buruhIlustrasi (kriminalitas.com)

 

 

 

JAKARTA – Gerakan buruh terlanjur menjadi gerakan politik. Segala sesuatu disampaikan dengan unjuk rasa, sehingga penyampaian asporasi buruh berbau “menekan” pemerintah dengan memosisikan buruh sebagai kekuatan politik.

“Karena terlanjur sebagai gerakan politik, maka partai politik pun berebutan meraih simpati pemimpin buruh. Namun perlu ditanya pula, apakah partai memang memperjuangakan aspirasi buruh,” kata Sihol Manullang dalam diskusi yang diadakan Youth Movement Insitute di Jakarta Selasa (24/11) malam, dihadiri aktivis dari berbagai kampus di Jakarta.

Tampil bersama Syukur Sarto, Ketua Harian Konfederasi Serikat Pekerke Seluruh Indonesia (KSPSI), Sihol mengatakan, tak banyak anggota masyarakat yang tahu, apakah organisasi buruh sudah menyajikan perbandingan kondisi buruh di berbagai negara.

Masyarakat perlu memperoleh informasi benar, bagaimana produktivitas buruh kita dibanding negara berkembang seperti Vietnam. Perlu juga dibandingkan, dengan tingkat pendidikan rata-rata buruh di berbagai negara, bagaimana kesejahteraan mereka.

“Gerakan buruh gagal membentangkan akar persoalan kesejahteraan buruh. Menjadi pertanyaan. Mengapa buruh kita tidak meminta perhatian pemerintah membangun perumahan yang terjangkau oleh buruh,” katanya.

Syukur Sarto mengatakan, teori dasar pengupahan adalah keahlian/pendidikan. Semakin tinggi keahlian/pendidikan, upah semakin besar. Salah satu masalah di Indonesia, upah tertinggi bisa 200 kali upah terendah. Padahal Barat saja, paling 40 kali.

Menurut Sihol, apabila buruh hanya mempersoalkan upah dan melupakan masalah mendasar seperti perumahan, transportasi dan pendidikan, maka yang rugi adalah buruh sendiri. Kenaikan upah selalu mendorong kenaikan harga, sehingga secara indeks tidak ada kemajuan.

Indeks kesejahteraan meningkat, hanya apabila kenaikan upah didasarkan pada inflasi dan pertumbuhan. “Kenaikan harga akibat kenaikan upah sebelumnya, sudah muncul dalam inflasi. Peningkatan kesejahteraan akan berasal dari pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (dd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 5 =