Home / Populer / Misa Syukur Prof.Dr.Frans Bustan, Ini Nasihat Pastor yang mantan Murid Kepada Gurunya (3)

Misa Syukur Prof.Dr.Frans Bustan, Ini Nasihat Pastor yang mantan Murid Kepada Gurunya (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Pater Rektor Unika Kupang menambahkan, banyak orang sekarang ini menyerah sebelum berusaha, lari dari kenyataan. Cengeng menghadapi kesulitan-kesulitan yang kecil. Baru satu hari kirim makan terlambat dari rumah, status galau selama satu minggu. Cengeng dari yang tetek benget dan lari dari kesulitan-kesulitan yang besar.

“Kita perlu mendengar dengan pikiran dan hati yang terbuka. Ini mungkin pesan dari seorang mantan murid kepada gurunya yang sudah menjadi Guru Besar. Pesan dari perumpamaan itu bukan terletak pada lidah orang yang menyampaikan, tapi terletak pada telinga orang-orang yang mendengarkan,” katanya.

Menurutnya, ada bermacam cara untuk mendengarkan dan memperoleh kebenaran. Apalagi kebenaran atas Sabda Ilahi. Ada yang mendengar dengan hati dan pikiran yang tertutup. Bisa karena prasangka, sebab kalau sudah tidak suka dengan orang, apa pun yang disampaikan orang itu salah semuanya. Dia belum omong saja sudah dibilang salah. Dan banyak orang yang masuk dalam daftar itu. Ada yang tertutup karena kebanggaan berlebih, kesombongan pada kemampuan diri; kau tahu apa? Omong tentang ini beta pung bagian, lu itu bidang lain. Kalau sudah tak suka dengan orang itu, apa yang disampaikan semuanya salah. Dia belum omong saja, kita sudah menetang lebih dahulu!

22Mantan Wakil Gubernur NTT. Ir. Esthon L.Foenay, MS.i kusuk mengikuti jalannya misa. (Ist)

“Ada yang juga tertutup karena kesombongan pada diri. Omong tentang ini Beta pung bagian, Lu itu bidang lain. Tidak boleh campur-campur. Atau juga takut akan hadirnya kebenaran yang baru, yang membuat kebenaran yang sudah lama  kita pegang menjadi kadaluwarsa. Ada juga yang menutup hati dan pikirannya karena tidak relah mendengar kebenaran yang tidak mendukung orang-orang atau hal-hal yang dia cintai, sebab dia sudah pegang kebenaran itu selama bertahun-tahun. Begitu ditantang dia langsung tak suka; dia sudah pegang kebenaran itu sekian lama, begitu ditantang dia langsung tak terima. Padahal orang bijak mengatakan, tidak ada kebutaan yang lebih parah daripada orang buta yang menolak untuk melihat,” katanya.

Baca Juga :  Bagaimana caranya Mahasiswa UGM bikin skripsi film porno Jepang? (4)

Kebenaran itu, lanjut dia, selalu lebih luas daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Tidak ada orang yang mengetahui seluruh isi kebenaran. Jangan pernah sombong dengan apapun yang kita capai secara akademik.

Pater Julius juga mengingatkan soal ‘Guru Besar’ dan ‘Guru Kecil’. Menurutnya, ‘Guru Kecil’ itu tahu banyak hal tapi sedikit-sedikit. ‘Guru Besar’ adalah orang yang tahu satu hal tapi tahu sangat mendalam.

20Ny. Adinda Lusia Lebu Raya (gaun tenun ikat warna merah) kusuk mengikuti misa syukur. (ist)

Kunci dari semuanya, kata dia, adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran itu tak terbatas, sementara kemampuan pemahaman kita sangatlah terbatas.

Pater yang asal Manggarai ini pun mengingatkan pendapat John Mosley. Dalam terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, toleransi berarti gunakan semua kemungkinan kebenaran. Ada pengakuan bahwa kebenaran dapat tinggal di tempat yang berbeda-beda, tidak hanya di tempat kita.

Dirinyapun memberikan contoh, karenanya tidak perlu ada yang bertengkar soal pertanyaan ini. Seperti cerita guyon: “Apakah anak kamu yang di Jakarta itu security?” Lalu dijawab, “Tidak e, dia itu Satpam!”

“Kebenaran itu juga ada pada bahasa yang asli yang tidak biasa pada kita. Bahkan dari kesepakatan-kesepakatan konvensional. Sikap picik bersumber dari sikap bahwa kebenaran itu berasal dari apa yang dia lihat. Dibalik kebenaran pribadi atau kelompok tidak ada lagi kebenaran yang lain,” lanjutnya.

21Prof.Dr.Fransiskus Bustan, M.Link dan Ny (sama-sama mengenakan baju putih). (ist)

Bahkan Pater pun mengungkapkan perihal tiga ciri manusia moderen, yang membuat kita makin lama semakin tidak bermutu. Pertama, mendengar tapi dangkal, tidak berakar. Ada banyak yang memulai sesuatu tapi cepat bosan. Salah satu cirri khas, Mahasiswa cepat sekali mengganti nomor HP. Satu minggu atau satu bulan kemudian ganti lagi. Sesuatu tak pernah dipegang untuk waktu yang lama. Memulai sesuatu tapi cepat bosan, apalagi yang namanya pekerjaan.

Baca Juga :  YF, Ketua PDIP Rote Ndao, kembalikan uang Rp 221 juta

Kedua, lanjutnya, memulai dengan semangat tapi begitu ada kesulitan langsung menyerah; dan ketiga, pungkas dia, memulai tapi tidak pernah tuntas. Oleh karena itu kita semua diajak untuk mendengar dengan hati yang terbuka tapi juga dengan kedalaman dan pemahaman pengertian tentang kebenaran apapun yang kita terima.

Kebaikan dan kebenaran itu harus dibuktikan oleh perbuatan nyata untuk semakin memuji dan memuliakan nama Tuhan. “Ini baru permulaan, sang Guru Besar!” pungkas Pater yang sangat welcome kepada siapa saja yang mengunjunginya di Asrama Souverdi, Kelurahan Oebufu, Kota Kupang ini. (habis)

Penulis: Vincent

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button