cover depanSampul depan Majalah Bakti PU NTT 2015.

 

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Polemik seputar rencana pembangunan jembatan Palmerah yang menghubungkan Larantuka dan Adonara di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusik Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Andre W. Koreh untuk berkata yang sejujur-jujurnya.

Kepada sejumlah pemilik media NTT di ruang kerjanya, sebulan yang lalu, Andre mengaku bahwa keliru jika Pak Gubernur NTT Frans Lebu Raya dituding sebagai penggagasnya, karena ingin memajukan kampung halamannya di Adonara sebelum berakhir masa jabatannya tiga tahun mendatang.

“Saya yang usulkan dibangunnya Jembatan Palmerah itu kepada Pak Gubernur. Beliau kaget, dan setelah saya berikan argumentasi, kepada saya diminta untuk mengajukan proposal yang lengkap. Setelah saya selesaikan kita diskusi lagi dengan sejumlah pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) NTT, lalu Pak Gubernur persilahkan untuk tindak lanjuti,” jujur mantan Ketua KNPI NTT ini.

Kaitan dengan karya monumental yang bakal menjadi kembarannya jembatan San Fransisco yang dibangun pada tahun 1933 dan diresmikan tahun 1937 itu, dirinya digoda dengan kemungkinan-kemungkinan bakal maju sebagai calon Gubernur atau Wakil Gubernur NTT. Andre pun menampik kalem, “masak sih orang mau berbuat sesuatu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) tapi dikaitkan dengan perhelatan politik terakbar di NTT sini?”

“Kenapa tidak?” kejarku tak mau kalah.

“Sonde Bu, Beta mau beristirahat seusai pensiun sepuluh tahun mendatang. Lelah juga kerja terus, mungkin saya memilih menjadi petani saja,” tangkis dia.

san1Pesta kembang api setiap ulang tahun Jembatan San Fransisco.

 

Andre benar, dan mereka yang menuding Andre serta Pak Gubernur juga tak salah. Sebab—antara ya dan tidak itu hanya disekati oleh tipisnya lidah. Dan—jika pembangunan Jembatan Palmerah adalah ide atau gagasan Pak Gubernur, emang apanya yang salah? Itu adalah tugasnya gubernur setelah dimandati oleh masyarakat NTT dalam pilkada tiga tahun silam.

Yang mungkin penting untuk menjadi catatan Pak Gubernur, perjuangkan juga mega proyek di daratan Sumba, Timor, Rote, Alor, dan Sabu—selain itu, bagaimana manfaat Jembatan Palmerah bagi masyarakat NTT secara keseluruhan, dan Indonesia pada umumnya?

Menelisik pro dan kontra pembangunan Jembatan Palmerah dengan Jembatan San Fransisco tak ada bedanya sama sekali. Sama-sama ditentang habis-habisan, tapi begitu diresmikan dan masuk dalam 7 Keajaiban Dunia, semua merasa sebagai pahlawan.

 

san3Moleknya Jembatan San Fransisco bakal disamai Jembatan Palmerah.

 

Sekarang ini orang di San Fransisco semakin mencintai penggagas dan jembatan tersebut—lebih-lebih ketika jembatan itu dijadikan sebuah lagu yang mendunia sudah puluhan tahun lamanya: San Fransisco.

Syairnya begini:

If you’re going to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
If you’re going to San Francisco
You’re gonna meet some gentle people there
For those who come to San Francisco
Summertime will be a love-in there
In the streets of San Francisco
Gentle people with flowers in their hair
All across the nation such a strange vibration
People in motion
There’s a whole generation with a new explanation
People in motion people in motion
For those who come to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
If you come to San Francisco
Summertime will be a love-in there
If you come to San Francisco
Summertime will be a love-in there.

Bayangkan saja jika Jembatan Palmerah usai dibangun dan Agnes Monica mengumandangkan syair lagu Nusa Tenggara Timur, misalnya, betapa daerah kita akan semakin harum semerbak mewangi karena menjadi incaran wisatawan dunia untuk mengencaninya hari lepas hari. Efeknya sangat besar untuk masyarakat NTT, untuk Indonesia, bahkan untuk peradaban dunia.

Jadi—bukan soal siapa penggagas Jembatan Palmerah tersebut. Tapi apa yang bakal kita perjuangkan hingga tercatat sebagai salah satu  peradaban baru di dunia ini. **

Penulis: Vincent

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 71 = 81