Home / News NTT / Ternyata Kekerasan Seksual Tidak Sampai Ranah Hukum

Ternyata Kekerasan Seksual Tidak Sampai Ranah Hukum

Bagikan Halaman ini

Share Button
eka-puskesmasKoordinator Puskesmas Rama Anak Pasir Panjang, dr. Eka Muftiana. (nttsatu.com)

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Pendataan dan pelayanan kesehatan bagi korban kekerasan seksual terhadap anak di Puskesmas Ramah Anak Pasir Panjang, Kota Kupang belum terdata secara akurat. Pasalnya, orangtua yang membawa anak mereka yang mengalami tindakan kekerasan seksual ke Puskemas Ramah Anak belum jujur untuk mengakui apa yang dialami anak mereka sebenarnya.

“Para orang tua yang membawah anak mereka yang jadi korban kekerasan seksual ke Puskesmas Ramah Anak untuk mendapat pelayanan kesehatan kadang tidak jujur untuk mengatakan dan bahkan kadang menolak untuk diperiksa. Maka pendataan korban kekerasan seksual terhadap anak tidak bisa didata,” kata Koordinator Puskesmas Rama Anak Pasir Panjang, dr. Eka Muftiana, disela-sela acara pelatihan konseling bagi anggota community based crisis center (CBCC), di Hotel Olive Kupang, Kamis (29/10/2015).

Menurutnya, kasus kekerasan seksual tidak terlalu banyak yang terungkap karena sulitnya anak menjadi korban kekerasan seksual mengaku kepada petugas meskipun dari hasil pemeriksaan ada indikasi bahwa mereka mengalami kekersan seksual. Hal itu diperparah lagi dengan tingkah orangtua yang enggan memberitahu persoalan sebenarnya yang dialami oleh anak mereka sehingga rata-rata korban dugaan kekerasan seksual yang datang berobat di puskesmas, tidak mendapat jamahan hukum karena orangtua dan anak mendiami apa yang dialami.

“Biasanya korban kekerasan fisik yang mau mengaku secara jujur atas apa yang menimpa mereka. Sedangkan yang mengalami kekerasan seksual lebih memilih diam,” katanya.

Dikatakan, puskemas memiliki jejaring jika terjadi kekerasan yakni dengan berkoordinasi untuk bisa melakukan pendampingan terhadap korban jika pihak keluarga berkeinginan memproses kasus tersebut. Jejaring ini seperti Rumah Perempuan dan Kepolisian, namun selama ini jejaring ini hanya dimanfaatkan untuk penanganan kasus secara fisik saja. Sedangkan kasus kekerasan seksual tidak pernah ada tindaklanjut karena korban dan orangtua lebih memilih mendiamkan kasus.

Baca Juga :  Mikhael Rajamuda Bataona: Koalisi Golkar dan PDI-P Untungkan Jonas Salean

Ia menjelaskan, secara hubungan puskemas dibawa naungan Dinkes, tetapi Puskemas Ramah Anak juga memiliki peran sendiri jika menangani korban kekerasan.Karena penanganan pelayanan kesehatan di Puskemas Ramah Anak macam-macam yakni akibat kekerasan psikis maupun fisik, namun pelayanan kesehatan lebih banyak fisik akibat kekerasan.

“Hingga saat ini sudah enam kasus kekerasan fisik yang didampingi oleh jejaring puskesmas ramah anak. Bahkan pendampingan sudah sampai pada proses hukum,” pungkasnya. **

Penulis: Nyongki
Editor    : Erny

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button