yunPenampilan flamboyan Yunilia Edon. (Foto: Marline Edon-Meyners)

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Pemain musik tradisional asal Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini sangat menikmati hidupnya dalam posisi single.

Yuni, begitulah dirinya biasa disapa karib sangat bersyukur dengan kebaikan Tuhan terhadapnya. “Talent yang diberikan Tuhan kepadaku sangat luar biasa. Aku menikmatinya sembari berbagi melalui petikan-petikan senar dan dendangan syair-syair puja-puji terhadap-Nya,” kata dia dalam suatu “kencan” di kantor redaksi moral-politik.com, Jumat (17/4/2015) yang lalu.

Media ini kemudian menulis, “Kencan” bareng musisi muda, cantik, seksi, menawan, dan seabrek julukan yang wah ini tak pernah jemu-jemunya, walaupun tak terasa telah memakan waktu lebih dari empat jam.

Malah, ketika mengantarkannya pulang bersama Ibundanya, kencan pun berlanjut, kendati itu dengan Ayahnya yang juga musisi senior, terutama di bidang persasandoan.

Pria yang karibnya disapa dengan Abi, dan bermarga Edon, atau Rote asli ini sudah saya kenal leih dari 30 tahun silam. Ketika itu, Abi untuk pertama kalinya mengumbar pesona dengan pacarnya yang kini berhasil dipersunting menjadi isteri, yang karibnya disapa Min, yang merupakan kependekan dari nama Marline Meyners.

jun

Sayangnya waktu mengobrol dengan Abi kuranglah tepat, karena temanya sangat musikal, dan dunia ini cukup berbeda dengan dunia saya yang lebih berkutak dengan urusan tulis menulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Akhirnya, kamipun bersepakat untuk mencari ruang dan waktu yang lebih tampan. Entah seminggu atau beberapa minggu kemudian. Terpenting bagi saya adalah di ruangan yang bisa merokok, sehingga inspirasi bisa seencer gula Rote, atau apalah namanya yang faktanya encer-enceran.

Kembali kepada tema utama adalah “kencan” dengan Yunilia Edon, atau yang lebih familiar disapa dengan Lia ini. Wanita muda yang mengaku kini masih single, punya mimpi besar untuk menggeluti dunia musikal hingga tua renta. Bahkan, katanya, sangat ekstrim, sedapat mungkin hingga detik-detik terakhir perjalanan hidup dan kehidupannya.

Tentu dirinya punya alasan kuat untuk memegang teguh prinsipnya itu. Kata wanita murah senyum dan si empunya sepasang mata bundar hitam pekat ini, mimpinya itu beranjak dari alasan kokoh dimana dirinya untuk pertama kali diperkenalkan musik Sasando oleh Ayahnya, si Abi Edon itu.

“Beta mulai bermain Sasando sejak umur 21 tahun, menyanyi dari umur lima tahun,” katanya sumringah.

 

juni

Lalu, usai itu kemana saja memraktekan Sasando di hadapan publik? Lia menuturkan sembari merapihkan rambut hitam pekat sebahu itu, bahwa dirinya dengan didamping sang Ibu berkeliling gereja untuk menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan.

Hingga kapankah Anda akan beristirahat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian? Lia tak langsung menjawabnya. Dia butuh waktu sedetik lamanya untuk menghela napasnya. “Entahlah….Sebagaimana hidup ini penuh misteri, begitupun jua dengan perjalanan semangatku untuk mengiring dan menyanyikan tembang-tembang pujian kepada Tuhan.

Mendengar urai aksara demi aksaranya, terasa banget dirinya sedang memetik dengan kalemnya senar-senar Sasando Hatiku. Penasaran, ‘kan? Nantikan saja ruang dan waktu yang akan digagas oleh pemimpin redaksi media ini untuk kencan bareng Yunilia Edon. **

 

Penulis: Vincent (Novelis)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

41 + = 51