Home / Populer / Prof.Dr.Frans Bustan Dinasehati mantan Muridnya di Seminari Kisol, Penasaran??

Prof.Dr.Frans Bustan Dinasehati mantan Muridnya di Seminari Kisol, Penasaran??

Pater Drs. Yulius Yasinto, SVD, MA, M.Sc beserta lima Pastor diantar menuju ke altar untuk memimpin misa syukur pengukuhan Guru Besar Undana Kupang asal Manggarai, Prof.Dr.Frans Bustam, M.Lib , di Restoran Timor Raya, Kota Kupang, Sabtu (16/1/2016) malam. (foto: ist)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM – Benar sekali ungkapan Latin yang telah klasik tapi masih up to date hingga ketika kini: Hodie est dies crastina die et seterus perendie (Hari ini hari, esok, lusa dan seterus juga adalah hari).

Ungkapan di atas mengandung maksud bahwa roda zaman terus berputar. Hari ini saya menjadi murid, besok, lusa, dan seterusnya belum tentu saya masih tetap menjadi murid.

Akhirnya ungkapan tersebut sungguh terjadi pada diri seorang Guru Besar yang bernama Prof. Dr.Fransiskus Bustan, M.Lib, yang baru pada tanggal 8 Januari 2016 lalu telah dikukuhkan oleh Rektor Undana Kupang sebagai Guru Besar Bidang Language & Culture pada FKIP Undana Kupang.

Adalah Pater Rektor Unika Widya Mandira Kupang, Drs. Yulius Yasinto, SVD, MA, M.Sc sebagai pastor pemimpin misa bersama lima pastor lainnya, pada khotbahnya menguak tabir tersebut. Menurut dia, dirinya pernah menjadi muridnya Prof. Frans.

duaPater Julius sedang berkhotbah. (ist)

“Ada hal yang menarik ketika saya disapa oleh rombongan adat dan memperhadapkan kepada saya Pak Frans yang adalah guru saya pada SMA atau Seminari Kisol, Guru Bahasa Inggris pada Tahun 1983, yang pada saat itu mungkin tak terpikirkan bahwa pada suatu saat atau 33 tahun kemudian, salah satu muridnya akan memimpin misa syukur karena telah bergelar Guru Besar,” kata Pater Yulius, kalem.

Pater Yasinto menambahkan, memang dalam forum ini dikatakan Guru Besar, tetapi saya mengatakan bahwa tanpa menjadi ‘guru kecil’ seseorang tak pernah menjadi Guru Besar. Karena dia menekuni profesinya itu selama 33 tahun, karena itu dia pantas menyandang gelar Guru Besar.

Dalam formal administratif, kata dia, kita mengakuinya karena kesetiaannya selama 33 tahun, memang sempat tergoda sedikit beberapa tahun yang lalu. Guru Besar ini, lanjutnya, saya kenal sebagai orang yang setia untuk menggali kekayaan dari khazanah budaya sendiri. Salah satu buktinya adalah logat Manggarai-nya yang tak bisa hilang walaupun sudah 33 tahun berada di Kota Kupang. Karena kesetiaannya itu wajar jika dirinya diberikan penghargaan sebagai Guru Besar Bidang Language & Culture.

Pertumbuhan itu membutuhkan proses waktu, tambahnya. Malah, dirinya mengutip ungkapan dalam Bahasa Inggris yang dengan ekspresi guyon mengatakan sekedar mau menunjukkan bahwa mantan muridnya ini sekarang sudah bisa Berbahasa Inggris.

teluProf. Dr.Fransiskus Bustan, M.Lib didampingi sang istri. (ist)

Katanya, William Barclay mengatakan, We live in an age which looks for quick results, but in the sowing of the seeds, we must sow in patience and in hope, and sometimes we must leave the harvest for years (Kita hidup di era yang suka mengejar hasil yang cepat, tapi dalam perumpamaan tentang sang penabur, kita harus menabur dengan sabar dan penuh harapan, dan terkadang harus menanti hasilnya selama bertahun-tahun). Tanah yang subur sekalipun butuh waktu yang lama untuk menumbuhkan pohon yang berkualitas.

Baca Juga :  Jauh-jauh dari Brunei ingin lihat Jokowi blusukan

Pater Julius menambahkan tentang contoh ketaksabaran murid-murid Yesus yang ingin secepatnya mengetahui hasilnya. Inti dari perumpamaan Yesus kepada murid-murid-Nya, yang pertama, hasil itu pasti ada. Kedua, hasilnya akan banyak jauh di kemudian hari asalkan kita mau menaburkan benih yang baik. Hal itu sama dengan apa yang dilakukan Pak Frans. Menabur selama 33 Tahun baru memetik hasilnya.

Pater Julius, atau yang kerap disapa dengan Pater Rektor ini melanjutkan, kita hidup di era kini untuk mencari hasil yang cepat. Tapi dalam injil tentang penabur, dalam kesabaran dan harapan, terkadang kita harus menanti hasilnya selama bertahun-tahun. Tanah yang subur sekalipun butuh waktu untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Yang tumbuhnya cepat matinya pun cepat.

“Untuk menguatkan murid-murid-Nya, Yesus mengungkapkan perumpamaan tadi. Murid-muridnya sudah tak sabar. Ia guru besar datang dari Allah, tapi kok hasilnya belum kelihatan. Kita belum jadi-jadi juga,” katanya.

Menurut dia, inti dari perumpamaan tadi bagi murid-murid-Nya, yang pertama hasilnya pasti ada, sedikit atau banyak. Yang kedua akan dapat banyak hasil jauh setelah itu, setelah kita menaburkan benih. Oleh karena itu jangan pernah putus asah dan lelah. Untuk pengabdian pada sesama.

haNy. Lusia Adinda Lebu Raya mengenakan tenun ikat NTT berwarna merah. (ist)

Sementara itu kisah Elia, menurutnya, pada bacaan pertama menunjukkan bahwa mengejar sesuatu yang besar atau tinggi itu butuh usaha yang besar dan berjenjang. Sebab jika kita terserang deman atau malaria, kita sebenarnya bukan tidak bisa makan, tapi karena tidak mau makan.

“Elia juga tadi terbaring lemas, sebenarnya bukan karena tidak bisa makan. Tapi karena dia lagi putus asa tidak mau makan. Elia juga bukan lapar dan lelah, tapi kehilangan gairah untuk hidup. Dia ingin mati saja. Tapi melalui Malaikat, Allah memberikan suntikan baru dan motivasi. Dan setelah mendapat itu, Elia mampu berjalan selama 40 hari 4o malam sampai mencapai puncak gunung Horeb. Di puncak gunung itu, di ujung dari pendakiannya, Yahwe memberi Elia tiga tugas penting….” urainya.

Baca Juga :  Yusril "Menggurita", Tokoh Masyarakat Jakarta Utara Nyatakan Dukungannya...

Untuk mengejar sesuatu yang besar, cita-cita yang tinggi, kata dia, butuh tekat yang luar biasa teguh. Jangan cepat putus asa dan tak berani hadapi tantangan.

“Itulah yang telah dihadapi Pak Frans, sang Guru Besar ini. Selama 33 tahun!” tegasnya.
Namun itu saja tidak cukup. Kita butuh asupan gairah rohani dari Allah, dan tidak hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Karena itu kita hadir di sini dan memulai semua dengan perayaan ekaristi. (bersambung)

Pater Rektor Unika Kupang menambahkan, banyak orang sekarang ini menyerah sebelum berusaha, lari dari kenyataan. Cengeng menghadapi kesulitan-kesulitan yang kecil. Baru satu hari kirim makan terlambat dari rumah, status galau selama satu minggu. Cengeng dari yang tetek benget dan lari dari kesulitan-kesulitan yang besar.

limaMantan Wakil Gubernur NTT Esthon L. Foenay. (ist)

“Kita perlu mendengar dengan pikiran dan hati yang terbuka. Ini mungkin pesan dari seorang mantan murid kepada gurunya yang sudah menjadi Guru Besar. Pesan dari perumpamaan itu bukan terletak pada lidah orang yang menyampaikan, tapi terletak pada telinga orang-orang yang mendengarkan,” katanya.

Menurutnya, ada bermacam cara untuk mendengarkan dan memperoleh kebenaran. Apalagi kebenaran atas Sabda Ilahi. Ada yang mendengar dengan hati dan pikiran yang tertutup. Bisa karena prasangka, sebab kalau sudah tidak suka dengan orang, apa pun yang disampaikan orang itu salah semuanya. Dia belum omong saja sudah dibilang salah. Dan banyak orang yang masuk dalam daftar itu. Ada yang tertutup karena kebanggaan berlebih, kesombongan pada kemampuan diri; kau tahu apa? Omong tentang ini beta pung bagian, lu itu bidang lain. Kalau sudah tak suka dengan orang itu, apa yang disampaikan semuanya salah. Dia belum omong saja, kita sudah menetang lebih dahulu!

“Ada yang juga tertutup karena kesombongan pada diri. Omong tentang ini Beta pung bagian, Lu itu bidang lain. Tidak boleh campur-campur. Atau juga takut akan hadirnya kebenaran yang baru, yang membuat kebenaran yang sudah lama kita pegang menjadi kadaluwarsa. Ada juga yang menutup hati dan pikirannya karena tidak relah mendengar kebenaran yang tidak mendukung orang-orang atau hal-hal yang dia cintai, sebab dia sudah pegang kebenaran itu selama bertahun-tahun. Begitu ditantang dia langsung tak suka; dia sudah pegang kebenaran itu sekian lama, begitu ditantang dia langsung tak terima. Padahal orang bijak mengatakan, tidak ada kebutaan yang lebih parah daripada orang buta yang menolak untuk melihat,” katanya.

Baca Juga :  Antasari Azhar Buka Suara soal Peran Rani Juliani dalam Kasusnya
neAnak muda Manggarai Raya mengantar para Pastor menuju mimbar. (ist)

Kebenaran itu, lanjut dia, selalu lebih luas daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Tidak ada orang yang mengetahui seluruh isi kebenaran. Jangan pernah sombong dengan apapun yang kita capai secara akademik.
Pater Julius juga mengingatkan soal ‘Guru Besar’ dan ‘Guru Kecil’. Menurutnya, ‘Guru Kecil’ itu tahu banyak hal tapi sedikit-sedikit. ‘Guru Besar’ adalah orang yang tahu satu hal tapi tahu sangat mendalam.

Kunci dari semuanya, kata dia, adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran itu tak terbatas, sementara kemampuan pemahaman kita sangatlah terbatas.

Pater yang asal Manggarai ini pun mengingatkan pendapat John Mosley. Dalam terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, toleransi berarti gunakan semua kemungkinan kebenaran. Ada pengakuan bahwa kebenaran dapatinggal di tempat yang berbeda-beda, tidak hanya di tempat kita.

Dirinyapun memberikan contoh, karenanya tidak perlu ada yang bertengkar soal pertanyaan ini. Seperti cerita guyon: “Apakah anak kamu yang di Jakarta itu security?” Lalu dijawab, “Tidak e, dia itu Satpam!”

“Kebenaran itu juga ada pada bahasa yang asli yang tidak biasa pada kita. Bahkan dari kesepakatan-kesepakatan konvensional. Sikap picik bersumber dari sikap bahwa kebenaran itu berasal dari apa yang dia lihat. Dibalik kebenaran pribadi atau kelompok tidak ada lagi kebenaran yang lain,” lanjutnya.

sioAnak muda Manggarai Raya mengantar persembahan. (ist)

Bahkan Pater pun mengungkapkan perihal tiga ciri manusia moderen, yang membuat manusia makin lama semakin tidak bermutu. Pertama, mendengar tapi dangkal, tidak berakar. Ada banyak yang memulai sesuatu tapi cepat bosan. Salah satu cirri khas, Mahasiswa cepat sekali mengganti nomor HP. Satu minggu atau satu bulan kemudian ganti lagi. Sesuatu tak pernah dipegang untuk waktu yang lama. Memulai sesuatu tapi cepat bosan, apalagi yang namanya pekerjaan.

Kedua, lanjutnya, memulai dengan semangat tapi begitu ada kesulitan langsung menyerah; dan ketiga, pungkas dia, memulai tapi tidak pernah tuntas. “Oleh karena itu kita semua diajak untuk mendengar dengan hati yang terbuka tapi juga dengan kedalaman dan pemahaman pengertian tentang kebenaran apapun yang kita terima,” sambung dia.

Kebaikan dan kebenaran itu harus dibuktikan oleh perbuatan nyata untuk semakin memuji dan memuliakan nama Tuhan. “Ini baru permulaan, sang Guru Besar!” pungkas Pater yang sangat welcome kepada siapa saja yang mengunjunginya di Asrama Souverdi, Kelurahan Oebufu, Kota Kupang ini. **

 

Penulis: Vincent

Pencarian Terkait:

  • seminari kisol

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button