Ketua Sinode GMIT 2015-2019, Pdt. DR. Mery Kolimon (Foto: Akun Facebook Mery Kolimon)

 

MORAL-POLITIK.COM – Ungkapan klasik namun not outdated hingga kapanpun jua: “Tak ada perjamuan yang tak usai” sangat tepat dikaitkan dengan gelaran Sidang Sinode GMIT ke-XXXIII di negeri kelahiranku, Ba’a, Rote Ndao.

Pengalaman pada sidang-sidang di tingkat apapun, fakta paling menarik yang sangat dinanti-nantikan adalah sosok pemimpin yang berhasil ditelorkan.

Sudah diketahui luas, sidang sinode kali ini boleh dikatakan paling menarik untuk dikaji dan dipelajari, sebab bebas dari intrik-intrik beraroma miris, semisal money politics, kolusi dan nepotisme. Indikatornya ternganga cukup jelas ketika perhitungan suara mulai dilangsungkan. Perlahan-lahan tapi pasti, sosok Pdt. DR. Mery Kolimon yang jauh-jauh hari tidak saja dijagokan oleh tokoh-tokoh Protestan, tapi oleh saya sendiri, misalnya, mininggalkan dua pesaingnya, yaitu Pdt. Benyamin Nara Lulu, dan Pdt. Mesakh Dethan.

Sebenarnya apa yang membuat Pdt. DR.Mery Kolimon begitu diharapkan untuk menjadi orang nomor satu di GMIT? Hanya satu hal yang sangat menonjol, yakni kerinduan akan seorang sosok yang bisa berbicara untuk kepentingan gereja lokal di kancah nasional, regional, dan internasional yang dilahirkan oleh ayah dan ibu kandung yang bernama Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal menarik lain yang juga tak bisa dipandang enteng adalah kesederhanaan, kebersehajaan, kepedulian terhadap kehidupan menggereja di luar altar dari sosok Pdt.DR.Mery Kolimon, dipandang memiliki nilai yang jauh berbeda dengan pesaing-pesaingnya.

Hal kecil namun bernilai sangat besar yang ada pada sosok Pdt.DR.Mery Kolimon adalah keikhlasannya berbagi waktu untuk mengkomunikasikan hal-hal penting di akun media sosial (Facebook). Jika disimak cermat-cermat, tak ada kata-kata yang bertendensi menyinggung orang lain, tak ada tendensi pamer gaun mahal, apalagi kecantikan dan keseksiannya. Juga tak pernah terbaca ada satu statuspun dalam Bahasa Inggris dengan maksud mendapat pengakuan bisa berbahasa asing dengan baik.

Entah apa yang mendasari terang pikir dia. Tapi catatan saya menunjukkan, Pdt.DR.Mery Kolimon konsekuen dengan mimpi indah dan tulusnya untuk menjadi Ketua Sinode GMIT. Dia mencoba bangkit kembali dan menunjukkan eksisitensinya sebagai sosok yang layak untuk menjadi gembala domba-domba, meluruskan yang bengkok-bengkok, meratakan yang berlubang-lubang, dan mewangikan yang terasa mulai beraroma kurang sedap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 1 =