Home / News NTT / Bidan Dewi Pinsan Setelah Satu Jam Ditahan di Sel Polres Kupang Kota

Bidan Dewi Pinsan Setelah Satu Jam Ditahan di Sel Polres Kupang Kota

Penggalian tempat penguburan janin bayi. Foto: Semar Dju

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Lagi-lagi Bidan Dewi Bahren, tersangka kasus dugaan aborsi bayi Siti Nuraini Nurdin alias Narsi langsung pingsan setelah ditahan selama satu jam di sel tahanan Polres Kupang Kota, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun pada saat itu, Bidan Dewi yang telah resmi ditetapkan menjadi tersangka langsung dilarikan ke RS Bhayangkara guna mendapatkan perawatan medis.

“Sampai saat ini tersangka masih di rawat di ruang ICU usai pingsan di sel tahanan Polres Kupang Kota. Tersangka diduga kuat shock karena ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus aborsi,” ungkap Kapolres Kupang Kota AKBP Budi Hermawan yang dikonfirmasi moral-politik.com melalui Kasat Reskrim AKP Didik Kurnianto di ruang kerjanya, Senin (25/1/2016).

Menurut Didik, terkait proses tes DNA, pinyidik Polres Kupang Kota saat ini tengah membuat surat permohonan guna melakukan tes DNA terhadap tulang yang ditemukan di belakang tempat praktek bidan Dewi Bahren. Hal ini dilakukan guna memastikan apakah itu tulang manusia atau tulang hewan.

“Kita sudah membuat surat permohonan guna melakukan tes DNA kepada Forensik Polda Bali. Hal ini dilakukan agar kita bisa memastikan jika tulang yang ditemukan merupakan tulang manusia. Setelah mendapatkan kepastian tulang tersebut adalah tulang manusia kita akan mengkronfontirnya dengan tersangka Dewi. Tulang siapa yang dikubur di belakang tempat prakteknya,” kata dia.

Karena dari pemeriksaan terhadap buku daftar pasien, tambahnya, tidak ditemukan nama Siti Nuraini Nurdin alias Narsi, pasien yang melakukan aborsi dengan bantuan bidan Dewi. Kuat dugaan semua pasien yang diaborsi sengaja tidak direkap untuk menghilangkan jejak.

“Kita kesulitan untuk melacak siapa pemilik bayi yang diaborsi karena tidak ada rekam medisnya. Dari keterangan saksi Sura diketahui sudah dua kali dirinya menggali lubang untuk mengubur bayi hasil aborsi tetapi tidak mengetahui bayi siapa itu. Ia hanya disuruh untuk menggali lubang,” ungkap Didik.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kota Kupang: PT. Sasando dibubarkan saja!

Terkait pasal yang diterapkan, dikatakan Didik, tersangka Bidan Dewi dijerat dengan pasal berlapis yaitu UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 junto Pasal 348 KUHP dengan acaman hukuman di atas 10 tahun.

Sura, salah satu saksi sekaligus pegawai di tempat praktek Bidan Dewi mengatakan, dirinya hanya dipaksa oleh Bidan Dewi untuk menggali lubang untuk mengubur bayi hasil aborsi. Terkait bayi miliki siapa, Sura mengaku tidak mengetahuinya. “Saya ini hanya bawaan jadi kalau disuruh saya hanya ikut-ikut saja. Saya takut kena marah dari bidan Dewi. Takutnya dia pecat saya,” tutur sura.

Sebelumnya media ini mewartakan, Minggu (24/1/2016) sekitar pukul 16.30 WITA ratusan warga Kelurahan Pasir Panjang memadati tempat praktek Bidan Dewi Bahren di RT 09/RW 03, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama. Pasalnya sore itu, penyidik Reskrim Polres Kupang Kota melakukan penggalian kuburan yang diduga kuat sebagai tempat menguburkan jazad bayi hasil aborsi.

Dari dua titik yang digali, penyidik berhasil menemukan beberapa tulang dan sumsum dari jasad bayi hasil aborsi. Diperkirakan jasad bayi tersebut telah dikubur selama setahun karena yang tersisa hanya tulang belulangnya saja. **

Penulis: Semar Dju

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button