Home / Populer / Begini Kronologi Pemukulan Dita Aditia Ismawati versi Masinton

Begini Kronologi Pemukulan Dita Aditia Ismawati versi Masinton

Foto: Redaksikota.com.

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Pemukulan asisten pribadi (Aspri) Masinton Pasaribu, Dita Aditya Ismawati menyisakan misteri siapa yang sebenarnya berbohong. Dalam siaran pers yang diterima Redaksikota, Abraham Leo Tanditasik (Abe) menyampaikan kronologi kejadian lebamnya pelipis Dita yang disebut-sebut terkena pukulan Masinton.

Ia menyampaikan bahwa kejadian tersebut bermula saat dirinya bersama Masinton Pasaribu akan kembali ke Rumah Dinas Anggota DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan. Saat pukul 23.00 WIB, Abe mengaku mendapatkan telefon dari Dita agar dijemput di sebuah bar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

“Dita minta dijemput oleh saya ke Camden Bar di Jalan Cikini II Menteng, penjelasan Dita ke saya via telepon minta dijemput karena kondisinya mabuk berat,” kata Abe dalam siaran persnya, Minggu (31/1/2016).

Saat menyampaikan permintaan Dita tersebut, Masinton meminta agar langsung menjemput dengan mobil yang dikemudikan Abe. Sontak laju kendaraan salah satu anggota dewan dari Komisi III DPR RI tersebut mengarah ke bar tersebut untuk menjemput Dita.

Sampai di Camden Bar, sang supir Masinton, Husni langsung menjemput Dita di dalam bar dan mengajaknya menuju mobil yang ditumpangi Masinton dan Abe tersebut. Lantaran mabuk berat, Dita pun meminta agar Husni mengambil mobilnya yang ia parkir di halaman kantor DPP Partai Nasdem.

“Dita menuju mobil Pak Masinton dalam keadaan sempoyongan. Dita langsung duduk paling depan di samping kiri (sebelah stir/kemudi). Dita minta bantu ke sopir agar mobilnya diambilkan di lokasi parkiran kantor DPP Partai Nasdem di Menteng,” lanjut Abe.

Usai mengambil mobil tersebut, Husni langsung mengemudikan mobil Dita untuk menuju pulang, sementara mobil Masinton dikemudikan Abe dan di dalam ada Dita yang duduk di samping supir, sedangkan Masinton berada di bangku belakang.

Baca Juga :  Dituding Antek Kapitalis, Gubernur NTT Didesak Cabut Ijin Tambang PT SMR

Keluar dari halaman kantor DPP Nasdem tersebut, mobil Masinton dan Dita pun berjalan beriringan. Namun sangat disayangkan saat dalam kondisi mabuk berat, Dita malah histeris dan sempat muntah-muntah di dalam mobil Masinton sambil berulah.

“Disaat mobil yang saya kemudikan melintasi jalan Otista (Otto Iskandardinata), sambil berteriak histeris Dita bergerak tiba-tiba menarik setir mobil yang saya kemudikan, mobil oleng ke kiri jalan (nyaris menabrak trotoar),” kata Abe.

Merasa ulah Dita bisa mengancam keselamatan mereka bertiga, Abe pun mengaku menepis tangan Dita yang mencengkeram tangannya dengan kencang. Sayangnya, tepisan Abe tersebut malah menghantam pelipis Dita sampai memar lantaran terkena benturan batu akik yang dikenakannya.

“Dengan sigap dan refleks, saya melakukan pengereman mendadak sambil menepis tangan Dita yang dalam posisi menarik setir/kemudi mobil. Tepisan tangan kiri saya mengenai tangan dan wajah Dita. Dita teriak histeris di dalam mobil, Pak Masinton berupaya untuk menenangkan Dita,” sambungnya.

“Sesampainya di depan MT Haryono Square (perempatan lampu merah Cawang) Dita turun, wajahnya agak memerah dan lebam karena terkena tepisan tangan kiri saya yang memakai cincin batu akik. Lalu Pak Masinton menawarkan Dita untuk berobat ke Klinik terdekat,” kisahhnya lebih lanjut.

Melihat pelipis Dita lebam, Masinton pun menawarkan agar Asprinya itu mendapatkan perawatan medis, sayangnya Dita saat itu menolak dan memilih untuk berobat sendiri. Dan esoknya, Dita meminta kepada Abe agar diberikan ongkos berobat oleh Masinton Pasaribu.

“Besoknya tanggal 22 Januari 2016, Dita menelepon saya minta dibantu biaya pengobatan karena ingin dirawat di rumah sakit mata Aini di daerah Kuningan. Permintaan Dita saya sampaikan ke Pak Masinton dan dibantu biaya perawatan di RS mata Aini,” tandasnya.

Baca Juga :  "Car Free Day Jakarta sebagai ajang Jahili Polisi?"

Di rumah sakit tersebut, Abe menambahkan jika Dita diberikan pelayanan rawat inap selama dua hari. Ia pun diberikan izin cuti kerja selama masa pemulihan. Dan usai pengobatan itu, Dita baru diperbolehkan untuk pulang dan beraktivitas seperti biasa.

“Selama masa pemulihan, Dita disarankan untuk sementara istirahat dan diperkenankan ijin tidak masuk kerja,” ungkap Abe. (mib)

Sumber: Redaksikota.com

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button