Home / News NTT / Berkat Kerja Polisi, Tulang Bayi Hasil Aborsi Ditemukan!!

Berkat Kerja Polisi, Tulang Bayi Hasil Aborsi Ditemukan!!

Foto: Semar Dju

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Minggu (24/1/2016) sekitar pukul 16.30 WITA, ratusan warga Kelurahan Pasir Panjang memadati tempat praktek bidan Dewi Bahren di RT 09/ RW 03, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pasalnya sore itu, penyidik Reskrim Polres Kupang Kota melakukan penggalian kubur yang diduga sebagai tempat menguburkan jazad bayi hasil aborsi.

Proses penggalian dilakukan sendiri oleh Ramli yang merupakan salah satu pegawai pada tempat praktek Bidan Dewi. Penggalian yang berlangsung kurang lebih selama satu jam ini akhirnya membuahkan hasil. Dari dua titik yang digali, penyidik berhasil menemukan beberapa tulang dan sumsum dari jasad bayi hasil aborsi. Diperkirakan jasad bayi tersebut telah dikubur selama setahun karena yang tersisa hanya tulang belulangnya saja.

Pada lubang pertama, penyidik berhasil menemukan tulang bayi di kedalaman sekitar 19 cm. Sedangkan pada lubang kedua penyidik tidak menemukan apa-apa setelah digali hampir setengah meter.

Kepala Satuan Reserses Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, AKP Didik Kurnianto yang memimpin langsung proses penggalian mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini.

Penyidik masih harus melakukan pembuktian terhadap pengakuan saksi Ramli, pasalnya tidak ada rekam medis yang menunjukkan jumlah bayi aborsi yang telah dikuburkan di belakang klinik bersalin tersebut.

“Berdasarkan keterangan saksi Ramli ada tiga jasad bayi hasil aborsi yang dimakamkan di belakang tempat praktek Bidan Dewi tersebut. Namun setelah dilakukan penggalian penyidik baru menemukan dua jasad bayi. Sedangkan keterangan tersangka Dewi, ia baru satu kali melakukan praktek aborsi,” ucap Didik.

Dari hasil pemeriksaan terhadap orok bayi yang digali pertama kali, diketahui usianya sekitar 5 bulan, namun tersangka menyangkalnya dan mengatakan orok bayi tersebut baru berusia 4 bulan. Tersangka juga membantah mematok harga 10 juta untuk satu bayi yang di aborsi. Dirinya mengaku gratis karena alasan kasihan.

Baca Juga :  Pemkot Kupang Terus Raih Predikat WDP dari BPKP NTT, Ini Reaksi Yeskiel Loudoe

“Dari keterangan Siti Nuraini Nurdin alias Narsi dirinya diharuskan membayar Rp. 10 juta untuk mengaborsi bayinya. Namun karena alasan ekonomi, Narsi baru membayar DP Rp. 5 juta dan akan melunasinya usai keadaannya membaik paska aborsi. Namun keterangan Narsi dibantah tersangka,” ungkap ayah tiga orang anak ini.

Ketika disinggung terkait izin tempat praktek Bidan Dewi, Didik mengatakan dua tempat praktek tersebut belum mengantungi izin.

“Tersangka memiliki dua tempat praktek, yang pertama di Bonopoi dan yang kedua di Pasir Panjang. Keduanya masih ilegal karena belum mengantungi izin,” tegasnya didampingi Kanit Pidana Umum Ipda Komang Sukamara.

Ketua RT Liberti Buu yang menjadi saksi dalam proses penggalian tersebut mengatakan, tidak menyangka Bidan Dewi melakukan praktek aborsi. Pasalnya beberapa warganya juga dibantu proses persalinannya di tempat praktek Bidan Dewi.

“Warga saya aman-aman setelah melahirkan di tempat praktek Bidan Dewi. Tidak hanya itu Bidan Dewi pun biasa bertegur sapa dengan kami, tapi memang dia jarang berada di klinik,” jujur Liberti. **

Penulis: Semar Dju

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button