saubelan-yantiYanti Seubela. (Foto: Semar Dju)

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Sebuah tragedi memilukan kembali tersiar di Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dilakukan seorang oknum berininsial AL (20), beralamat tinggal di Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Ceritanya terungkap manakala seorang remaja berusia 15 tahun yang tidak boleh dituliskan namanya beberapa waktu silam mendatangi kantor Mapolres Kupang Kota. Kepada polisi dirinya mengurai cerita sebagai korban kekerasan seksual.

Polisi pun memberikan apresiasi terhadap sang gadis karena keberaniannya membongkar kasus prostisusi ini. Sang remaja tersebut diketahui sudah tiga kali melayani si pria hidung belang sejak awal September 2015 dengan tarif bervariasi antara Rp 300.000 dan Rp. 500.000 sekali kencan.

Sementara itu Yanti Seubela (43), salah satu Anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI) menuturkan, sakit yang teramat dalam tentu paling dirasakan oleh pihak keluarga manakala mengetahui nasib tragis yang dialami oleh anak kandung mereka. Apa yang terjadi benar-benar sangat mengkhawatirkan, kekerasan terhadap anak yang disertai pelecehan seksual berakhir pembunuhan cenderung meningkat, yang di lakukan oknum AL itu.

“Tindakan kejahatan memang tidak mengenal nalar dimana pelaku dapat bertindak di luar batas prikemanusiaan kepada para korbannya. Sudah sepatutnya hal ini menjadi perhatian pemerintah dimana mempunyai kewajiban untuk menjaga rasa aman rakyatnya,” ujar Yanti.

Yanti menjelaskan, jika diamati kekerasan terhadap anak gadis berusia 15 tahun itu, bukanlah tanpa alasan, dimana para pelaku mengincar anak-anak sebagai korban selain tidak berdaya melawan juga terbilang sangat rentan luput dari perhatian keluarga maupun orang-orang disekitarnya, dimana pelaku (AL) dapat leluasa mendekati korban dengan mengimingi sesuatu untuk memuluskan niat jahat kelaminnya itu. Namun polosnya dari ketidaktahuan sang anak itu memudahkan para pelaku.

Keadaan yang memprihatinkan ini, tambahnya, jelas membutuhkan penanganan serius oleh aparat penegakan hukum yaitu aparat kepolisian, agar segala bentuk kejahatan seksual wajib segera diatasi sehingga kasus serupa tidak kembali terjadi seperti yang dialami si remaja 15 tahun itu.

“Dengan adanya aparat kepolisian kiranya sudah tidak lagi mampu mencegah tindak kejahatan ini terjadi, dikarenakan hal tersebut perlu diberlakukannya hukuman dimana membuat para pelaku menanggalkan niatnya yaitu dengan memberlakukan hukuman kebiri atau hukuman mati,” ungkapnya menambahkan.

Yanti pun menjelaskan, dengan diberlakukannya hukuman kebiri atau hukuman mati, diharapkan mampu meminimalisir kejahatan seksual selain dibarengi dengan dilakukan langkah preventif lainnya.

Hukuman kebiri, katanya, dan atau hukuman mati terhadap tindak kejahatan yang dilakukan AL, tentunya akan menimbulkan gejolak sebagaimana akan munculnya pihak-pihak yang mengatasnamakan hak asasi manusia berkoar-koar untuk menolaknya, namun melihat keadaan yang ada sekarang di Kota Kupang ini, diharapkan bagi mereka yang menolak untuk mencoba memahami dan merasakan apa sesungguhnaya yang dirasakan oleh pihak korban yang langsung mengalami kekerasan seksual tersebut.

“Jika kejahatan seksual ini terus menerus dibiarkan maka memungkinkan kejahatan seksual ini meluas, sehingga bisa terjadi kepada siapa saja. Sanksi hukum yang berlaku saat ini jelas sudah tidak mempan lagi kepada para pelakunya. Maka dari itu, dengan kondisi lingkungan ini akan merusak nama keluarga walau lingkup hukuman kebiri terbilang ekstrim, namun langkah ini wajib dilakukan atau di tegakkan sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkasnya. **

Penulis: Semar
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 66 = 68