ttsMauren Zhizhiliana.

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Membahas soal tenun ikat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) takkan pernah habis-habisnya. Hasil kerajinan tangan asli masyarakat di perdesaan ini kaku dalam corak, benang dan cara menenun, tapi dinamis dalam pemasaran dan pemanfaatannya.

Ambil contoh, jika dulu tenun ikat hanya dipakai oleh wanita-wanita di kampung, kini di perkotaan juga dipakai untuk menambah gaya, karena kebutuhan acara, dan karena diwajibkan pimpinan daerah.

Mauren Zhizhiliana, wanita paruh baya yang beralamat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini, menggugah pesona untuk menggali kesannya tentang tenun ikat. Melalui inbox di akun Facebook-nya, Mauren tak malu-malu menguak tabir bahwa bahan tenun yang dipakainya bukan masuk dalam kategori mahal.

“Itu motif dari Soe, harganya Rp.200.000, ongkos jahitnya Rp. 150.000, totalnya Rp. 350.000,” ungkapnya, Minggu (15/11/2015) petang.

Ketika ditanya kapan membeli dan menjahitnya, dirinya mengatakan itu harga beberapa tahun lalu.

Tentu saja, kini harganya membumbung tinggi, bahannya Rp. 450.000, ongkos jahit Rp. 400.000, total Rp. 850.000.

Wanita yang mengaku berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kecamatan Amanuban Barat dan berzodiak Pisces ini berharap ada perubahan kebijakan dari pemerintah provinsi dan kabupaten agar PNS bisa memakai pakaian dari bahan tenun ikat tidak saja pada hari Kamis, kalau bisa seminggu tiga kali sehingga lebih membantu penghasilan masyarakat penenun di kampung-kampung.

“Kalau tidak begitu, mana bisa merangsang generasi muda untuk belajar menenun. Kasihan jika tak ada regenerasi,” tambah dia.

Mauren juga menceritakan pengalamannya pernah tinggal di Nusa Tenggara Barat (NTB) lalu ikut orangtuanya kembali ke TTS. “Sebelum saya diangkat sebagai PNS lalu ditempatkan di Kecamatan, saya bekerja sebagai tenaga kontrak di Dinas Pariwisata Kabupaten TTS,” pungkasnya mengakhiri obrolan petang. **

 

Penulis: Vincent

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + 3 =