Presiden AS Barrack Obama bersama sejumlah pemimpin negara-negara Asean mengenakan pakaian dari bahan kain tenun Sikka, Nusa Tenggara Timur.

MORAL-POLITIK.COM – Masih ingat dengan penampilan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama beserta sejumlah pemimpin negara Asean saat KTT Asean 2011 lalu?

Kala itu Obama dan juga Presiden RI yang ketika itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenakan baju dari kain tenun khas Nusa Tenggara TImur (NTT). Tenunan Sikka dikenakan dalam forum resmi berkelas internasional, tentu sangat membanggakan.

Bagaimana sehingga tenunan khas NTT itu bisa dikenakan oleh para pemimpinan negara-negara tersebut?

Maisarah Ashari, boleh dibilang salah satu perempuan yang punya andil besar sehingga kain tenun NTT bisa bertahan. Jika tidak karena kegigihannya, mungkin kain tenun NTT belum menyebar bahkan mendunia seperti sekarang ini.

Maisarah berasal dari keluarga miskin. Ayahnya seorang nelayan dan ibunya mencari nafkah tambahan dengan menenun. Dari ibunyalah Maisarah belajar menenun sejak usia masih muda.

Namun menenun tidak bisa diharapkan menjadi sumber penghasilan kala itu. Tak banyak orang yang membeli kain tenun. Tak heran, hasil tenunan yang dikerjakan penuh ketekunan berhari-hari itu hanya tersimpan di lemari.

“Maisarah prihatin dengan kondisi itu dan mulai memikirkan cara bagaimana memasarkan kain-kain tenun yang sudah dibuat ibunya,” ujar Andi Mariattang, manager program Desa Ramah Perempuan yang digagas Konsorsium PT Global Concern dan Komite Pemantau Legislatif (Kopel) atau disingkat KGCK, Senin (11/9).

Dia mengatakan, Maisarah menjadi salah satu perempuan inspiratif dari Kabupaten Ende, NTT. Kehidupannya berawal dari kemiskinan namun kini tampil sebagai inspirator untuk mengurai kemiskinan di daerahnya.

Pada 1978, saat usianya 15 tahun, Maisarah memulai usaha pertamanya berjualan kain tenun. Ketika ada kapal yang merapat di pelabuhan Ende, Maisarah memberanikan diri menemui kapten kapal dan menawarkan kain tenunnya. Usahanya berhasil dan sang kapten kapal membeli sehelai kain tenun seharga Rp 5.000.

“Itulah hasil penjualan kain tentun pertama kalinya,” ujar Mariattang.

Perkenanalan dengan kapten kapal tersebut membuka peluan bagi Maisarah untuk pergi ke Kupang dan menjual kain-kain tenunnya di sana. Dia kini tak lagi hanya menjual hasil tenunan ibunya, namun juga berusaha mengumpulkan kain tenun yang dibuat para tetangganya.

Dari hasil menjual kain tenun tradisional, Maisarah membiayai pendidikannya hingga tamat SMA. Dia pun sukses membantu perekonomian keluarganya.

“Bahkan dia kemudian membantu meningkatkan pendapatan ratusan penenun tradisional yang kini menjadi binaannya,” ujar Mariattang.

Apa yang dilakukan Maisarah, merupakan praktik pintar yang patut diacungi jempol. Mariattang mengatakan, ada empat langkah pintar yang telah dilakukan Maisarah dalam usahanya melestarikan tenun tradisional sekaligus memberdayakan perempaun penenun.

Pertama, dengan usaha dan ketekunannya, Maisarah berhasil membuka toko yang menjual kain-kain tenun tradisional dari berbagai daerah di NTT. Kedua, Maisarah memberdayakan lebih dari 400 perempuan penenun di Ende.

“Mereka bisa menjual hasil tenunnya dengan harga yang layak kepada Maisarah,” kata Mariattang.

Ketiga, Maisarah pun rajin memberikan pelatihan kepada para penenun untuk meningkatkan kualitas kain tenun mereka sehingga harganya pun meningkat. Keempat, Maisarah kini menyediakan pinjaman dengan bunga rendah bagi para penenun binaannya yang membutuhkan dana untuk keperluan penting keluarga mereka. Misalnya untuk biaya pendidikan dan pengobatan.

Strategi pintar lain yang dilakukan Maisarah adalan berhasil mendorong pemerintah daerah Kabupaten Ende untuk menetapkan kebijakan memakai pakaian dari tenun tradisional NTT.

“Setiap Kamis bagi pegawai pemerintahan dan murid sekolah, itu diwajibkan,” katanya.

 

 

Editor    : erny
Sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

52 + = 59