presidenKetua DPR RI Setya Novanto meninggalkan Wisma Negara setelah menemui Kepala Staf Kepresidenan Luhut Pandjaitan, Jakarta, Kamis (15/1/2015).

 

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Presiden Joko Widodo disebut-sebut marah karena namanya dicatut terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Melalui Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Presiden menyatakan bahwa dia tidak membutuhkan perantara untuk berbicara dengan petinggi PT Freeport.

Apa kata Ketua DPR Setya Novanto yang dituduh sebagai pencatut nama Jokowi?

“Tidak ada perantara-perantara. Saya tidak memerantarakan karena itu kan bagian dari eksekutif, pemerintah,” kata Novanto, saat ditemui di kedamannya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2015) malam

Setya Novanto menilai, Presiden menerima informasi yang tidak utuh mengenai masalah ini. Politisi Partai Golkar ini beralasan, dia bersama pengusaha minyak Riza Chalid menemui Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin karena yang bersangkutan lebih dulu datang ke DPR meminta tolong untuk memuluskan perpanjangan kontrak PT Freeport hingga 2041.

Sebagai imbalannya, PT Freeport akan membangun smelter di Gresik. Namun, jika tidak diperpanjang, Maroef mengancam akan ada arbitrase internasional terhadap Indonesia.

“Jadi kalau saya (ketemu Maroef) bukan dalam rangka apa-apa ya. Karena mereka waktu datang (ke DPR) itu minta tolong (kontrak) ini diperpanjang,” kata dia.

Setelah permintaan perpanjangan kontrak dari Maroef itu, Novanto bertanya kepada Presiden. Menurut Presiden, kata dia, perpanjangan kontrak PT Freeport baru bisa dibicarakan pada 2019, sebagaimana Undang-Undang yang berlaku. Selain itu, perpanjangan kontrak juga harus menguntungkan masyarakat Indonesia, khususnya Papua.

Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Maroef, Novanto mengaku dia hanya menyampaikan apa yang sebelumnya disampaikan Presiden.

“Saya justru menghargai apa yang disampaikan presiden, dan itu betul,” ujar Novanto.

Dugaan Novanto mencatut nama Presiden dan Wapres ini sudah dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan, Senin (16/11/2015) lalu.

Sudirman menyebut Setya Novanto bersama pengusaha minyak Reza Chalid menemui Maroef sebanyak tiga kali. Pada pertemuan ketiga 8 Juni 2015, Novanto meminta saham sebesar 11 persen untuk Presiden dan 9 persen untuk Wapres demi memuluskan renegosiasi perpanjangan kontrak PT Freeport.

Novanto juga meminta agar diberi saham suatu proyek listrik yang akan dibangun di Timika, dan meminta PT Freeport menjadi investor sekaligus off taker (pembeli) tenaga listrik yang dihasilkan dalam proyek tersebut. Sudirman turut menyampaikan bukti berupa rekaman dan transkrip pembicaraan pertemuan itu. **

Penulis  : Ihsanuddin
Editor     : Inggried Dwi Wedhaswary/Erny
Sumber : Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

23 − 16 =