bersua Ray (Jaket hitam), Kristin (Kanan). Foto: Ist.

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Satu pertanyaan kecil yang sampai ketika kini sulit untuk menemukan jawaban yang tepat, mengapa Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes, dan istrinya Ny. Kristina Muki Fernandes melakukan kunjungan ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kabupaten yang berbatasan langsung dengan TTU ini?

Jika saja sidang pembaca berada di lokasi kunjungan tersebut sedangkan naluri keingintahuannya rendah, tak ada nilai strategis untuk ditulis sebagai sebuah artikel menarik…

Menurut pengakuan sumber yang sangat layak dipercaya, ketika rombongan Ray dan Kristin tiba di Desa Fatumnutu, Kecamatan Molo Selatan dimaksud, mereka telah dinanti oleh seratusan warga setempat yang duduk di dalam dua tenda besar, tepat berada di rumah seorang tokoh yang sangat berpengaruh di desa itu.

Manakala Ray, sapaan sehari-hari kala bocah, dan Kristin, sapaan semasa kecil, turun dari mobil berwarna putih yang usianya baru setahun lebih itu, sekitar belasan gadis cantik, Ibu-ibu manis, dan enam orang Bapak telah menanti sembari memegang selimut dan sirih pinang. Sebagaimana lazimnya, siapapun yang ditokohkan akan disambut dengan acara adat yang bernama “Natoni” atau ungkapan selamat datang dengan menggunakan bahasa Ibu, Bahasa Dawan (Bahasa Timor Barat: TTU, TTS, Kabupaten Kupang).

Karena tak ada penerjemah, Anda mesti bertanya kepada orang yang tepat agar mengetahui secara pasti apa yang sementara mereka lakukan tersebut.

Ketika Natoni usai, bunyi dendangan gong yang ditabuhkan oleh lima orang Ibu cantik mengiringi ayunan langkah Ray – Kristin dan rombongan. Usai jabat tangan, Ray – Kristin menyerahkan setumpuk sirih pinang dalam sebuah piring dan sebotol tuak kepada juru bicara. Alunan gong semakin merdu, sebab di bagian matahari terbenam, seorang Bapak menari-nari sebagai ungkapan kegembiraan di acara berbudaya tersebut.

bersua1

Tiba santap siang, tuan rumah mengajak semua yang berada dalam tenda untuk santap siang bersama. Tak kalah menariknya ketika Kristin, “Mantan Pacarnya” Ray ikut mengajak semua isi tenda menikmati rezeki atau berkat tersebut. Tak ada yang kuasa menepis; bukan lantaran lapar, tapi kelemah lembutan dan senyumnya sontak meluluhlantakan keengganan “makan bareng”.

Siapakah Kristin sesungguhnya? Hanya dalam waktu semenit duduk di sampingnya, cukup untuk mengurai alkisah lebih dari sepuluh halaman ukuran folio.

Pertama, Kristin adalah mantan gadis yang tinggal bersebelahan desa dengan Ray. Mereka sudah saling kenal semenjak kecil, tepatnya sejak SMP. Perkenalan mereka semakin berlanjut manakala Ray menjalani kuliah di Faperta Undana Kupang. Sedangkan Kristin sendiri sempat kuliah di luar NTT, tepatnya di Jawa Timur.

bersua2

Kedua, kuatnya cinta antarmereka mendesak pasangan serasi itu menuju ke pelaminan, kendati kuliahnya Kristin belum usai. Apakah ini salah? Simpulan yang dipetik dari sepenggal alkisah Kristin, bahwa dirinya terus melanjutkan perkuliahan, bukan di Undana, Unika, UI, dan UGM tapi di “Kampus Kehidupan”.

Apa itu “Kampus Kehidupan”? Dirinya mendampingi suami tercinta karena dipercayai rakyat sebagai Wakil Bupati TTU, lalu lima tahun berikutnya menjadi Bupati TTU.

Di kampus ini, banyak asam garam yang telah disantapnya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya yang “rada-rada blasteran” Portu (Baca: Portugis) tersebut.

Ray sangat beruntung. Sebab kata sang bijak, di belakang lelaki hebat ada seorang wanita bijaksana. Dia terus mengikuti, bahkan sesekali bak kompas untuk memandu derap langkah sang suami tercinta mengarungi bahtera kehidupan, atau apalah namanya.

Saya sendiri sempat berpikir agak “konyol”. Jika Ray tak memperistri Kristin, apakah dia bisa mendapat mandat dari masyarakat untuk menjadi Wakil Bupati dan Bupati TTU? Simpulan saya: “Tidak”. Sebab, Kristin telah diciptakan untuk mengantar Ray menjadi pemimpin di TTU, atau lazimnya disebut sebagai “Negeri Biinmaffo” itu. **

Penulis: Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 81 = 82