Home / News NTT / Inilah Curhat Yohanis Rihi dan Yanti Seubela

Inilah Curhat Yohanis Rihi dan Yanti Seubela

Yohanis D Rihi dan Yakoba Yanti Seubela (Foto: Semar)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Tim kuasa hukum Gerson Tanuab, Yohanis D Rihi, berencana akan banding terhadap putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Kupang terkait kasus memberikan keterangan palsu dalam ruangan persidangan.‎ Mereka menilai putusan majelis hakim tidak sesuai dengan kejadian atau fakta-fakta persidangan.

Kuasa hukum terdakwa Gerson Tanuab, Yohanis D Rihi alias JR sangat menyayangkan hakim dalam memutuskan perkara karena telah mengabaikan fakta-fakta persidangan. Karena itu demi keadilan, kebenaran dan masa depan mereka, pihaknya akan mengajukan banding terhadap putusan majelis hakim.

“Nantinya kami akan mengajukan permintaan untuk (mengadili ulang) ke Mahkamah Agung, agar para hakim dapat melihat bukti dan fakta-fakta yang begitu jelas yang mendukung tidak terjadinya keterangan palsu sesuai pasal 242 yang ditetapkan kepada terdakwa oleh majelis hakim,” kata JR kepada moral-politik.com, di Kota Kupang, Senin (26/10/2015).

JR menjelskan bahwa majelis hakim memvonis terdakwa sampai 3 tahun penjara lalu menggunakan pasal 242. Menurutnya, konstruksi dan dasar putusan majelis hakim hanya mengikuti alur cerita yang telah disusun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Padahal cerita yang digunakan Jaksa dalam menyusun tuntutan tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dalam sidang.

Senada dengan JR, Yakoba Yanti Seubela (YYS), salah satu kuasa hukum Gerson Tanuab menambahkan, jika dalam putusan hukum sudah tidak memperhatikan fakta-fakta dan bukti-bukti persidangan, maka seharusnya sidang tak perlu lagi digelar. “Lebih baik majelis hakim langsung memutuskan sejak awal bahwa pekerja kebersihan ini salah dan harus dihukum. Biar orang-orang yang ingin menikmati keuntungan dari derita pekerja kebersihan ini puas,” tambah pengacara cantik berasal dari Kabupaten Rote Ndao ini.

YYS menjelaskan, menurut hukum, kesaksian seorang saksi bukanlah alat bukti yang sah. Kesaksian saksi di persidangan hanya merupakan bukti tambahan bila kesaksian saksi itu memperkuat alat bukti sah lainnya. “Dalam kasus ini, tidak ada alat bukti yang sah yang menunjukkan terjadinya keterangan palsu di ruangan persidangan,” pungkas dia. **

Baca Juga :  Kios Nabila terbakar, Polres Sikka belum temukan penyebabnya
Penulis  : Semar
Editor   : Erny

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button