Home / Populer / Penundaan Pelantikan Ketua Sinode Terpilih di Rote Ndao Cacat Aturan

Penundaan Pelantikan Ketua Sinode Terpilih di Rote Ndao Cacat Aturan

Foto: pgi.or.id

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Penundaan Pelantikan Ketua Sinode GMIT terpilih, Pdt. DR. Merry Kolimon, berdasarkan Keputusan Sidang Sinode di Kabupaten Rote Ndao, bahwa pelantikan di tunda sampai Januari 2016 di nilai cacat aturan. Pasalnya Surat Keputusan (SK) Pengurus Majelis Sinode Tahun 2011-2015 telah habis pada 31 Oktober 2015, dan seharusnya Majelis Sinode masa jabatan 2015-2019 harus dilantik pada bulan Oktober lalu.

“Kalau dilantik sekarang, maka masa bakti Majelis Sinode terpilih saat ini bukan lagi untuk masa jabatan tahun 2015-2019, tapi menjadi tahun 2016-2019. Memang hanya selisih empat bulan tapi tahun masa bakti telah berubah dan masa kerja Majelis Sinode saat sudah berkurang selama empat bulan,” kata Pdt.Jack Adam kepada moral-politik.com, di Kota Kupang, Kamis (7/1/2016).

Menurutnya, sesuai aturan di dalam Sinode GMIT, penundaan pelantikan paling lambat pada akhir Oktober lalu dan keputusan penundaan pelantikan sampai Januari tahun 2016 merupakan keputusan yang cacat aturan. “Keputusan itu sudah diskenariokan dan cacat hukum oleh Majelis Sinode masa bakti 2011-2015 di bawah pimpinan Ketua Sinode terdahulu Pdt. Bobby Litelnoni. Keputusan itu ilegal dan patut dipertanyakan. Sebagai seorang pendeta saya sangat malu karena perbuatan sekelompok orang membuat Sinode malu,” ujarnya.

Ia juga heran dengan sejumlah kebijakan yang masih diambil oleh pengurus Majelis Sinode 2011-2015 meski Surat Keputusan masa kerja mereka telah habis pada 31 Oktober 2015 lalu, seperti mutasi pendeta dan sejumlah kebijakan, yang sepatutnya tidak lagi mereka lakukan. Selain itu, tambahnya, yang patut dipertanyakan adalah penggunaan dana Anggaran Pendanaan Belanja Majelis Sinode (APBMS).

“Setelah Surat Keputusan Pengurus Majelis Sinode 2011-2015 berakhir pada 31 Oktober, mereka bukan lagi pengurus Sinode, tapi kenapa masih mempergunakan dana tersebut dan bagaimana pertanggungjawabannya?” katanya lebih lanjut.

Baca Juga :  Widi Utaminingsih: Banyak ODTW di Yogyakarta sepi pengungjung...

Menurutnya, dirinya bicara seperti itu bukan karena tidak senang terhadap pengurus yang lama. Tapi dirinya berbicara berdasarkan perspektif anggaran. “Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran sedangkan masa jabatan mereka telah habis. Sebagai Pendeta dalam Sonode GMIT, saya berharap kejadian seperti tidak terulang lagi pada sidang Sinode berikutnya,” pungkas dia.

Penulis: Nyongki

 

 

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button