dua

 

MORAL-POLITIK.COM – Kecerdasan suatu bangsa untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di negaranya adalah kunci bagi kemajuannya. Inilah yang akan dilakukan oleh Pemprov NTT untuk memajukan daerahnya, termasuk di dalamnya untuk menepis isu miris sebagai daerah yang terkebelakang dan tertinggal dalam kemajuan pembangunan.

Menelisik potensi alam yang sangat memukau, Pemprov NTT menyadari mesti dijual sebagai sumber berkat bagi daerah dan warga masyarakatnya; sekaligus juga untuk membahagiakan siapa saja yang ingin mengencaninya.

Pohon Flamboyan yang dalam bahasa lokal Kota Kupang disebut sebagai Pohon Sepe ini punya alkisah menarik yang tak cukup diurai hanya dalam secarik kertas putih, merah muda, dan biru.

Kesemuanya itu berawal dari mekar meronanya kuncup-kuncup Bunga Flamboyan pada awal Oktober yang terkenal dengan terik mentari bisa capai 34 derajat celsius, dan ini berlangsung hingga akhir Januari.

flamboyan-7

Terutama pada bulan Desember, waktunya merayakan Pesta Natal, warga memetik kuncup-kuncup bunga untuk dijadikan rampe yang akan ditaburi di pekuburan keluarga atau orang-orang yang dicintai. Itu makanya ketika warga melihat kuncup-kuncup sepe di mana saja, ingatan akan Pesta Natal sangat mengental. “Natal su dekat,” seloroh mereka dalam Bahasa Kupang yang kental.

Ingatan akan Pesta Natal juga mengisyaratkan agar cepat-cepat berbenah untuk pulang ke kampung halaman supaya bisa merayakan pesta tersebut bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai, terutama dengan dia yang dicintai.

Pohon Sepe juga menyimpan sejumlah cerita mistis. Sejumlah warga memercayai bahwa pohon itu merupakan tempat menginap kuntilanak cantik dan berambut panjang hingga ke betis.

Tak mengherankan jika dijumpai sejumlah paku di pohon-pohon sepe, bahkan yang cukup ekstrim pada pohon sepe yang berada tepat di halaman depan rumahnya dipaku satu atau dua ekor pari yang panjangnya bisa hingga 1,5 meter. Malah yang agak konyol, sejumlah orangtua sering menggunakan pohon sepe untuk menakut-nakuti anaknya yang doyan menangis.

Bahkan, pohon sepe juga dipakai sebagai wanti-wanti kepada anak remajanya yang doyan pelesiran seusai magrib. Tak mengherankan jika ditemukan seorang remaja yang berjalan melewati rumah yang ada pohon sepe besar sembari bersiul atau bernyanyi lagu-lagu gereja.

empat

Kentalnya perspektif mistis masyarakat lokal terhadap pohon sepe menyebabkan remaja wanita atau gadis-gadis akan marah besar jika diajak berkencan di seputaran pohon tersebut. “Lu mau buntiana rabek na pi di situ su,” tolaknya dalam Bahasa Kupang yang sangat kental.

Kendati kembang sepe berwarna merah-merah orange, atau yang kerap dibilang sebagai warna cinta, tapi tak pernah terdengar ada seorang pria yang memetik lalu memberikan kepada wanita yang dilirik apalagi yang dicintainya sebagai ungkapan I Love You atau kebahagiaan lainnya. Sebab mawar tetaplah mawar, sepe tetaplah sepe.

Pengaruh budaya Barat: Say it with flowers (katakan dengan bunga) sangat kental. “Daripada kasi beta bunga sepe, lebi bae kasi bunga bank sa,” tolaknya dalam Bahasa Kupang. (bersambung)

Penulis: Vincent (Novelis)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 82 = 83