MORAL-POLITIK.COM  – Polisi sudah menyatakan akan memburu siapa yang menebar fitnah soal foto Suku Anak Dalam. Saat ini di dunia netizen sedang gaduh soal suku anak dalam, dan surat edaran soal perilaku Sosial Media akan membawa korban penangkapan baru. Sampai sejauh ini soal fitnah Presiden sedang melakukan settingan, beredar oleh dua influencer yang banyak diikuti oleh masyarakat. Dua influencer itu adalah :

1. Akun PKS Piyungan
2. Twitter KRMT Roy Suryo, yang disebut sebut sebagai ahli pakar telematika.
Dari sisi pembantu Presiden RI, mereka menyatakan tidak ada settingan atas foto-foto yang beredar, ada dua barisan foto: Pertama foto Presiden RI dengan suku anak dalam yang duduk di tengah hutang sawit, dimana suku anak dalam yang beberapa orang bertelanjang dada dan mengenakan celana khas suku anak dalam. Dan yang kedua, adalah foto dimana suku anak dalam sudah mengenakan batik.
Kehebohan terjadi dalam berita yang disiarkan PKS Piyungan dimana pernyataan Roy Suryo dimuat jelas dalam berita yang berjudul: Behind The Scene Suku Anak Dalam
Berita PKS Piyungan yang memberitakan soal settingan suku anak dalam termuat juga komentar Roy Suryo (Sumber Situs PKS Piyungan)
Dalam twitternya memang Roy Suryo dengan nyindir mengeluarkan meme yang seakan akan Presiden melakukan rekayasa atas berita, sementara dari pihak Kepolisian menyatakan bahwa ini bisa melukai perasaan suku anak dalam. Hanya saja ini jelas pasal delik aduan dan Polisi menunggu apa ada laporan masyarakat soal ini terutama dari Suku Anak Dalam ( Berita : Rappler, Penyebar Berita Fitnah Suku Anak Dalam )
“Bisa (masuk kategori hate speech). Ini kan menyangkut masalah perasaan,” kata Badrodin pada Rappler, Senin, 2 November.
Terlebih jika tudingan rekayasa itu tidak benar. “Itu akan menyinggung perasaan Suku Anak Dalam. Bisa saja ada perasaan yang dilecehkan,” katanya.
Berangkat dari perasaan dilecehkan tersebut, bisa saja salah satu pihak dari Suku Anak Dalam atau Jokowi melaporkan orang yang menuding pertemuan tersebut sebagai rekayasa belaka.
Karena kasus ini masuk kategori delik aduan, artinya dilaporkan oleh pihak yang merasa dirugikan, baru bisa diusut oleh polisi.
Apakah PKS Piyungan dan Roy Suryo terkena delik pidana pencemaran nama baik atas delik aduan yang bisa saja terjadi bila Suku Anak Dalam atau masyarakat lain merasa dirugikan karena ini akan jadi ramai diskusi publik soal pembuktian foto tersebut, Roy Suryo juga dikenal sebagai Pakar Telematika, dia pasti juga punya jurus-jurus untuk mengeluarkan alibinya atas tuduhan di atas.
Persoalan hinaan Presiden memang digerakkan mereka yang anti terhadap Pemerintahan Joko Widodo, tapi kritiknya lebih cenderung pada fitnah, bukan kritikan yang objektif, mendalam dan membawa cara pandang yang lebih luas soal membangun negara, kiranya Polisi juga sudah bisa bersikap tegas terhadap kejahatan kejahatan Bully, termasuk Bully terhadap Presiden Joko Widodo yang sepertinya sudah melampaui batas.
“Kalau tidak ditempuh dengan hukum, akan dijadikan data intelijen,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Anton Charliyan di Kompleks Mabes Polri, Senin (2/11/2015).
Penyelidikan ini, kata Anton, berbeda dengan penyelidikan sebuah perkara tindak pidana biasa. Perbedaannya, penyelidikan ini dilakukan secara tertutup.
Pada prinsipnya, aparat penegak hukum tidak bisa diam saja melihat simbol negara diperlakukan tidak pantas.
Namun, karena hal ini masuk kategori delik aduan, polisi menghormati hak pihak yang merasa dirugikan, apakah mau melapor atau tidak.
Yang jelas, Anton menyayangkan penyebaran fitnah melalui media sosial tersebut. Menurut dia, tak pantas jika Presiden sebagai simbol negara diperlakukan seperti itu.
“Kita harus tahu bahwa Presiden itu simbol negara. Apa bangsa kita senang menjatuhkan simbol-simbol negara? Biasanya orang yang menjatuhkan simbol negara, bisa jadi, nantinya menjatuhkan negara juga. Ini yang harus diwaspadai,” ujar dia.
Foto pertemuan Jokowi dan warga Suku Anak Dalam itu menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Foto yang diunggah di media sosial atau medsos itu menunjukkan dua peristiwa, yakni ketika Jokowi melakukan perbincangan dengan warga.
Salah satu foto menunjukkan Jokowi berdialog dengan warga di rumah singgah Suku Anak Dalam. Warga mengenakan pakaian lengkap dan tertutup.
Adapun foto lainnya menunjukkan Jokowi berbincang dengan warga yang hanya mengenakan penutup seadanya.
Perbandingan kedua foto itu seolah menunjukkan bahwa Jokowi berbincang dengan orang yang sama.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung menilai bahwa tudingan yang menyebutkan Presiden Joko Widodo merekayasa pertemuan dengan warga Suku Anak Dalam di Jambi pada pekan lalu adalah upaya pembunuhan karakter.
“Presiden secara sungguh-sungguh ingin mengangkat persoalan Suku Anak Dalam tanpa pretensi apa-apa, dan kemudian dilakukan semacam character assassination kepada Presiden,” ujar Pramono di Kantor Presiden, Senin (2/11/2015).
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu mengatakan bahwa Jokowi selama ini memang lebih memfokuskan masyarakat yang betul-betul memerlukan perhatian pemerintah. Hal itulah yang mendorong Jokowi untuk menemui warga Suku Anak Dalam.
Pramono mengatakan bahwa dua foto yang menunjukkan Suku Anak Dalam yang berpakaian seadanya dan yang berpakaian lengkap adalah dua kelompok berbeda.
Pramono membantah bahwa mereka sedang melakukan briefing bersama Jokowi, sebagaimana diinformasikan di media sosial.
“Teman-teman media juga sama-sama hadir pada waktu itu, di lapangan, sama sekali tidak ada rekayasa foto atau apa pun, dan itu bukan karakter presiden kita. Presiden ini apa adanya,” kata dia.
Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa hal itu tidak akan dilaporkan ke polisi.
Foto pertemuan Jokowi dan warga Suku Anak Dalam itu menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Foto yang diunggah di medsos menunjukkan dua peristiwa ketika Jokowi melakukan perbincangan dengan warga.
Salah satu foto menunjukkan Jokowi berdialog dengan warga di rumah singgah Suku Anak Dalam. Warga mengenakan pakaian lengkap dan tertutup.
Adapun foto lainnya menunjukkan Jokowi berbincang dengan warga yang mengenakan penutup seadanya.
Perbandingan kedua foto itu seolah menunjukkan Jokowi berbincang dengan orang yang sama
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansah membantah bahwa pertemuan Presiden Joko Widodo dengan masyarakat Suku Anak Dalam di Kabupaten
Sorolangu, Jambi, Jumat (30/10/2015), merupakan rekayasa.
“Aku heran, dibilang orangnya sama, kan saya itu ngecek lapangan,” kata Khofifah di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (2/11/2015).
Khofifah menyayangkan, foto-foto Jokowi bersama Suku Anak Dalam yang disebarkan di media sosial dinilai demikian.
Ia memastikan bahwa foto-fofo tersebut diambil di lokasi berbeda dengan orang yang berbeda pula.
“Ini beda tempat, beda orang, beda situasi,” ujar Khofifah, yang mengikuti kunjungan Jokowi bersama Suku Anak Dalam tersebut.
Khofifah mengaku tidak mengerti soal penilaian pertemuan direkayasa hanya dengan foto yang menampilkan bagian belakang.
Padahal, menurut Khofifah, semua warga Suku Anak Dalam memiliki kesamaan rambut yang tumbuh lebat.
“Kepala (kalau) dilihat dari belakang itu sama, saya juga kaget. Aku sampai geli, bagaimana bisa kepala dianggap sama,” ujarnya.
Foto pertemuan Jokowi dan warga Suku Anak Dalam itu menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Foto yang diunggah di medsos menunjukkan dua peristiwa ketika Jokowi melakukan perbincangan dengan warga. Salah satu foto menunjukkan Jokowi berdialog dengan warga di rumah singgah Suku Anak Dalam. Warga mengenakan pakaian lengkap dan tertutup. Adapun foto lainnya menunjukkan Jokowi berbincang dengan warga yang hanya mengenakan penutup seadanya. Perbandingan kedua foto itu seolah memperlihatkan Jokowi berbincang dengan orang yang sama. **
Editor    : Erny
Sumber: Beritateratas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 5 = 2