bila tidak, bagaimana bisa kita bermadah bersama St.Irenius, dalam permenungan filsafatnya bahwa ”Kemuliaan Allah (berkembang) pada manusia yang hidup”.  (Gloria Dei Homo vivans)? (Pius Pandor, Ex Latina Claritas, Obor, 2010, hlm.120).

Karena manusia adalah makluk ciptaan Tuhan yang termulia, dan karena itu disebut Imago Dei,gambaran/citra Allah. Pemurnian pikiran inilah yang selama ini tercemar oleh belenggu roh jahat yang terus menghasut manusia bahwa siapa saja yang bersikap melawan hukum harus dibunuh atau dilenyapkan wajah-fisiknya dari muka bumi ini, padahal itulah yang dikehendaki dan dinanti-nantikan roh jahat. Pemikiran ini yang mempengaruhi sikap bathin manusia dan akhirnya mempengaruhi perumusan pembentukan Undang-Undang dalam melegalkan hukuman mati sebagai wujud ekspresi jiwa atau perasaan terdalam dari masyarakat,yang disebut volksgeist. Jiwa yang terbelenggu oleh kesalahan pemahaman zaman lalu inilah yang harus diubah.

Inilah perubahan paradigma baru yang harus disambut secara gempita. Inilah perubahan pemikiran secara revolusioner, bahwa kita tidak bisa membunuh orang lain karena terbukti bersalah dan kita mengharapkan agar orang lain yang masih hidup, yang bisa berubah. Sebab apa? Sebab masing-masing orang adalah pribadi yang  berharga dan bertanggung jawab atas keselamatan dirinya di hadapan Tuhan. Praktek berdasarkan hukum yang sudah kita jalani  adalah salah, dan tidak efektif. Kita tidak mencapai tujuan. Kita tidak berhasil menyelamatan jiwa orang yang dieksekusi mati. Sebab fisik manusia ini memang akan mati dan akan kembali ke tanah, karena tubuh manusia dalam Kitab Kejadian (Genesis) diyakini berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah, tetapi jiwa(napas)manusia adalah Roh yang berasal dari Tuhan dan  akan kembali kepada Tuhan, sebab itu jiwa  tetap hidup dan tidak akan pernah mati.(Soul never die).

Baca Juga :  Ahok akan diperiksa, Kabareskrim mohon doa restu...

Jiwalah yang mempertangggung jawabkan hidup di hadapan Tuhan selama dalam peziarahan hidup di dunia. Oleh karena itu kita tidak bisa mengharapkan suatu efek jera, dari akibat yang diderita orang lain, agar  orang yang masih hidup berubah dan atau tidak turut terlibat dalam perbuatan yang diancam hukuman mati. Pemikiran yang keliru ini harus dihentikan, sebab sekalipun manusia dihukum mati, tidak sedikitpun menyurutkan niat orang untuk berbuat jahat. Kesalahan inilah yang harus dirombak. Pendidikan dan pembinaan mental, moral dan jiwa serta pemurnian pikiran, perlu perbaikan.

Aparat penegak hukum yang tidak mampu menunjukkan contoh dan teladan di dalam pembinaan dan pendidikan di bangsa dan negara ini adalah ekspresi jiwa masyarakat kita yang terpantul sebagai kenyataan yang harus kita terima.Oleh karena itu pemurnian sistem pendidikan itu sendiri, harus dibenahi.Dalam pendidikan tidak bisa kita hanya kejar pemenuhan kognitif. Tidak hanya pemenuhan kecerdasan nalar intelektual, tetapi perlu perhatian dan penekanan terhadap kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan terutama kecerdasan moral-religius.

Kita masih temui dalam kenyataan, bahwa  ada praktek yang tidak bisa dimengerti seperti tahanan mati dalam sel Polisi, apalagi mati secara tidak wajar dan Polisi tidak diminta pertanggung jawaban apa-apa? Seperti kasus Paulus Usnaat, yang mati di sel Mapolsek Nunpene- Kefa-TTU. Penulis berharap KAPOLRI baru, benar-benar bersihkan anggota dalam internal Lembaga yang dipimpinnya. Bagaimana penyidik Polda NTT, mempertontonkan aksinya tidak memenuhi permintaan petunjuk Jaksa, dan mengulur-ulur waktu, sampai masa penahanan tersangka selesai dan  harus bebas demi hukum. Gaya ini dipertontonkan seperti sulit mengungkap kasus ini, hanya bermaksud agar bagaimana bisa Polisi lolos dari status tersangka dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

Baca Juga :  SBY: Info Intelijen Demo 4 November Digerakkan Parpol, Itu Fitnah dan Menghina

Proses sidang kasus ini sedang berlangsung, dan Polisi tidak ada satupun yang berstatus tersangka. Di mana tegaknya hukum? Bagaimana di dalam tahanan masih terjadi berbagai transaksi kejahatan, seperti peredaran narkoba, tahanan atau Napi wanita bisa hamil dan melahirkan, tanpa ada yang bertanggung jawab, bagaimana Sipir menyediakan ruang tahanan di blok tertentu yang dapat diperjual-belikan kepada Napi, dan berbagai kejahatan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu dalam satu daftar litani panjang di sini. Bagaimana praktek seleksi penerimaan Polisi yang murni? atau yang lain harus penuhi permintaan panitia. Bagaimana praktek jual beli pemasangan pasal di Polisi, jual beli tuntutan Jaksa , dan jual beli amar putusan hukum Hakim di Pengadilan, jual beli ruang tahanan dengan Sipir di Rutan/Lapas. Bagaimana dengan keyakinan yang dijamin hukum, bahwa putusan Hakim yang  dijatuhkan di atas kop Demi keadilan berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa, adalah benar kehendak Tuhan?

Pembentukan pemahaman hukum kita bahwa hukuman mati itu  baik, benar dan legal atau praktek pelegalisasian pencabutan nyawa manusia melalui palu Hakim, diterima sebagai benar, padahal itulah yang salah dan bertentangan dengan HAM dan kasih Tuhan yang menghidupkan. Manusia dengan kuasa dan atas nama apapun, tidak mempunyai hak untuk mencabut nyawa seseorang. Selama ini semuanya itu dibiarkan terus bertumbuh subur dan selalu ada sikap pembiaran, karena manusia jatuh terjerumus dalam godaan roh jahat (Setan) yang selalu menawarkan kenikmatan dalam bungkusan kepentingan yang saling menguntungkan. Inikah yang dimaksud,Negeri Para Mafioso,Hukum di Sarang Koruptor, seperti yang diangkat Denny Indrayana? (Denny,Kompas,2008). (Bersambung)

Penulis: Niko Uskono, Dosen Universitas Timor di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button