Home / Gallery / Mengenang Asrama TTU, di Detik Terakhir Dirobohkan (3)

Mengenang Asrama TTU, di Detik Terakhir Dirobohkan (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button

asrama-ttu-6

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Kendati bukan orang dari tanah Biinmaffo, tapi lantaran rumah dikepung oleh orang dari daerah yang berbatasan dengan Negara Timor Leste itu, akhirnya saya sedikit tahu budaya dan bahasa setempat.

Teringat saya akan kenangan dengan Gabriel Manek dan Ray Fernandes. Mereka adalah dua sosok Bupati TTU yang boleh dibilang cukup dekat dengan saya. Terutama Ray yang kala itu aktif berorganisasi sebagai Ketua IMATTU, dan sejumlah organisasi kepemudaan lainnya, sering menggunakan telpon di rumah saya jika ada yang ingin berbicara dengannya. Sebagai orang yang usianya lebih tua, saya sering fi’i nama panggilannya dari jarak sekitar 70 meter.

Tapi manakala Ray telah jadi Wakil Bupati, apalagi Bupati, sapaan itu berupah sesuai dengan jabatannya: Pak Wakil Bupati TTU, Pak Bupati TTU. Kendati demikian dirinya tetap santun, menyapa saya dengan ‘Kaka’.

Betapa hati saya teriris-iris manakala memandang peristiwa perobohan gedung paling bersejarah dengan menggunakan alat berat, bagi Pemkab dan masyarakat TTU itu. Tapi apakah dengan begitu saya harus persalahkan Bupati Ray dan Wakil Bupatinya? Tidak! Kalau pun saya punya keberanian, saya hanya bisa persalahkan sejarah. Mengapa ketika itu Pemkab hanya pinjam pakai tanah, tidak beli putus dengan bukti-bukti yang sahih? (bersambung)

Penulis : Vincent

 

Baca Juga :  Kota Kupang dan riakan lembut di CFD (6)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button