Home / Populer / Target Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Dikritik Mantan Menkeu Era SBY

Target Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Dikritik Mantan Menkeu Era SBY

Bagikan Halaman ini

Share Button
mantan-menkeuMantan Menteri Keuangan M.Chatib Basri.

 

 
MORAL-POLITIK.COM – Perbedaan pendapat semakin menyata manakala Indonesia dilanda pelemahan nilai tukar rupiah, atau menguatnya dollar. Terakhir ini muncul pemikiran dari mantan Menteri Keuangan era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri. Dirinya mengkritik pedas target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi terlampau tinggi dan tak realistis di tengah pelemahan perekonomian global saat ini.

Meski begitu, dia memaklumi bahwa ketidakrealistisan target tersebut merupakan “daya jual” di setiap gelaran kampanye. Bahkan kata Chatib, tanpa ketidakrealistisan itu, seseorang tak akan menang dalam pemilihan umum.

“Masalahnya kalau Anda realistis, Anda enggak akan jadi presiden, tapi akan jadi dosen. Kalau bilang pertumbuhan ekonomi itu hanya 4,5 persen (saat pemilu), enggak akan ada yang pilih ,” ujar Chatib dalam seminar ekonomi nasional di Jakarta, Senin (5/10/2015).

Di mata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu, persoalan saat ini yang dibuat pemerintah adalah mematok target pertumbuhan terlalu tinggi. Akibatnya, ekspektasi masyakarat termasuk pelaku pasar begitu besar kepada pemerintah.

Namun sayangnya, ekspektasi besar itu tak sesuai realistis yang terjadi. Pertumbuhan ekonomi ternyata jauh dari apa yang digembar-gemborkan saat pemilu.

“Yang membuat persolan adalah ekspektasi terlalu tinggi. Orang percaya terjadi perubahan seketika. Saya enggak percaya perubahan drastis. Saya 10 tahun membantu pemerintah . Kalau yang bagus-bagus nanti saja pas laporan pertanggungjawaban, tapi dalam praktik idealistik,” kata dia.

Meski begitu, Chatib mengaku tak pernah pesimistis dengan masa depan Indonesia di bawah bendera kepemimpinan Presiden Jokowi. Baginya, yang mesti diperbaiki adalah kerealistisan itu. Bila itu dilakukan, dia yakin, Indonesia akan terus melangkah maju.

Baca Juga :  Arab Saudi usir semua unta dan domba Qatar

“Tahun 1998, semua orang bicara pertumbuhan ekonomi minus 13 persen, bicara Balkanisasi, orang bilang kita enggak akan bisa pilih presiden karena kita enggak percaya diri dengan pemilihan langsung. Tapi 2008, 10 tahun dari 1998, Indonesia jadi member G20 tuh. From zero to hero, ini yang harus kita bangun dan realistis dengan apa yang ada,” tandas Chatib dalam seminar itu.

Pada pemilu 2014 lalu, Presiden Joko Widodo bertekad meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7 persen. Meski demikian, Jokowi mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen bisa tercapai dengan berbagai persyaratan diantaranya iklim investasi yang kondusif. **

 

Penulis  : Yoga Sukmana
Editor    : Bambang Priyo Jatmiko/Erny
Sumber : Kompas.com

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button