andriKepala Dinas PU NTT, Andre W. Koreh, di ruang kerjanya. (Ist)

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Perhatian Pemprov NTT terhadap Pemkot Kupang juga termasuk soal pola perilaku pelayanan kepada masyarakat. Andre Koreh mengurai, konsekuensi logis sebagai pegawai negeri sipil (PNS) adalah bagaimana memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

“Pelayanan prima yang saya maksudkan adalah bagaimana melaksanakannya dengan senang hati sembari menyunggingkan senyum. Kan tak ada salahnya. Sikap-sikap flamboyan seperti itu awalnya agak berat, tapi apapun alasannya mesti dipelajari dan dimulai dari sekarang,” simpulnya.

Solusinya, tambahnya, pihaknya akan terus meningkatkan koordinasi dengan Pemkot Kupang sehingga tercipta kesamaan visi, misi, strategi, dan implementasi kebijakan-kebijakan.

Kota Kupang sebagai Kota Terindah, menurut Andre, pihak Pemkot Kupang harus terus memperhatikan kebersihan kota. Selain mendayagunakan aparat teknis terkait, penting dipikirkan untuk melakukan gerakan penyuluhan atau motivasi kepada masyarakat sehingga muncul kesadaran sendiri. “Jika kesadaran soal kebersihan lingkungan sekitarnya telah tumbuh maka Pemkot telah menghemat sejumlah sumber daya, karenanya bisa dikonsentrasikan kepada hal-hal lain yang cukup urgen dan mendesak lainnya,” ungkapnya.

Masalah listrik PLN juga menjadi perhatian Pemprov NTT. Kata Andre, sangat tak mungkin Kota Kupang bisa jadi Kota Pariwisata jika listrik mati hidup terus-menerus. Ini kesan buruk yang mesti ditemukan solusi cerdasnya.

Sebab, menurut Andre, Kota Kupang harus disiapkan untuk bisa menangkap peluang pariwisata sebagai salah satu mata pencaharian warga masyarakatnya. “Suka atau tak suka, Kota Kupang perlu menangkap peluang karena posisinya yang berada di Pintu Selatan Indonesia, berupa strategi sebagai Kota Transit bagi wisatawan Timor Leste dan Australia,” logikanya.

Kota Kupang sebagai Kota Cerdas

Perihal Kota Kupang menjadi Kota Cerdas, Andre mengawalinya dengan gugatan ringan. Apa salahnya jika Kota Kupang dikondisikan sebagai Kota Transit bagi wisatawan yang ingin ke Bali, Jakarta, dan sebagainya?

“Manakala wisatawan mancanegara membanjiri Kota Kupang, jika peluang ini ditangkap oleh kabupaten lainnya, maka secara ekonomi akan menguntungkan pemerintah kabupaten, minimal disamping ada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), juga meningkatkan pendapatan masyarakat. Usaha-usaha kerajinan tangan, sektor transportasi, rumah makan, perhotelan, homestay, guide, biro perjalanan wisata, sanggar-sanggar budaya, musisi tradisional seperti Sasando, tukang ojek, bemo, taksi, akan mendapat porsi lebih sebagai konsekuensi logis dari pemberian pelayanan prima,” teorinya.

Tidak ada salahnya jika murid-murid SD dan SMP mulai diajarkan Bahasa Inggris praktis untuk berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara. “Ini solusi untuk mengatasi masalah komunikasi karena orangtuanya berpendidikan pas-pasan,” ujarnya flamboyan. (bersambung)

 

Penulis: Vincent (Novelis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 7 =