Home / Populer / Pdt. Bobby Litelnoni Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

Pdt. Bobby Litelnoni Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

Foto: sinodegmit.or.id

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Ketua Sinode GMIT masa kerja 2011-2015 Pdt. Bobby Litelnoni yang dihubungi via telepon genggammnya mengaku, penundaan pelantikan Ketua Sinode terpilih, sampai bulan Januari merupakan kesepakatan dalam Sidang Sinode dan bukannya rekayasa seperti anggapan selama ini.

“Dalam sidang itu sudah disepakati bersama bahwa pelantikan baru dilakukan Januari mendatang. Sedangkan jika dikatakan bahwa masa jabatan Majelis Sinode (MS) terpilih berkurang selama empat bulan tidak benar sebab SK akan dibuat berdasarkan saat pelantikan dan masa jabatan MS saat ini juga genap empat tahun dan tidak pengurangan,” katanya.

Menyangkut masalah kebijakan-kebijakan stragis, Bobby mengaku tidak ada kebijakan strategis yang diambil oleh dirinya. Selain itu menyangkut penggunaan Dana APBMS, dirinya mengaku tidak ada penggunaan dana untuk hal yang lain-lain kecuali kebijakan strategis. Sedangkan menyangkut kebijakan mutasi Pendeta dalam tubuh Sinode GMIT, Pdt. Bobby mengaku tidak ada mutasi pendeta, kecuali penempatan pendeta dengan surat tugas untuk melayani jemaat selama dua bulan dari Desember 2015 hingga Januari untuk melayani jemaat dihari Natal, Tahun Baru, dan Perjamuan Kudus. Penempatan pendeta itupun hanya lewat surat tugas dan masa baktinya cuma dua bulan. Sedangkan untuk penempatan pendeta merupakan kewenangan MS terpilih pada saat ini.

“Tidak ada mutasi pendeta. Penempatan pendeta muda untuk perayaan Natal, Tahun Baru, dan Perjamuan Kudus di bulan Desember dan Januari hanya dengan surat tugas,” katanya.

Sebelumnya media ini mewartakan bahwa penundaan pelantikan Ketua Sinode GMIT terpilih, Pdt. DR. Mery Kolimon, berdasarkan Keputusan Sidang Sinode di Kabupaten Rote Ndao, bahwa pelantikan di tunda sampai Januari 2016 di nilai cacat aturan. Pasalnya Surat Keputusan (SK) Pengurus Majelis Sinode Tahun 2011-2015 telah habis pada 31 Oktober 2015, dan seharusnya Majelis Sinode masa jabatan 2015-2019 harus dilantik pada bulan Oktober lalu.

Baca Juga :  SBY bicara soal toleransi pada Malam Natal

“Kalau dilantik sekarang, maka masa bakti Majelis Sinode terpilih saat ini bukan lagi untuk masa jabatan tahun 2015-2019, tapi menjadi tahun 2016-2019. Memang hanya selisih empat bulan tapi tahun masa bakti telah berubah dan masa kerja Majelis Sinode saat sudah berkurang selama empat bulan,” kata Pdt.Jack Adam kepada moral-politik.com, di Kota Kupang, Kamis (7/1/2015).

Menurutnya, sesuai aturan di dalam Sinode GMIT, penundaan pelantikan paling lambat pada akhir Oktober lalu dan keputusan penundaan pelantikan sampai Januari tahun 2016 merupakan keputusan yang cacat aturan. “Keputusan itu sudah diskenariokan dan cacat hukum oleh Majelis Sinode masa bakti 2011-2015 di bawah pimpinan Ketua Sinode terdahulu Pdt. Boby Litelnoni. Keputusan itu ilegal dan patut dipertanyakan. Sebagai seorang pendeta saya sangat malu karena perbuatan sekelompok orang membuat Sinode malu,” ujarnya.

Ia juga heran dengan sejumlah kebijakan yang masih diambil oleh pengurus Majelis Sinode 2011-2015 meski SK. masa kerja mereka telah habis pada 31 Oktober 2015 lalu, seperti mutasi pendeta dan sejumlah kebijakan, yang sepatutnya tidak lagi mereka lakukan. Selain itu, yang patut dipertanyakan adalah Penggunaan Dana Anggaran Pendanaan Belanja Majelis Sinode (APBMS). Setelah SK Pengurus Majelis Sinode 2011-2015 berakhir pada 31 Oktober, mereka bukan lagi pengurus Sinode, tapi kenapa masih mempergunakan dana tersebut dan bagaimana pertanggungjawabannya?

“Saya bicara seperti ini karena bukannya tidak senang terhadap pengurus yang lama. Tapi saya berbicara berdasarkan perspektif anggaran. Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran sedangkan masa jabatan mereka telah habis. Sebagai Pendeta dalam Sonode GMIT, saya berharap kejadian seperti tidak terulang lagi pada sidang Sinode berikutnya,” katanya. **

Penulis: Nyongki

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button